Ber(M)alam di Merbabu

Ber(M)alam di Merbabu

Didit027
no comments. 564

Udara segar, pemandangan hijau sejauh mata memandang, suasana tenang, nyanyian angin dengan backing vocal kicauan kebebasan para burung, meriahnya gemintang, mesranya sinar rembulan merupakan harta karun buruan saya kali ini. Bagi saya, hal-hal tersebut adalah salah satu harta titipan Tuhan yang tak akan bisa dibeli dengan uang dengan jumlah berapapun. Kali ini saya akan berbagi pengalaman pendakian saya ke gunung Merbabu. Pendakian ini saya lakukan pada 11 Februari 2017. Masih belum terlalu lama, jadi masih anget-anget pengantin baru gitu. Dalam pendakian ini, saya ditemani oleh lima orang teman yang tergabung dalam Be-One Badminton Club. Be-one badminton club adalah sebuah klub badminton dimana anggota-anggotanya mayoritas adalah mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang mana juga berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Tapi juga ada yang bukan dari UNS. Pokoknya klub tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Bagi yang mau bergabung kami akan menyambut dengan lapang dada, selapang rasa kasih sayangku padamu (ihikz).

Perkenalkan dulu teman-teman saya supaya lebih akrab dan juga sayang, hehe..

IMG_2219

Dari kiri ke kanan yang pertama adalah Dian, mahasiswa jurusan teknik UNS. Meskipun badan paling kecil, tapi dia yang bawa carrier selama perjalanan PP (pulang-pergi) yang berisikan beberapa kebutuhan bersama. Patut dapat gelar kecil-kecil cabe-cabean, eh cabe rawit, haha..

Kemudian ada Habibi. Mahasiswa transfer jurusan Pendidikan Olahraga UNS dan mang Tomi alumni jurusan ilmu hukum UNS pemilik smash cetar membahana. Sebelahnya ada saya yang tentunya paling ganteng dan menarik diantara semuanya. Dan yang paling pinggir adalah Usman yang merupakan “wadah” curhatan (bully-red).

Langsung saja saya cerita supaya yang membaca tidak mun***

Begini ceritanya…

Kami berlima berangkat dari Solo jam 08.00 pagi dengan meeting point di depan Lor In Hotel Solo. Yang namanya wong jowo pasti jam karet. Kami benar-benar mulai berangkat sekitar jam 09.00. Kami memilih jalur Selo, Boyolali. Perjalanan Solo – Selo menggunakan 3 motor. Dalam perjalanan kami berhenti sebentar untuk sarapan supaya kuat menghadapi kenyataan nantinya. Padahal rencana awal tidak ada acara sarapan, tapi kami ambil sisi positifnya saja, daripada nanti ada yang tidak kuat atau malah pingsan gara-gara merasakan kenyataan.

Sampai Selo sekitar jam 10.30. Jalanan waktu itu sudah selesai diperbaiki sehingga perjalanan lancar jaya laksana bus Sumber Raha*u. Namun, mulai memasuki Polsek Selo, jalan masih rusak. Kami mampir sebentar di rumah salah seorang teman untuk meminjam 1 sleeping bed, 5 matras, 1 kompor (Tips: Jiwa ngiriter harus selalu diterapkan ketika melakukan perjalanan, haha..)

Setelah selesai packing, kami menuju basecamp Gancik. Sebelum pendakian dimulai, kami melakukan registrasi dahulu. Registrasi ini penting untuk pendataan siapa saja yang melakukan pendakian. Jadi lakukanlah registrasi di pos yang tersedia sebelum dan sesudah pendakian untuk mempermudah pencarian tim SAR apabila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Kami juga diwajibkan membayar sebesar Rp. 11.000/orang. Dengan rincian biaya masuk kawasan wisata Gancik Rp. 5.000, sumbangan pengelola wisata alam Merbabu Rp. 5.000 serta asuransi pengunjung Gancik hill top Rp. 1.000. Setelah selesai registrasi, kami memarkir motor di basecamp pak Wandi, rumah penduduk yang paling ujung untuk menghemat tenaga. Tarif penitipan sepeda motor Rp. 5.000. Ritual sebelum melakukan pendakian adalah berdoa supaya lancar dan selamat selama pendakian. Hal ini juga penting dilakukan.

Baca Berita Lainnya:  Gemilang Magelang Hingga Historisnya Malioboro

IMG_2276

Proses registrasi mudah dan gak ribet

Langkah-langkah awal dari basecamp ke Gancik sangat bagus untuk pemanasan, tracknya yang selalu menanjak membuat ketahanan betis saya sangat diuji. Sampai di bukit Gancik, kami istirahat sejenak di tempat buatan mirip pendhopo sambil mengamati wisatawan domestik yang kebanyak kawula muda. Mereka tampak asyik berfoto-foto karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa pemandangannya sangat bagus. Pemandangan yang tersaji adalah gagahnya gunung Merapi yang tampak jelas serta lukisan kota Boyolali yang menakjubkan jika dilihat dari atas. Lokasi wisata baru tersebut sudah dipenuhi beberapa pedagang makanan. Hal yang positif memang karena mengembangkan potensi ekonomi penduduk sekitar. Semoga saja pedagang dan pengunjung sama-sama bertanggung jawab memelihara kebersihan lokasi wisata tersebut kedepanya.

Puas meregangkan otot, kami melanjutkan perjalanan. Kami disambut oleh hijaunya perkebunan sayur milik penduduk lokal. Segarnya bermacam sayuran yang ditanam membuat hati saya bergejolak untuk “meminjam” sayuran tersebut untuk dibawa ke atas tapi niat dalam otak saya urungkan karena tak jauh terlihat petani yang sibuk mencacah rumput dengan sabit. Melihat sabit yang dibawanya langsung teringat dengan film Friday the 13th.

Perjalanan kami diselingi dengan banyak istirahat, karena memang 3 diantara kami masih amatir (sengaja nama tidak disebutkan, hehe..) namun diwarnai dengan hangatnya kebersamaan dan persahabatan ditambah pemandangan yang semakin indah dan udara yang semakin dingin.

IMG_2198

Semakin banyak istirahat, semakin kuat, haha..

IMG_2226

Setelah banyak istirahat, wajah-wajah nampak sumringah, hehe..

Sekitar pukul 15.30 kami sampai di Watu Tulis, kami memutuskan untuk segera mendirikan tenda di tempat tersebut karena cuaca sudah sangat mendung. Waktu itu tempat masih sepi, hanya ada 2 tenda yang sudah berdiri.

IMG_2235 IMG_2237 IMG_2239

Persiapan membuat tenda

IMG_2307

Meskipun masih amatiran, hasilnya tidak begitu mengecawakan dunk. (FYI: Tenda kami yang berwarna biru)

Dan setelah selesai mendirikan tenda, hujanpun datang, untung tidak deras. Hujanpun juga tidak lama. Setelah hujan reda kami memasak mie instan dan membuat kopi untuk menghangatkan diri. Cuaca sudah sangat dingin. Selesai dengan urusan perut, kami keluar tenda untuk jalan-jalan ke daerah sekitar sambil melihat beberapa pendaki lain yang sedang mendirikan tenda.

Dan sore itu, kami mendapatkan hal yang diluar dugaan kami. Hal yang telah pupus karena cuaca sempat mendung dan hujan.

IMG_2362

 

IMG_2241

Yapp…Hal tersebut adalah SUNSET.. !!

Entah kenapa waktu itu saya begitu senang melihat sunset. Faktor tempat dan perjuanganlah yang mungkin membuat sunset tampak lebih cantik waktu itu.

Baca Berita Lainnya:  Sego (Nasi) Pecel Sarangan

Setelah sang surya tenggelam, kamipun kembali lagi ke dalam tenda. Kami mengisi waktu dengan main kartu. Kami juga masak mie instan dan membuat kopi lagi untuk menu dinner. Rencana malam itu kami akan membuat api unggun ala acara makrab mahasiswa baru namun batal karena kondisi angin yang cukup kencang. Akhirnya satu per satu dari kami tertidur.

Tengah malam kami terbangun gara-gara angin kencang yang tadi berubah menjadi badai. Kami tidak bisa tidur karena pasak-pasak penahan tenda kami beberapa ada yang lepas sehingga membuat tenda seolah memberontak ingin melepaskan diri dari kami, haha.. Waktu saya keluar karena ada panggilan alam, pemandangan sangat indah. Pendaki-pendaki yang lain tidak ada yang terlihat di luar tenda sehingga keadaan sepi. Bulan dan bintang tampak sangat terang seakan berebut mencari perhatian saya dengan cahayanya yang indah. Tetapi malam itu, hawanya juga sangat dingin sampai membuat saya menggigil. Hal tersebut tidak memungkinkan untuk di luar tenda menikmati pertunjukan sang dewi malam beserta teamnya. Sedikit kecewa, tapi jika saya paksakan saya bisa terkena hipotermia. Badai berlangsung sepanjang malam dan sukses membuat kami meronda malam itu.

 

IMG_4999

IMG_2320

Sedikit gambaran ketika malam hari di Watu Tulis.

Badai baru mulai mereda pukul sekitar pukul 04.00 itupun sesekali masih ada angin besar. Saya keluar sejenak untuk melihat pemandangan di luar tenda. Tampak pendaki-pendaki yang mulai perjalanan menuju puncak. Waktu itu saya sudah tidak ada hasrat lagi untuk menuju puncak karena disamping kondisi alam yang sedang badai, saya juga tidak tidur semalaman. Jadi saya memutuskan tidur dan menjemput impian.

Saya bangun dengan rasa malas keesokan paginya. Bagaimana tidak, saya hanya tidur selama kurang lebih 3 jam. Ketika keluar tenda, Watu Tulis sudah dipenuhi dengan tenda. Bahkan ada tenda yang disampingnya terdapat bendera Malaysia. Makin bangga dengan keelokan alam gunung Merbabu sampai-sampai menarik wisatawan mancanegara.

Keesokan paginya, kami bangun dan berjalan-jalan di sekitar tenda untuk mencari sunrise. Meskipun sudah terlalu siang untuk disebut sunrise tapi keadaan tersebut sudah cukup membuat kami menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam untuk hunting foto.

IMG_2257

IMG_2255

IMG_4996

IMG_2326

Beberapa view yang bisa kami ambil pagi itu.

Selesai berfoto, kami memasak mie dan membuat kopi. Waktu itu saya sudah enek dengan mie instan. Tapi mau bagaimana lagi, kami semua hanya membawa mie instan sebagai persediaan logistik.

Pukul 09.00 kami memulai perjalanan untuk turun gunung. Perjalanan turun kami tidak memerlukan banyak istirahat seperti waktu mendaki. Mungkin karena track yang menurun sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga. Kalaupun kami berhenti, paling juga untuk ambil foto pemandangan sekitar. Sempat kehujanan ketika akan sampai di bukit Gancik. Kami berteduh sebentar di lokasi pembuangan sampah yang diperuntukkan bagi para pendaki yang turun dari atas gunung. Ini nih, yang perlu kita manfaatkan secara maksimal. Jadi bawalah serta sampah-sampah kalian ketika menuruni gunun. Buanglah sampah yang sudah tersedia di area hutan lindung agar tidak mencemari lingkungan gunung yang sudah asri. Ingat, gunung milik kita bersama, menjaga kelestarian lingkunganya pun juga tanggung jawab kita bersama. Jadilah pendaki gunung yang beretika! (turun mimbar). 

IMG_2270

IMG_2269

Ini perjalanan turun gunung kami. Tak lupa kami membawa serta sampah yang sudah kami hasilkan. Keren kan.

Baca Berita Lainnya:  Gemilang Magelang Hingga Historisnya Malioboro

Kami melanjutkan perjalanan ketika hujan sudah agak mereda. Tapi setelah melewati lokasi wisata bukit Gancik, hujan kembali turun dengan derasnya. Untung lokasi kami sudah dekat dengan warung kopi yang letaknya sebelum tandon mata air. Kami berteduh selama kurang lebih setengah jam sambil menikmati hangatnya kopi hitam, renyahnya gorengan yang baru diangkat dari penggorengan, dan pemandangan muda-mudi yang bermesraan diantara kami. Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan ? (Nulis ini jadi ingin mendaki lagi). Akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan sedikit kehujanan, karena kalau tidak nekat bisa kemalaman sampai Solo. Sekitar jam 15.00 kami sampai di basecamp. Kami disambut oleh penjaga rumah yang ramah supaya membeli daganganya. Trik marketing yang bagus, haha.. Kamipun membeli beberapa minuman hangat.

Di basecamp tersebut juga ada beberapa pendaki lain yang baru saja turun. Setelah beristirahat sejenak sambil menunggu hujan reda kamipun pulang menuju Solo.

Ini sedikit informasi dari saya, siapa tahu diperlukan, hehe.

IMG_4985

Ini tenda yang kami sewa

IMG_4986

Daftar kebutuhan yang ditanggung bersama

IMG_4984

Ini daftar harga persewaan peralatan mendaki

Kami menyewa peralatan mendaki di toko persewaan “Kentingan Outdoor” yang letaknya di area belakang UNS.  Jl. Antariksa 2, Kentingan Jebres, Surakarta. Depan kafe Arjes Kitchen. Untuk lebih jelasnya silakan cari tahu sendiri di kentinganoutdoor.blogspot.co.id. Bagi pendaki newbie seperti kami, silakan konsultasi dengan mbak-mbaknya yang menyewakan. Ada baiknya juga kalian cek dulu kondisi barang yang akan kalian sewa. Kurang lebih begitulah pengalaman saya ketika akan mendaki ke Merbabu. Semoga bisa menjadi gambaran dan dongeng sebelum tidur, hihihi…

Gunung Merbabu yang memiliki ketinggian sekitar 3.142 mdpl sungguh memiliki keadaan alam yang hijau nan asri. Udara yang sejuk dan segar membuat langkah terasa ringan sedangkan lukisan alam yang tersaji merupakan terapi untuk psikologi yang ampuh. Niat hati yang tulus untuk “berteman” denganya (bukan menaklukanya) berbuah manis dengan dihadiahi kesempatan untuk melihat permadani hijau raksasa disetiap kaki melangkah, udara menyegarkan yang gratis dinikmati kapanpun dan dimanapun, eloknya pertunjukan (m)alam, lima pasang kaki yang berjalan seirama dan satu tujuan, serta filosofi yang bijak dari arti sebuah pendakian.

  • Semakin tinggi kaki berpijak, hati terasa semakin “rendah”.
  • Untuk mencapai “puncak”, pasti akan berwarnakan jerih payah, keringat, luka, dan usaha pantang menyerah.
  • Orang kuat dan pantang menyerah yang berhak untuk diposisi teratas

No Comments

Leave a Reply