Asal Mula Candi Borobudur yang Diperdebatkan

Asal Mula Candi Borobudur yang Diperdebatkan

Rizky
no comments. 463

Semangat tinggi sedang hinggap di dalam jiwaku. Dimana perjalanan kali ini menuju ke Candi Borobudur. Sebuah Candi yang telah menjadi warisan budaya dunia. Candi yang sempat masuk dalam daftar 7 keajaiban dunia. Lama aku berpikir tentang Candi itu seperti halnya aku memikirkan mau dibawa kemana negara ini. Satu hal yang aku tahu, jika selama ini aku memang belum pernah sekali pun mengunjungi Candi Budha Terbesar tersebut, betapa malang nian nasibku.

Aku hanyalah seorang penikmat tempat wisata, berbeda dengan kedua temanku, Faizal dan Angga. Mereka adalah dua sejarawan yang selalu mencintai sejarah. Sepanjang perjalanan, mereka sedikit memperdebatkan asal-usul candi Borobudur yang memang masih menjadi tanda tanya dan misteri para ilmuwan. Mereka sudah seperti dua calon presiden yang saling serang argumen.

Payung-payung berjajar dijalan menuju candi

Payung-payung berjajar dijalan menuju candi

Mitos-mitos candi pun seakan tidak pernah terdengar atau ditemukan oleh semua orang. Hal ini, berbeda dengan Candi Prambanan yang terkenal dengan mitos seribu candi yang dibangun dalam waktu satu malam. Perdebatan Faizal dan Angga memang sedikit mengacaukan pikiranku yang sejak tadi begitu menikmati suasana yang sejuk nan syahdu. Apalagi, jajaran payung yang berwarna-warni, seakan mengingatkanku akan festival payung yang selalu digelar oleh pemerintah kota solo.

Baca Berita Lainnya:  Jam Matahari Raksasa yang Instagramable

“Nama Borobudur itu sebenarnya berasal dari nama samara budhara yang berarti gunung yang lerengnya terletak teras-teras,” kata Faizal yang mencoba menjelaskan.

“Bukan zal, Borobudur ini pemberian dari penemu Candi ini, Sir Thomas Stamford Rafles, dalam bukunya sejarah pulau Jawa dia menyebutkan  nama candi ini, Bore dan  Budur, Bore artinya desa dan Budur artinya purba,” kata Angga yang mencoba meluruskan.

Aku merasa bosan mendengar perdebatan itu. Aku memilih melepaskan diri dari mereka dan menikmati tari Reog yang sedang dipertunjukan di sebuah pelataran, yang tak jauh dari candi. Lama aku melihatnya, lama pula perdebatan panjang mereka. Hingga aku pun harus menyeret mereka layaknya anak kecil yang susah di suruh pulang.

“Itu kan dari kitab sejarah, ini dari prasasti yang ditemukan, ya memang belum pasti, karena ada juga yang mengatakan jika nama Borobudur adalah pemberian dari para Budha yang menjadikan tempat ini sebagai tempat ibadah,” kata Faizal yang mencoba mempertahankan argumennya.

Kami sudah berada di puncak yang tertinggi. Sekeliling kami, ada candi dan stupa yang berumur ratusan tahun. Aku mencoba untuk memasukkan tanganku ke dalam candi itu, menyentuh bagian tubuh stupa yang menjadi mitos, bila sanggup menyentuhnya maka apa yang diinginkannya pasti terkabul.

Baca Berita Lainnya:  Pengen Awet Muda? Yuk Berkunjung Ke Museum Ullen Sentalu

“Jangan begitu Riz! Itu tak boleh, itu dilarang!” Kata Faizal.

“Bukannya mitos disini seperti ini ya, agar keinginan kita bisa terwujud?” Tanyaku.

salah satu candi dari sekian candi

salah satu candi dari sekian candi

“Jangan kau ikut-ikut mitos itu, Usia Candi ini sudah ratusan tahun, apa yang kau lakukan akan merusak batu-batu candi, Candi ini masih menjadi sebuah misteri tentang asal usulnya,” kata Faizal.

“Ya, batu candi ini masih menjadi misteri, ada yang bilang dari gunung merapi, jika benar dari merapi, bagaimana bisa mereka membawa batu-batu ini, sementara dulu disini adalah kawasan perbukitan,” kata Angga.

Aku pun beranjak dari tempatku, sedikit kecewa memang dengan pernyataan mereka, karena untuk mengambil spot foto disini begitu sulit jika tidak berdiri di atas situs candi. Banyaknya orang yang penasaran dengan candi ini, membuat aku harus sedikit bersabar.

Kami berada tepat di tengah candi, berdiri bertiga dan bersiap untuk berfoto selfie. Tetapi, Angga dan Faizal seakan di beri tempat untuk berdebat kembali. Seperti di sebuah studio televisi, di mana mereka sudah mengenakan jas kebesaran masing-masing, dan aku di tengah sebagai host.

“Ada seniman Belanda yang mengatakan tentang adanya danau purba yang muncul pada saat pembangunan candi,” kata Faizal.

Baca Berita Lainnya:  Travelers Hunt !

“Nggak mungkin Zal, aku tak pernah percaya, para arkeolog pun juga tak pernah mempercayainya,” kata Angga.

“Tetapi, para ahli Geologi membenarkannya,” jawab Faizal.

Perdebatan panjang itu terus terjadi hingga satu persatu orang yang berada di sekeliling kami pun melihat. Bagaikan debat presiden dengan berbagai macam argumen dan saling serang layaknya pertempuran video game. Sejujurnya, aku mulai malu dengan yang dilakukan oleh mereka berdua.

“Bagaimana kalau kita menikmati candinya dulu, habis itu kalian boleh berdebat lagi,” kataku yang mencoba meredamkan suasana.

Cek Kabar: Bertengkar Di Kiskendo? Awas, Nanti..

Perkataanku tak digubris oleh mereka. Salah satu dari mereka tanpa sengaja mendorongku hingga terjatuh ke bawah, beberapa orang yang melihat kejadian ini pun segera menolongku. Kepala sebelah kiri yang terbentur candi sedikit robek dan mengeluarkan darah.

Relief

Relief di candi Borobudur

Faizal dan Angga yang melihat kejadian itu, akhirnya menolong dan membawaku ke tempat yang agak sepi. Untung saja di dalam tas Faizal ada beberapa peralatan medis untuk pertolongan pertama, sehingga aku tak harus dibawa ke rumah sakit.

Mereka pun meminta maaf. Candi Borobudur memang tempat yang paling seru untuk dikuak, bukan karena nama besarnya melainkan, asal-usulnya. Kami pun akhirnya menikmati candi seperti halnya pengunjung yang lainya. Semua perlatan jas yang sempat dikenakan oleh mereka berdua runtuh dengan sendirinya.

 

No Comments

Leave a Reply