Dieng, Lebaran di Khayangan

Dieng, Lebaran di Khayangan

Didit027
no comments. 448

Khayangan disini bukanlah tempat tinggalnya Sang Kaisar Langit beserta ribuan pengawalnya. Khayangan yang saya maksud adalah Dieng. Tempat yang selalu membuat sulit move on dari suasana liburan. Segarnya udara dingin, pemandangan hijau, penduduk yang ramah serta penuh dengan atraksi wisata selalu memberikan kenangan manis di hati pengunjungya. Julukan Negeri Khayangan atau Negeri Para Dewa memang cocok diberikan kepada tempat ini karena terletak di ketinggian kira-kira 2.263 Mdpl.

Liburan lebaran tahun ini saya gunakan kesempatan untuk ngetrip ke dataran tinggi Dieng. Bersama dengan 3 orang teman, saya berangkat pada tanggal 27 Juni 2017 dari Solo menggunakan 2 motor. Niat kami menggunakan sepeda motor agar terhindar dari kemacetan rupanya tidak terlalu berjalan mulus. Kami tetap saja terjebak macet bahkan kemacetan parah terjadi di daerah Ampel, Boyolali. Rute berangkat Solo -> Boyolali (disini terjebak macet parah) -> Getasan -> Kopeng -> Grabag -> Kranggan -> Temanggung -> Parakan -> Tambi -> Dieng.

Sedikit cerita selama perjalanan menuju Dieng. Rute yang kami ambil melewati jalanan sempit pedesaan agar terhindar dari kemacetan. Niat kami menghindari macet tidak begitu efektif karena jalan yang kami lalui pun juga terbilang ramai. Sampai di jalanan menanjak di daerah Kopeng – Grabag hujan turun sangat deras sehingga jalanan berubah menjadi “air terjun”. Disini nyali sedikit menciut karena kami berjalan menanjak melawan arus air, namun the show must go on demi passion untuk traveling yang sudah membuncah (alah)

Video ini diambil ketika sudah berhasil melewati tanjakan menikung yang curam. Sempat tertahan selama beberapa menit karena beberapa mobil dari arah berlawanan yang perlu ekstra hati-hati karena jalan langsung berbatasan dengan jurang.

Singkat cerita, kami sampai di Dieng sekitar jam 15.30 dimana kami berangkat dari Solo jam 08.00. Yaak, perjalanan panjang nan lama kami diwarnai kemacetan dan juga kehujanan. Namun, perjalanan dengan tujuan wisata tak kan pernah terasa membosankan apalagi memberatkan (pakai kacamata,,gak nyambung, yess..)

Sesampainya di Dieng, saya langsung menghubungi mas Ahmad. Karena jasa beliau, saya masih kebagian penginapan mengingat libur lebaran. Waktu itu juga, saya mencari informasi sangat mendadak. Sekedar sharing saja bagi yang ingin informasi tentang penginapan bisa kontak beliau disini (bukan promosi, tapi orangnya “gampangan” jika dimintai tolong)

Kami menginap di Homestay Mawar Merah yang berlokasi di kawasan wisata candi Arjuna. Kami mendapat harga Rp. 350.000/kamar/malam. Harga yang cukup murah menurut saya mengingat sedang musim liburan. Fasilitas yang kami dapat antara lain air panas, teh & kopi yang available 24 jam. Disini juga ada layanan laundry dengan ongkos Rp. 5.000/kg, ada dry-cleaning juga. Kalian juga bisa nimbrung di ruang keluarga untuk merasakan tungku pemanas ruangan jika kalian merasa sangat kedinginan. Yang punya homestay pun juga sangat ramah dan helpful.

Ini beberapa penampakan dari Homestay Mawar. Bangunan simple tapi penuh kenangan manis.

Setelah take a break sejenak dan beres-beres barang yang basah karena kehujanan, kami langsung menuju candi Arjuna. Kami berjalan kaki selama kurang lebih 5 menit. Atraksi wisata candi Arjuna buka 24 jam, memuaskan bukan. Harga tiket waktu itu Rp. 15.000. Setelah masuk kedalam area candi, kami tak buang waktu untuk hunting foto. Ada 5 buah candi eksotis yang terdapat di kawasan wisata tersebut. Ada candi Arjuna, Semar, Srikandi, Sembadra, dan Puntadewa. Suasana sore itu cukup indah dan romantis, tak heran jika banyak pengunjung muda-mudi yang juga hunting momen keromantisan di candi tersebut (ah..jadi baper).

 

 

Ini yang paling bikin baper.

Sekedar informasi yang tidak begitu penting, kawasan candi tersebut tidak begitu banyak berubah ketika saya berkunjung pertama kali di tahun 2012. Masih banyak tanaman bunga terompet (asal ngasih nama, kalau betul ya syukur, hehe), penjual penthol dan siomay yang selalu standby, udara dingin semriwing, pemandangan hijau berbukit sejauh mata memandang (maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan). Perbedaan hanya terdapat candi yang paling utara, candi Puntadewa, yang sedang dipugar atau direnovasi (entahlah).

Puas mengeksplorasi kawasan candi, kami berjalan menuju penginapan untuk beristirahat dan mempersiapkan tenaga untuk wisata malam.

Pukul 20.30 kami keluar hotel dengan sepeda motor. Rencana awal ingin sedikit berkeliling daerah Dieng. Kami sempat berkeliling sebentar kearah PLTU namun kami langsung balik arah karena kondisi jalan yang semakin sepi.

Gambar diatas bukan gambar penampakan hantu ya. Maaf situasi memang gelap (ngeles)

Rupanya yang menjadi pusat keramaian hanyalah area pasar (area penginapan kami). Akhirnya kami balik arah menuju area penginapan. Penginapan kami dekat dengan food court. Terdapat warung mi ongklok, tongseng, dan ayam bakar. Masih banyak juga yang berjualan makanan di pasar. Lokasi pasar pun juga tidak terlalu jauh, paling hanya 5 menit jalan kaki. Kami memutuskan makan di warung mie ongklok, karena kami lihat yang paling ramai. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam lebih beberapa menit, akhirnya pesanan kami jadi (lama ?? iya, teman-teman saya sampai menggerutu kepada waiternya, bahkan ada pengunjung lain yang sampai marah). Saya memesan semangkok mie ongklok + sate (3 tusuk) dan secangkir purwaceng (alasanya biar kuat melawan udara dingin malam itu, hehe..). Mie dengan kuah kental khas Wonosobo tersebut langsung raib beserta satenya dalam hitungan detik. Bumbu rempah yang terasa kuat serta tekstur mie yang pulen membuat saya kalap. Seporsi mie ongklok + sate ayam 3 tusuk dihargai Rp. 16.000 dan Rp. 8.000 untuk secangkir purwaceng.

Ini tempatnya. Paling rame diantara warung-warung sekitarnya.

Mie ongklok sesaat sebelum dieksekusi.

Purwaceng. Rasanya ada pedes-pedesnya. Ehm..

Setelah selesai makan, kami kembali ke penginapan untuk sekedar berbincang-bincang di ruang tamu sambil menikmati udara dingin malam itu. Kemudian kami menuju kamar masing-masing untuk istirahat. Kami bangun jam 03.30 karena kami ingin mengunjungi primadona pariwisata Dieng.

Yaak!! The Golden Sunrise Sikunir

Ini kedua kalinya saya berkunjung, dan saya tetap excited. Berbekal dengan jaket dan celana dobel, kaos kaki, dan kaos tangan, serta masker, saya menyatakan siap bertempur menerjang hawa dingin yang ekstrim pagi itu. Kami memacu sepeda motor kami menuju bukit Sikunir. Kondisi pagi itu sangat padat dan macet saat memasuki kawasan bukit Sikunir. Untuk mencari tempat parkir motorpun sangat susah. Saya perlu parkir jauh di samping telaga kecil (namanya kalau tidak salah telaga Cebong).

Sekitar jam 04.00 sudah sangat penuh sesak

Setelah memarkir motor, kami langsung memulai pendakian. Situasi sangat jauh berbeda, banyak warung-warung makan yang dibangun di kaki bukit dan jalanya pun sudah menjadi jalan setapak yang dibuat dari semen. Wow! It’s getting better. Artinya antusiasme wisatawan terhadap Dieng meningkat dari tahun ke tahun.

SAYA IKUT BERBAHAGIA !!

Perjalanan mendaki waktu itu masuk dalam kategori padat merayap. Banyak sekali yang ingin mendaki dari anak-anak sampai orang (yang benar-benar) tua. Kami sampai di puncak Sikunir setelah pendakian kurang lebih 45 menit. Kondisi puncak sudah sangat padat bagaikan antri sembako gratis. Hawapun menjadi sedikit hangat karena ada banyak orang. Dan waktu yang dinanti pun tiba…

Terakhir kali saya ke Sikunir, suasana masih belum begitu banyak pedagang. Tapi sekarang sudah banyak warung-warung makan yang tersedia.

Sampai puncak, kami sudah ditunggu dengan pemburu “telor ceplok” yang lain.

Dengan sedikit berdesak-desakan dengan senggol kanan-kiri, sayapun dapat tempat terdepan (kibas rambut)

Subhanallah..


Puas menikmati momen indah nan romantis, kami turun gunung. Kondisi waktu turun lebih padat dibanding saat mendaki. Ibarat lalu lintas sudah macet. Perlu waktu lebih lama bagi kami untuk turun karena macet dimana-mana.

Nih kemacetan di bukit Sikunir

 

Kondisi padat merayap di jalur pendakian bukit Sikunir. Mungkin dari kalian ada dalam video tersebut ? hehe

Musisi jalanan ini hampir ada di setiap lokasi wisata. Cukup menghibur.

Setelah sukses menembus kemacetan pagi itu, kami mencari sarapan di restoran di daerah pasar. Disini menu-menu yang ditawarkan mayoritas masakan jawa, seperti mie, nasi goreng, dan soto. Saya memesan seporsi soto ayam dan segelas teh hangat. Dan lagi-lagi, kami berempat harus menunggu sekitar 1 jam lebih beberapa menit untuk makan. Padahal, pengunjung restoran pagi itu hanya kami. Ada apa dengan pelayanan rumah / warung makan didaerah tersebut ? Mengapa serba menunggu 1 jam ? haha.. (skip, tidak perlu dijawab). Selesai makan, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Ini tempat sarapan kami.

Selanjutnya kami cek out jam 11.00. Untuk pulangnya kami memilih rute Dieng – > Wonosobo -> Parakan -> Temanggung -> Secang -> Ambarawa -> Bawen -> Salatiga -> Boyolali -> Solo

Sebelum perjalanan pulang, kami mengunjungi Telaga Warna dan Batu Ratapan Angin. Kami tidak terlalu menghabiskan banyak waktu di kedua obyek wisata tersebut. Hanya sekedar ambil foto kemudian pulang karena jalanan di area lokasi wisata sangat macet dan padat. Meskipun naik motor, kami perlu beberapa menit untuk bergerak. Sebelumnya kami ingin mengunjungi Kawah Sikidang juga, tetapi kami batalkan karena kondisi macet parah yang tidak memungkinkan. Saya tidak mengeluh karena saya menganggap itu bagian dari seni traveling (wezzeh..)

Foto ini diambil dari depan loket Telaga Warna. Kondisi macetnya cukup parah.

Dari Dieng, perjalanan pulang kami mengambil rute melalui Curug Sikarim. Saya dapat informasi ini dari beberapa penduduk lokal. Rute tersebut bisa menghemat sekitar 30 menit perjalanan menuju Wonosobo. Namun jalan yang saya lalui nantinya rusak parah. Setelah diskusi kecil, kami akhirnya memutuskan setuju untuk melalui rute Curug Sikarim. Menit-menit awal jalanan rusak tersebut masih bisa kami atasi, kami masih bisa tertawa haha-hihi karena rasanya seperti naik kuda, tapi tak lama setelahnya…

Oh My God !!

Jalanan itu ternyata RUSAK PARAH !!

 

 

Sikon waktu itu jalanan yang menurun tajam plus tikungan-tikungan yang sudah tidak mesra
lagi. Ditambah lagi bebatuan tajam dan licin (karena memang saat itu hujan) menjadi
jalan yang harus dilalui. Batas kiri dan kanan jurang tanpa ada pengaman sama sekali.
Silent Hill. Sikon yang sangat cocok untuk menggambarkan suasana jalanan sore hari di
tempat tersebut dengan gerimis berkabut tebal, perkebunan yang (sepertinya) sudah
ditinggalkan selama bertahun-tahun, beberapa jembatan yang kesanya hampir rubuh,
jalanan yang sesekali dipenuhi dengan rumput gajah, serta bangunan lawas yang membuat
merinding ketika melewatinya. Sunyi senyaplah yang menjadi backsound kami. Selama perjalanan di jalan tersebut, kami hanya berjumpa dengan manusia tulen 3x (untungnya tidak bertemu dengan manusia jadi-jadian)
Saran jika ingin melalui jalan ini
1. Urungkan niat atau pikir 100x terlebih dahulu
2. Apabila memang ingin merasakan sensasi ngetrip yang ekstrim dan sedikit survival juga mistis, pastikan motor Anda dalam kondisi fit 100 (terutama rem dan ban).
Kami berhenti beberapa kali untuk mengistirahatkan “kuda” kami, rem motor temen saya waktu itu sempat ngeblong. Setelah perjalanan kurang lebih 2 km atau sekitar 1 jam, telah sampailah kami disaat yang berbahagia dengan selamat sentosa (terima kasih UUD 45, saya kutip sedikit kalimatmu)

Sesampainya di Wonosobo, kami langsung mencari tempat makan. Setelah clingak-clinguk di sepanjang jalan Dieng – Wonosobo, kami memutuskan untuk berhenti di Banyu Anget. Konsep rumah makan ini cukup unik, dengan nuansa vintage ketika masuk. Kafe ini berada di lantai 2, dibawahnya ada car wash, minimarket. Diatas kafe ini juga terdapat tempat billiard.

Menu yang ditawarkan adalah masakan Jawa dan Jepang. Harganyapun relatif murah untuk ukuran kafe. Recommended lah. Kafe ini terletak di Jalan Dieng Km. 3 Kalianget, Wonosobo. Selesai makan dan beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Solo tercinta.

Dieng selalu bisa memberikan kenangan indah bagi saya. Hawa yang sangat dingin, pemandangan hijau sejauh mata memandang, penduduk lokal yang ramah, ketenangan suasana, beragamnya daya tarik pariwisata mampu menciptakan memori manis jangka panjang. Sejauh dan sesulit apapun medan yang harus saya lalui takkan mampu mencegah niatku untuk mengunjunginya lagi dan lagi. Potensi wisata yang berkembang dari waktu ke waktu juga patut diberi label plus. Pemerintah setempat artinya peduli untuk menjaga dan merawat atraksi-atraksi wisata sehingga meningkatkan jumlah wisatawan.

Nb. berdasar info yang saya dapat dari penduduk lokal, tiket untuk event Dieng Cultural Festival bulan Agustus 2017 mendatang sudah habis sejak pertengahan bulan puasa kemarin. Maaf bukan maksud hati membuat kecewa, tapi seperti itulah kenyataanya.

Numpang narsis

Kopi gratis dari pendaki yang lain.

 

No Comments

Leave a Reply