Merasakan Keistimewaan Jogja, Menapaki Eksotisme Magelang

Merasakan Keistimewaan Jogja, Menapaki Eksotisme Magelang

Didit027
one comment. 240

Jogja. Kota yang selalu menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung.  Kota yang berjuluk kota pelajar ini memiliki banyak sekali potensi wisata yang tak akan habis kita jelajahi. Dari wisata alam, terdapat pantai Parangtritis yang terjkenal sejak saya masih duduk di taman kanak-kanak dan Kalibiru yang menyejukkan mata, jiwa dan raga.

Kisah saya 2 hari 1 malam di Jogja selama long weekend sungguh menggoreskan pengalaman yang cukup mendalam. Dimulai dari kedatangan saya dari Solo yang berniat ingin berlatih menjadi Solo traveler. Saya pilih cara anti mainstream yaitu dengan menggunakan transportasi umum. Kedatangan saya di Jogja dengan menggunakan kereta api Prambanan Ekspress (Prameks) disambut dengan hingar bingar suasana stasiun Lempuyangan yang tak kan pernah memudar. Dari stasiun Lempuyangan saya memesan ojek online untuk mengantarkan saya ke hotel yang terdapat di bilangan Perumahan Timoho Asri.

 

Perasaan tenang setelah tiba di lobi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, dan segera saya membasuh diri dan kemudian mencari kuliner malam kota Jogja. Setelah mencari informasi melalui internet, banyak sekali kuliner malam yang ditawarkan kota Jogja, sehingga saya butuh waktu yang cukup lama untuk menentukan pilihan. Akhirnya saya memilih Gudeg Pawon sebagai tempat makan malam saya. Setibanya di lokasi Gudeg Pawon, sudah nampak antrian yang mengular, padahal waktu menunjukkan jam 21.30, sedangkan menurut info dari driver gojek yang saya pesan, Gudeg Pawon baru buka jam 22.00.

Filosofi mengantri, semakin lama mengantri, semakin terasa nikmat cita rasa makananya, hehe..

Suasana tempat makan tersebut membawa saya kepada kenangan masa kecil dimana memasak masih menggunakan tungku dengan kayu bakar. Menu gudeg yang disajikan pun juga masih panas karena belum lama turun dari tungku. Pawon berarti dapur / tungku. Itulah yang menjadi rahasia kenikmatan makanan khas Jogja tersebut. Dimasak diatas tungku dengan kayu bakar sebagai sumber apinya.

Suasana jadul Gudeg Pawon

Selesai makan, waktunya kembali ke hotel. Mengisi ulang tenaga untuk petualangan esok hari.

Keesokan harinya saya berencana akan mengunjungi candi Borobudhur. Dari hotel saya akan menuju terminal Jombor dengan menggunakan Transjogja. Sempat salah rute, tapi hal itu justru membuat saya keliling kota Jogja dengan nyaman dan murah. Dari pengalaman saya, bus tersebut sangat efektif untuk dipilih menjadi moda transportasi. Disamping murah dan nyaman, ada kebiasaan yang sangat jarang terjadi di Indonesia, yaitu mendahulukan perempuan hamil/bawa anak kecil, lansia, dan penyandang disabilitas. Sungguh luar biasa dan sangat membawa kedamaian melihat hal tersebut.

Ini di Jogja lho, bukan di luar negeri..

Dari terminal Jombor, ganti dengan minibus untuk menuju terminal Borobudhur.

Inilah minibus yang mengantar saya dari Jogja ke Borobudhur

Perjalanan sekitar 45 menit. Setelah sampai terminal Borobudhur saya jalan kaki menuju lokasi candi. Pendirian saya teguh waktu itu ketika banyak sekali tukang ojek, becak, dan delman yang menawari untuk menumpang. Karena memang feeling saya mengatakan dekat, hehe.. Sampai di candi, suasana cukup panas dan ramai dengan wisatawan yang didominasi oleh anak-anak (mungkin karena long weekend). Keadaan candi agak berbeda dari kunjungan saya yang terakhir tujuh tahun lalu. Untuk memasukinya, pengunjung yang memakai celana/rok pendek diwajibkan memakai sarung. Ada sedikit peraturan perihal pemakaian sarung, yang laki-laki memakai sarung dengan diikatkan di sebelah kanan sedangkan perempuan di sebelah kiri. Beberapa penjaga pun nampak standby menjaga candi. Keadaan candi juga lebih bersih. Meskipun lebih ketat, tapi saya setuju karena akan menjaga kelestarian cagar budaya warisan dunia tersebut.

Bangga candi Borobudhur adalah milik Indonesia

 

Usai mengunjungi candi, saya pulang ke Jogja dengan rute dan cara yang sama dengan keberangkatan. Minibus dari Terminal Borobudhur – Terminal Jombor terakhir jam 18.00 . Sampai di hotel kemudian mandi dan bersiap untuk berburu kuliner khas Jogja. Pilihan saya jatuh pada nasi rames Demangan yang cukup terkenal. Banyak sekali antrian pengunjung yang membuat penjualnya nampak kewalahan. Rasa pedas makanannya pun sukses membuat saya berkeringat . Makan di pinggir jalan pun terasa menyenangkan.

Magelang

Sederhana tapi tetap istimewa

Slogan “Jogja Istimewa” nampaknya pas melekat pada kota yang menjanjikan kenangan manis bagi pengunjungnya. Wisata kuliner, alam, budaya, petualangan dan sejarah semuanya tersedia disini. Sedangkan Magelang, kota kecil yang dipercaya untuk menjaga warisan dunia menawarkan wisata sejarah nan eksotis yang membuat kita terbang ke masa lampau.

Comment (1)

Leave a Reply