Serpihan Kecil Dari Surga, Dieng Plateau

Serpihan Kecil Dari Surga, Dieng Plateau

adipati_yunus
no comments. 239

Menurutku traveling bukan hanya pengalaman ketika berada di tempat wisata. Namun traveling adalah pengalaman yang didapat selama perjalanan baik ketika berangkat, kemudian di tempat wisata maupun ketika perjalanan pulang. Jadi traveling is about the journey not destination. Seperti travel story yang akan aku bagikan berikut ini adalah pengalaman yang tak terlupakan ketika pulang dari Dataran Tinggi Dieng Plateau, pengalaman ketika menemukan serpihan kecil dari surga. Berawal dari rasa penasaran ketika berangkat ke Dieng Plateau lewat jalur Kajen Pekalongan dan sudah sampai di kecaatan Batur Banjarnegara, kecamatan yang berada di sebelah barat dieng. Pertigaan sebelum memasuki pasar Batur ada papan petunjuk jalan kalau lurus Pekalongan kalau kanan Dieng Plateau. Saat itu aku yang naik motor berdua dengan someone memutuskan nanti pulangnya lewat jalan tersebut, jalan yang baru kami ketahui dan sama-sama menuju Pekalongan.

Kabut tipis merayap menuruni bukit dari ketinggian, grimis tipis mulai turun meringankan beban langit. Begitulah cuaca Dieng Plateau yang tidak menentu, menemani perjalanan mengunjungi tiap-tiap obyek wisata. Mulai dari komplek Candi Arjuna, Kawah Singkidang, dan Telaga Warna. Karena cuaca yang labil, pulang dari dieng sudah jam 4 sore dan cuaca saat itu hujan turun cukup deras. Aku memakai jas hujan sudah dari tempat parkir, jalan aspal yang basah kami lalui ditemani rintik hujan dan kebun sayur di sepanjang jalan. Sampai di pasar Batur aku perhatikan baik-baik papan petunjuk jalan yang baru kuketahui tadi ketika berangkat, sampai di pertigaan tersebut aku ambil kanan untuk mencoba jalan pulang yang baru kuketahui. Sebenarnya aku sedikit ragu untuk melewati jalan tersebut karena belum tau apa-apa tentang jalan yang akan dilewati kemudian jam sudah setengah lima, ditambah cuaca hujan sehingga langitpun gelap. Namun rasa was-was dan ragu kalah dengan rasa penasaran karena insting travelingku mencium aroma petualangan.

Udara dingin dari rintik hujan yang berjatuhan, namun langit tetap kukuh dengan awan hitamnya. Aku lega walaupun bukan jalan utama, aspal jalanan yang menyambut setelah masuk pertigaan aspalnya halus dan rata tidak berlubang. Jalan cukup sempit sehingga ketika dua mobil berpapasan harus mengalah salah satu untuk berhenti dan sedikit minggir keluar aspal memberi jalan untuk mobil dari arah lawan. Sekitar satu kilo sudah kami lewati, jalan mulai sepi berkelok, kanan kiri pohon-pohan besar dan tanaman yang lebat mulai menyambut. Aku kira jalanan bakal rata terus, dugaanku salah karena didepanku sekarang adalah tanjakan berkelok dengan aspal rusak tergerus oleh aliran air hujan. Saat itu suasana sangat mencekam karena kami benar-benar berada ditengah hutan tanpa ada kendaraan lain yang melintas, sepanjang jalan aku terus membaca berbagai doa yang aku bisa dan berharap ada kendaraan lain yang juga melintas. Beberapa kali suara petir yang menggelegar dikejauhan menambah ngeri suasana, sebuah paket lengkap dalam perjalanan yang mencekam. Langit gelap disertai hujan berpetir, jalan rusak berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman dan jalan sunyi tanpa ada pengendara lain. Hanya deru mesin motor dan suara serangga khas pegunugan yang menemani perjalanan.

Semburat cahaya menjadi harapan, karena disetiap kesulitan pasti ada kemudahan dan setelah keadaan mencekam pasti ada hal yang menentramkan dan mendamaikan. Alhamduillah doa yang kami selalu panjatkan dikabulkan, sebuah sepeda motor datang dari arah berlawanan yang membuat harapan di hati makin kuat. Tak lama kemudian kami memasuki perkampungan walau masih jarang dan grimis masih menemani, hal tersebut membuat hati semakin lega dan rasa takut makin menghilang. Setelah beberapa kali keluar masuk pemukiman dan hutan, kami melewati sebuah jalan yang lurus dengan aspal yang halus, langit hitam masih menggantung tapi enggan menurunkan hujan. Terlihat dari kejauhan tepat di ujung aspal lurus terdapat dua gundukan tebing yang seolah menjadi gerbang, ujung awan hitam yang menggantung tepat di atas gundukan tebing. Sungguh saat itu seperi mendapat hidayah dan pencerahan, karena sumber cahaya hanya berasal dari ujung jalan lurus yang diapit dua gundukan tebing dan cahaya terang memancarkan semburat dari situ. Syukur, lega, merinding, dan tak henti-hentinya kami mengucapkan rasa syukur.

Sebuah keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena lebih indah dari kata yang paling indah, hanya mampu dirasakan dan hanya sekali itu bisa dirasakan. Dengan hati dan mulut masih mengucap syukur, sepeda motor melaju semakin dekat dengan sumber cahaya. Kini aku telah sampai di ujung jalan lurus dengan gundukan tebing dikanan dan kiri jalan, benar-benar aku sedang berada di pintu gerbang munuju surga. Ujung jalan yang berada di depanku ternyata adalah sebuah jalan menurun, jadi dari jauh memang terlihat seperti ujung dan selama perjalanan yang mencekam tadi berarti kami sedang mendaki di atas pegunungan. Motor aku hentikan dipinggir jalan tepat sebelum jalan menurun untuk melepas jas hujan dan menikmati serpihan kecil dari surga yang berada di tempat yang tidak aku sangka. Dibawahku membentang deretan pegunungan kokoh yang memanjang, berdiri gagah di kanan dan kiri dengan diselimuti hutan belantara yang masih sangat alami, pohon-pohon besar dengan akar yang menjuntai dari atas, hijau sepanjang mata memandang. Kabut tipis menyelimuti di kejauhan, rintik-rintik atap rumah di kota pekalongan terlihat sangat kecil dan garis pantai terlihat memanjang dari barat ke timur. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan.

Gemericik suara air mengalir, merdu suara alam yang berpadu menjadi sebuah orkesta luar biasa. Motor aku nyalakan dan kami lanjutkan perjalanan, jam menunjukkan pukul lima sore dan aku tidak tau sedang dimana dan berapa jam lagi sampai di Pekalongan kota tujuan untuk pulang. Turunan panjang berkelak-kelok kami lalui, pepohonan dan tumbuhan liar menjadi pembatas di kanan kiri jalan, suara hewan dan serangga yang bersahutan serta gemuruh suara air yang mengalir deras dari kejauhan menemani perjalanan pulang kami. Ucapan syukur tak henti-hentinya aku panjatkan karena diberi kesempatan merasakan nikmatnya kedamaian dan ketentraman di tengah hamparan ciptaan yang maha indah. Hatiku kembali dibuat takjub ketika melewati jembatan dan di sebelah kanan jalan air mengalir deras dari atas tebing, baru kali ini aku menyaksikan langsung air terjun di pinggir jalan. Sangat indah dan sayang untuk tidak diabadikan, namun mengingat waktu yang sudah sore kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tidak begitu jauh dari air terjun di pinggir jalan kami memasuki perkampungan di tengah hutan, dan saat ini kami berada di tengah-tengah antara puncak dan dasar pegunungan dengan begitu kami bisa menyaksikan keseluruhan hutan, dari bawah ketika melihat puncak dan dari atas ketika melihat dasar. Benar-benar tempat yang penuh kejutan yang membuat takjub, deretan pegunungan yang berlipat-lipat seolah menyimpan rahasia dan kejutan masing-masing. Ketika kami berada di ujung pemukiman, jalan yang kami lalui berada di pinggir tebing sehingga mampu mamandang sampai kejauhan. Seolah-olah tempat ini tau salah satu tempat yang sangat aku sukai dan membuatku berjanji kepada diri sendiri suatu saat nanti akan mengunjungi daerah ini lagi, yaitu ketika memandang sekeliling aku melihat di kejauhan pada punggung pegunungan sebelah kanan atas terdapat air terjun yang sangat tinggi membelah belantara, mungkin tingginya seratus meter lebih karena melihat dari kejauhan saja sudah terlihat tinggi. Belum habis pujianku untuk air terjun di sebelah kanan atas, ketika aku melihat kekiri bawah dari kejauhan terdapat empat tingkat air terjun yang sangat memukau. Takjub dan merinding bisa berada di tempat yang begitu indah ini. Perjalanan aku lanjutkan sambil menikmati pemandangan dan tempat ini memang surganya hutan dan air terjun, di puggung-punggung pegunungan kanan dan kiri di kujauhan terlihat air terjun yang mengintip dari rimbannya hutan. Suara gemericik air sangat menentramkan di seanjang jalan, segala pujian tidak akan mampu untuk memuji hamparan surga yang sedang kami lalui.

Mentari sore kembali ke singgasana berganti posisi dengan rembulan yang anggun menawan. Ingin sekali berlama-lama di tempat ini namun situasi dan kondisi yang belum memungkinkan, jam sudah menunjukkan setengah enam tetapi kami masih di tengah hutan. Jalan terus kami susuri, berpindah-pindah dari pegunungan sebelah kanan ke sebelah kiri, melewati jembatan-jembatan yang kokoh dengan aliran sungai yang sangat deras dan diatas jembatan berlarian kera-kera yang masih liar. Aku yakin air terjun-air terjun tadi berkumpul membentuk aliran sungai ini. Saat ini kami sudah berada di dasar hutan beberapa kali keluar masuk perkampungan, pepohonan begitu lebat sehingga langit hanya bisa mengintip melalui celah-celah dedaunan. Puncak gunung sudah tidak terlihat, tertutup oleh lebatnya belantara hutan, walau sudah di dasar hutan namun kejutan dari tempat ini tidak ada habis-habisnya. Jalan menurun memutari tebing, sampai di tikungan selanjutnya di kiri jalan kami disuguhi air terjun dari cerukan tebing yang tidak begitu tinggi membentuk setengah lengkaran serupa dengan jalan yang melewatinya. Andai waktu masih siang aku pasti berhenti dan mengabadikan momen yang langka ini, namun mengingat sudah hampir jam enam sore kami tetap melanjutkan perjalanan supaya sampai rumah tidak terlalu malam. Setelah melewati lika-liku jalan yang sangat mengagumkan, kami sampai di jalan tanjakan yang terdapat gapura dari besi. Setelah melewati gapura tersebut aku sempatkan baca tulisan di gapura yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI EKOWISATA PETUNGKRIYONO PEKALONGAN”, pantas kalau tampat ini sangat indah dan masih sangat alami karena merupakan ekowisata dan kami berjanji pada diri kami bahwa suatu saat nanti kami akan kembali lagi mengunjungi tempat ini untuk berpetualang ke air terjun-air terjun yang sangat indah, barangkali bisa bertemu dengan bidadari yang sedang mandi hehehe.

No Comments

Leave a Reply