Telaga Ngebel Bikin Spot Jantung

Telaga Ngebel Bikin Spot Jantung

Rizky
no comments. 940

Aku, Dewi dan Sekar adalah orang pertama yang sampai di Telaga Ngebel, kabupaten Ponorogo. Maklumlah, rumah Dewi yang berada di perbatasan Madiun dan Ponorogo membuat jarak menuju objek wisata ini sangat singkat dan begitu mudah, Apalagi, di pagi hari belum banyak petugas yang datang, sehingga kami tak perlu membayar retribusi.

Udara sejuk dengan pemandangan telaga yang luas membuat kami merasa nyaman dan enggan meninggalkan tempat ini. Disini ada kapal dan becak air yang siap memanjakan wisatawan untuk mengelilingi telaga. Sayang, kami terlalu pagi sehingga belum ada satu orang pun yang siap mengantar kami berpetualang mengelilingi telaga.

Matahari yang muncul di balik bukit telaga

Matahari yang muncul di balik bukit telaga

“Naik kapal yuk!” Ajakku.

“Nggak mau ah,” kata Dewi.

“Kenapa wi?” tanya Sekar.

“Aku takut,” jawab Dewi yang menikmati perbekalan yang sengaja dibawa dari rumah.

“Takut kenapa? Seru kalik,” kataku yang mencoba membujuknya.

“Iya, pasti seru wi, ayolah! Masak Cuma aku sama Rizky aja, kan nggak seru,”

Dewi tak menghiraukan permintaan kami, dia masih asyik dengan makanannya. Biasanya, jam segini Dewi sudah waktunya untuk sarapan pagi. Sementara, Aku dan Sekar biasanya hanya makan roti dan minum secangkir teh hangat untuk menjaga asupan makanan.

Baca Berita Lainnya:  Goa Tanding yang Tak Tertandingi

Tak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya datang. Dia menawarkan kami untuk berkeliling telaga dengan perahu miliknya. Tanpa berpikir panjang, Aku dan Sekar pun mengikuti orang itu menuju ke kapalnya, tak lupa kami menyeret Dewi yang tengah asyik makan.

“Aku nggak mau!” Bentaknya.

“Ayolah wi, kami sudah sejauh ini, apa kamu nggak kasian sama kami?” kataku yang berharap Dewi akan luluh.

telaga Ngebel

Dermaga telaga Ngebel

Orang itu mulai menghidupkan kapalnya yang cukup menawan, seperti berada di dalam sebuah adegan film-film aksi Hollywood. Apalagi, tampilan orang itu yang memakai kaca mata hitam lengkap dengan celana jeans, mirip seorang actor yang akan memerankan adegan di dalam kapal. Aku semakin tak sabar, saat mesin kapal itu telah hidup dan ada beberapa pengunjung yang sudah datang dan menikmati wisata satu ini.

“Tu, wi, keren kan? Naik kapal berkeliling?” Bujuk Dewi,

Akhirnya Dewi pun luluh. Ia masuk ke dalam kapal, bersama denganku dan Sekar. Aku duduk di depan bersama pengemudi kapal. Sementara, Dewi dan Sekar duduk di belakang. Wajah dewi sedikit pucat pasi, saat kapal mulai mundur dan berjalan perlahan.

Baca Berita Lainnya:  Gerobak Sapi Sang Affandi

Aku membuka jendela agar tampak seperti berada dalam film-film, memakai kaca mata biru seperti seorang agen yang sedang berlayar menuju sebauh pulau. Sementara Sekar, sudah menyiapkan topi pantainya, ia ingin merasakan sejuknya udara seperti di pantai, dan merasakan bahwa telaga itu adalah telaga miliknya sendiri. Dewi, masih berjuang melawan rasa takutnya.

Kapal semakin kencang, guncangan yang terasa pun semakin terasa pula. Dewi sudah mulai ketakutan. Tubuhnya sedikit gemetar. Tetapi, aku dan Sekar tidak terlalu mempedulikannya. Kami mengikuti irama ombak yang semakin meninggi, dan laju kapal yang semakin memacu adrenalin.

“Cukup berhenti,” kata Dewi

“Lanjut pak, lebih kencang dan lebih seru kalau bisa,” Bisikku kepada pengemudi kapal.

Ya, kapal semakin kencang, sudut kemiringan saat berbelok pun mengalahkan para penalap motogp. Bapak satu ini memang paling tahu bagaimana cara menyenangkan anak muda seperti kami. Air yang membentuk ombak membentur kapal dengan suara yang begitu keras dan begitu menakutkan. Kapal kami hampir saja melompat, seperti sebuah atraksi yang sulit untuk dilakukan. Ini mengalahkan permainan Roller coster yang cukup membuat jantung berdebar.

Baca Berita Lainnya:  Obrolan Singkat Penjual Jamu Di Malioboro; Pilih Mana? Ramah Wisatawan atau Pedagang?

Cek Kabar: Bisik-Bisik Pasir Bromo Yang Mencekam

“Berhenti!!!” Teriak Dewi yang tangannya menampar Sekar yang asyik berteriak melepas segala sesak yang ada di dadanya.

Pemandangan telaga dari atas bukit

Pemandangan telaga dari atas bukit

Aku pun menyuruh berhenti dan kembali ke tepi. Setelah itu, Dewi muntah-muntah, badannya panas dingin. Sekar yang sempat marah karena terkena tamparan Dewi menjadi menaruh rasa iba.

Kami pun akhirnya kembali ke tempat duduk kami di sebuah pohon besar yang rindang. Dewi semakin menggigil, tetapi dia enggan untuk pulang, dia hanya mengalami trauma, karena dia pernah naik kapal dengan guncangan yang sama, yang akhirnya menyebabkan kapal tersebut tenggelam, beberapa tahun yang lalu.

“Maafkan kami wi,” kata Sekar.

Kami duduk sembari menikmati bekal yang masih tersisa. Pengunjung mulai berdatangan, warung-warung pun mulai buka satu-persatu. Setelah keadaan Dewi membaik, kami memutuskan untuk pulang dan mengakiri petualangan kami di Telaga Ngebel.

 

No Comments

Leave a Reply