KETIDURAN DIKAWAH IJEN

KETIDURAN DIKAWAH IJEN

Vera
no comments. 146

Januari 2017, merupakan hari pembuktian diri saya di mana waktu itu saya melakukan solo travelling. Berawal dari meng-explore Kota Surabaya yang dilanjutkan ke Kota Banyuwangi.

Spot yang menjadi impian saya yaitu api biru dimana fenomena ini cuman ada dua di dunia. Persiapan saya sudah matang untuk melakukan perjalanan ini sampai saya ikhlas menerima resiko apapun yang terjadi asalkan saya bisa melihat langsung fenomena tersebut dengan mata sendiri yang biasanya saya hanya melihat lewat tv ataupun video orang lain. Perjalanan ke Kawah Ijen tidaklah sulit karena jalanan sudah baik dan bagus. Tidak ada angkot yang menuju kesana tetapi banyak masyarakat Banyuwangi terutama dekat stasiun yang menawarkan jasanya untuk mengantar kesana dengan motor ataupun mobil. Saat itu saya menggunakan ojek dengan harga yang murah untuk ke Kawah Ijen. Setelah diantar sampai pintu masuk, saya harus berjalan sendirian karena si masnya nunggu di pos pintu masuk saja. saya berjalan pukul 00.00 karena saya mengejar api biru yang ada saat pukul 03.00-04.00. Untuk mencapai spot api biru tidaklah mudah karena kita harus turun dulu ke kawah yang di mana belerangnya sangat menyengat. Setelah sampai dan berfoto-foto sebentar akhirnya saya naik karena asap belerang yang tebal yang membuat saya kesulitan bernafas. Saat saya menunggu sunrise, saya tertidur hampir 2 jam. Mungkin efek lelah atau dingin ya? Akhirnya saya tidak bisa melihat terbitnya matahari. Saya hanya menyaksikan matahari sudah ada di depan mata saya saja. Saya berfikir apa yang orang-orang fikirkan melihat saya tertidur karena setelah saya bangun saya melihat sudah banyak orang karena sebelumnya masih sepi karna masih turun untuk melihat api  biru. Sebenarnya kawah ijen bagi saya itu merupakan impian atau tempat untuk bermimpi ya?

No Comments

Leave a Reply