Sikunir Mengecewakan, Sunrise itu Hanya Mimpi Belaka

Sikunir Mengecewakan, Sunrise itu Hanya Mimpi Belaka

Rizky
no comments. 193

Sinar rembulan telah menyapaku, Ibu dan juga Kakak. Di ketinggian lebih dari 2000 mdpl ini, kami menempuh sebuah harapan untuk menikmati sebuah persembahan Tuhan yang sudah terkenal sejak dahulu. Golden Sunrise Puncak Sikunir yang diyakini menjadi sunrise terbaik se-Asia Tenggara.

Begitu banyak orang yang sudah datang sejak tadi, ada yang mendirikan tenda, ada pula yang duduk-duduk diwarung sembari menikmati secangkir kopi panas dan mie rebus, ada pula yang hanya berdiam di mobil dan menanti waktu yang tepat untuk menyusuri jalan setapak menuju keatas bukit.

Matahari yang akan segera muncul

Matahari yang akan segera muncul

Ibu masih terpaku denga keraguan yang terus menghantuinya. Rasa sesak nafas yang terus dirasakan membuat semangatnya yang menggebu itu luntur. Beliau masih mencoba untuk berkompromi dengan hatinya, mencoba untuk menumbuhkan kembali semangat-semangat untuk menembus sebuah batas.

“Kelihatannya Ibu nggak jadi ikut keatas?” kata Ibu.

“Kenapa?” tanya kakak.

“Ibu takut nggak kuat, nanti malah merepotkan kalian,” kata Ibu yang masih mencoba untuk membangkitkan semangatnya sendiri.

Sikunir memang menyajikan pemandangan yang luar biasa, yang akan menggoda setiap orang untuk datang melihat. Terdengar, dari tempatku berdiri, beberapa ibu-ibu paruh baya sedang bersiap-siap dan berbincag-bincang akan keindahan sikunir. Mereka pun tak lupa membawa kamera yang akan menghiasi seluruh media social yang mereka punya.

Kabut tebal yang mengahalangi sunrise

Kabut tebal yang mengahalangi sunrise

Aku kembali kedalam mobil, melihat bagaimana situasi Ibu saat ini. Beliau masih saja terdiam, hanya saja sesak nafasnya sudah sedikit mereda. Waktu terus berjalan, Beberapa orang sudah mulai meninggalkan Tenda dan Kendaraan mereka.

“Bagaimana? Masak kalah sama ibu-ibu sosialita itu?” kataku yang agak sedikit kecewa dengan keadaan ini.

Ibu menarik nafas panjang, dan dengan segenap keyakinan beliau pun akhirnya turun dari mobil. Beliau melihat, banyak orang yang seumuran dengannya bahkan lebih tua sedikit, bersemangat untuk berjalan menanjak keatas. Tak hanya orang tua, anak kecil pun banyak yang bersemangat pula, walau mereka tahu bagaimana medan yang akan dijalani.

Perjalanan kami pun dimulai, beberapa warung menghiasi jalan setapak yang sudah sangat bagus. Satu-persatu para penjual itu menawarkan barang dagangannya berupa gorengan dan kentang rebus. Ada juga beberapa ibu-ibu yang tadi bersemangat berhenti untuk beristirahat sejenak diwarung-warung itu.

“Kalau capek bilang bu, jangan dipaksa!” kata kakak.

“Iya, masih kuat,” kata Ibu yang semangatnya mulai memuncak kembali.

Pemandangan yang tiada duanya

Pemandangan yang tiada duanya

Jalanan mulai menanjak, tetapi cukup ramah bagi pendaki seperti ibu yang harus ekstra sabar. Para pemandu wisata bersorak untuk jalan di area kanan, karena di area kiri adalah jurang sementara pembatas yang ada belum terlalu baik. Lagipula, berjalan disebelah kanan tanjakan tangga tidak terlalu tinggi yang akan memudahkan para pendaki.

Ada rasa kesal dalam hati melihat Ibu yang selalu saja meminta istirahat dan mengeluh. Aku masih mencoba untuk menguasai diri, dimana perjalanan ini memang bukan untuk menunjukkan seberapa tangguh menaklukkan sebuah puncak, melaikan seberapa tangguh menaklukkan sebuah ego dan emosi diri sendiri.

Tak hanya Ibu sebenarnya yang duduk dan berhenti, tetapi banyak pengunjung lain yang membuat jalanan semakin sempit dan waktu tempuh semakin panjang. Waktu terus berjalan, tak lama lagi, sunrise itu akan segera muncul menyinari bumi. Tetapi, langkah ini tak bisa melangkah sesuai dengan keinginan mengingat banyaknya pengunjung yang membuat perjalanan sedikit terhambat dan juga Ibu yang masih harus berhenti beristirahat.

Aku kembali melihat Ibu, semangatnya begitu luar biasa, dahulu beliau memang pendaki gunung yang handal. Namun, usia membuatnya harus mengerti bagaimana caranya dia bisa naik keatas dengan segala keterbatasan yang bukan menjadi penghalanganya.

Cek Kabar: Kapal Lingga Permai Tak Profesional! Hati-Hati…

Kurang lima menit lagi sunrise itu akan muncul, kami sudah berada dipuncak, sudah berdiri disebuah tempat yang pas untuk melihat keindahaan Sikunir. Sedikit demi sedikit, Matahari itu mulai muncul, hanya saja awan tiba-tiba naik, dan kabut pekat menutup semua angan-angan yang telah tercipta.

Sunrise yang muncul diantara kabut dan awan

Sunrise yang muncul diantara kabut dan awan

Banyak yang kecewa dengan pemandangan itu, begitu pula dengan diriku yang tidak dapat menyembunyikan rasa itu. Tetapi, pemadangan sebuah gunung yang entah gunung apa itu, cukup untuk membuatku tersenyum. Kalau kata kakaku, itu adalah Gunung Sindoro tetapi, aku enggan bertanya lebih jauh lagi dan enggan untuk mencari tahu karena rasa sesal yang masih saja menghantui.

Melihat keindahan yang tak bisa diungkapkan

Melihat keindahan yang tak bisa diungkapkan

Tidak hanya aku saja, ibu-ibu yang tadi sempat berbincag-bincang dibawah pun juga ikut kesal. Mereka mulai meninggalkan tempat ini. Sebenarnya aku pun ingin segera pergi, tetapi Ibu dan Kakak masih saja bertahan dengan kesabaran mereka. Alhasil, sunrise itu pun muncul dari balik kabut tebal, walau tak seindah biasanya. Namun, keindahan ini adalah buah dari sebuah kesabaran yang harus ada didalam diri setiap pendaki, sebuah kemenangan besar yang bisa diambil hikmahnya.

 

No Comments

Leave a Reply