Sungai Pinang, Texasnya orang melayu

Sungai Pinang, Texasnya orang melayu

ulatgogok
no comments. 108

Tenesse atau texas nya melayu ada di desa Sungai Pinang Daik Lingga, Kepulauan Riau. Bedanya, jika Tenesse dan Texas punya cornfield dan lapangan hijau untuk berkuda yang luas, desa sungai pinang juga mempunyai lapangan hijau yang sangat luas, hijau dan asri yang dikelilingi oleh hutan-hutan segar. Disini aku bisa merasakan aroma country. meskipun hanya melihat sapi sapi qurban berkeliaran dilapangan besar berpagar kayu tersebut, sementara diteras teras rumah masih ada nenek nenek yang bernyanyi sambil memainkan gambus dan cucu nya bermain biola dan gendang menyanyikan lagu joget yang rancak nan gembira. Benar-benar aku seperti berada di film Hannah Montana the Movie. Desa memang selalu menawarkan hal-hal luar biasa yang tak bisa kita dapatkan dikota. Dari kejauhan terlihatlah sebuah papan yang tidak seberapa besar bertuliskan “Lapangan Bola Said Abdul Djalil

20170625_143204

Betapa bangganya menjadi bagian cucu-cucumu diantara 3 anak-anak kandungmu, Kakekku Said Abdul Djalil Al Qudsy kita memang tak sempat lagi berjumpa. Tapi darahmu mengalir didarahku. Konon lapangan bola ini beliau buat karena tak ada satupun warga kampung yang dapat menebas hutan belantara ini karena adanya mitos yang menyeramkan. Mitos-mitos yang dipercaya bahwa banyak binatang buas dan orang-orang bunian yang hidup didalam hutan belantara ini, namun sebagai penghulu desa yang berjiwa pemberani Kakekku bisa memusnahkan semua anggapan itu. Biasanya orang yang masuk kedalam hutan itu tidak kembali lagi namun Kakekku selamat, bahkan Kakeku dapat menebas hutan belantara menjadi sebuah lapangan bola besar yang menakjubkan. Murni hijau dan masih segar hingga sekarang.

Desa Sungai Pinang yang masih jauh dari listrik belum pernah dijajah oleh teknologi, bahkan tiang tower hanya ada satu itu pun baru 3G. itullah sebabnya mengapa Bapakku pindah kerja ke daerah Daik Lingga, alasannya agar ayahku dapat mengunjungi desa kelahirannya Sungai Pinang ini ketimbang menunggu anak-anaknya tidak selesai-selesai kuliahnya. Lebih baik Bapakku mengenang masa kecilnya disini.

“Kakekmu dulu istrinya 5…” kata Bapakku memulai bercerita dengan segelas kopi

Aku tidak cukup terkejut mendengarkan itu. Kukira Kakek istrinya Sembilan seperti Soekarno. Karena menurut kata-kata orang disini Kakekku cukup tersohor, selain karena beliau adalah seorang seniman yang bisa bermain teater, menari, menyanyi bahkan memainkan seluruh alat musik melayu beliau juga seorang kepala desa yang dipercaya.

“…Sungai pinang itu dulunya sebuah wilayah administratif berbentuk desa yang sudah ada sejak sebelum Lingga dijadikan Kabupaten atau masih dibawah pemerintah kabupaten Kepulauan Riau. Nama sungai pinang juga sudah termaktub dalam lisan sejak era kerajaan Riau Lingga. kalau menurut cerita rakyat kondisi sungai menuju perkampungan ini dihiasi dengan jejeran tumbuhan pinang…” cerita Bapakku

Aku hanya mengangguk sebagai orang yang tidak tau menahu tentang sejarah Kerajaan Riau Lingga. Bapakku sibuk bercerita dan mengenang masa kecilnya yang dulu juga pernah diceritakan oleh nenek nenek moyangnya.

“kalau kata nenek Bapak dulu…ada cerita menarik jika bercerita tentang rakyat setempat. Lanun tidak lagi berani masuk kampung ini selama tujuh keturunan..”

“Lanun? Bajak laut?” tanyaku

Bapak kembali mengangguk

“Kami Para Lanun bersumpah tidak akan datang lagi ke Kampung ini untuk merompak, begitu kata Lanun yang seketika kalah dalam pertikaian dengan Batin Mabot. Bapak dulu diceritakan dengan nenek Bapak sewaktu nenek masih hidup…”

“berarti kakek itu pernah ketemu Jack Sparrow nya melayu ya Pak?”

“kalau dari beberapa sumber yang bapak baca, Drs. Abdul Razak M.Pd, pernah menulis dalam tulisan kumpulan cerita rakyat yang berjudul Batin Mabot, menceritakan tentang kedatangan para Lanon yang ingin merampas harta benda milik orang-orang kampung Sungai Pinang. Tetapi tidak berhasil karena tepak sirih emas yang ajaib….Lanun yang berdatangan juga tewas tertikam buah Bungkat…”

“Buah bungkat?” aku masih heran dengan bentuk buah tersebut. Bayangan itu masih mengambang dalam benakku.

“itu nak, jenis pohon bakau yang buahnya besar dan tajam…”

Ayahku semakin menggebu-gebu menceritakan sejarah kepadaku.

“…kalau pada zaman Kesultanan Riau Lingga, pemimpin atau tetua di Sungai Pinang dikenal dengan gelar Batin, sebuah jabatan setingkat desa yang ditujukan oleh kerajaan. Adalah Batin Mabot yang memerintah Sungai Pinang waktu itu. Dia merupakan pimpinan pertama di Sungai Pinang. Batin Mabot, teramat dikenal dengan kekuatan batin dan ilmu bela diri. Dengan sikap kepimpinan dan keramahtamahannya dia mampu membina hubungan baik dengan orang-orang suku Laut diperairan Lingga. Hingga keduanya mengikrar sumpah mengaku saudara sampai bila manapun. Seterusnya, sampai kepada Batin-Batin selanjutnya….” Ayahku menjelaskan dengan penuh hikmat

“…menurut Datok Anis tokoh tertua di Pulau Lipan desa Penuba, kalau mereka Batin-Batin itu mau ke Sungai Pinang… dulu itu yang jadi penghulu Said Abdul Djalil. Sebut saja nama kakekmu itu, pasti akan dimudahkanlah masuk ke daerah Sungai Pinang. Karena memang dari dulu. Batin-Batin dengan Datuk Moyang kita orang suku mantang ini dulu memang sudah mengaku saudara..hebatkan Kakekmu?” kata ayahku

Cek Kabar: The Great Temple Of Borobudur

Memang benar, Kakekku seorang pemimpin hebat. Pantas saja istrinya lima. Dan menurutku zaman dulu wajar, Kakekku memang jadi rebutan sampai pada akhirnya perempuan-perempuan juga rela berbagi demi bersama Kakekku. Dan diantara lima perempuan itu adalah nenekku, dari nenekku lahir Bapakku dan dari Bapak akhirnuya lahir aku. Inilah aku salah satu cucumu yang jauh dari kesempurnaan numpang berfoto didepan papan bertuliskan “Lapangan Bola Said Abdul Djalil” dan berbangga hati ternyata kakekku seorang jagoan.20170625_143138

No Comments

Leave a Reply