Romantis-romantisan di Pantai Drini

Romantis-romantisan di Pantai Drini

Rizky
no comments. 37

Terik matahari begitu menyengat hingga terasa sampai pada bagian kulit yang terdalam tetapi, tidak menyurutkan niatku bersama Dea untuk pergi ke Pantai Drini. Sebuah pantai yang terletak di kawasan Gunung Kidul. Di sekitar pantai ini berjajar pantai-pantai yang sudah lama di kenal dan menjadi ikon wisata wajib jika ke Gunung Kidul yaitu, Baron, Krakal, dan Kukup yang pesonanya masih saja terasa hingga saat ini.

Pantai Drini begitu bersih, terbebas dari sampah-sampah yang mulai kami temukan di beberapa pantai di Gunung Kidul. Sebelum kami menikmati aduhainya naik kapal berdua. Kami naik ke atas bukit untuk menikmati indahnya pantai dari ketinggian. Ombaknya yang cukup tenang dan pemandangan laut biru membiru membuat suasana disini tampak syahdu. Enggan rasanya untuk beranjak dari sini, apalagi angin sepoi-sepoi berhembus dengan lirihnya. Sungguh terasa dunia ini milik berdua.

Diatas bukit ini terdapat sebuah gubug yang memang digunakan untuk santai sejenak menikmati Pantai Drini dari sudut yang berbeda. Searah dengan pandangan terdapat pula sebuah bukit. Mungkin nanti, kami akan naik ke bukit itu untuk melihat sunset romantis seperti di film-film masa kini.

Dengan sebuah siluet dan sebuah adegan berani, pasti akan menjadi penutup hari yang mengesankan dan tidak akan pernah terlupakan. Pantai ini begitu sepi, mungkin karena ini bukanlah hari libur. Beberapa orang yang berada di tempat ini tak melewatkan untuk naik kapal berdua hingga ke batas pantai. Memang pantai Drini adalah pantai romantis yang pernah aku temui selama ini.

“Naik kapal yuk!” Ajakku yang juga sedikit merayu.

“Takut,”

“Takut apa?”

“Takut jatuh, kan nggak bawa baju ganti,”

“Ombaknya tenang, nggak mungkinlah kita sampau terjatuh,”

Perlu rayuan yang lebih dari sekedar rayuan gombal agar Dea mau bermain kapal di bawah. Sejujurnya, kami di sini hanya ingin duduk dipinggir pantai, bercengkrama kesana-kemari hingga senja datang. Maklum saja, rutinitas kami begitu melelahkan dan membosankan, sehingga waktu ini adalah waktu yang tak boleh untuk dilewatkan.

Setelah mengalami proses yang panjang, Dea  pun akhirnya terbujuk dan mau untuk naik kapal berdua dan melakukan obrolan romantis. Untuk menyewa kapal cukup dengan 10ribu rupiah dan kapal yang disewa bisa digunakan sepuasnya.

Kami pun mendayung sembari bernyayi lagu kesukaannya. Siang yang panas itu berubah seketika bagaikan gerimis yang datang, sungguh dingin, tenang, dan meneduhkan jiwa-jiwa yang sedang kesepian. Terlebih lagi, karang-karang kecil yang terlihat begitu sempurna, sesempurna Dea yang saat ini rambutnya berpegian kesana-kemari terkena hembusan angin laut yang cukup kencang.

Cek Kabar: Rawa Pening: The Hill of Love

Sumber : google.com

Sumber : google.com

Tanpa terasa kami sudah sampai di perbatasan, kami pun memutuskan untuk kembali ke pinggir pantai. Tiba-tiba ombak datang dan mendorong kapal kami sangat kencang. Untung saja, kami masih bisa bertahan. Aku dan Dea pun mencoba mendayung sekuat tenaga, agar ombak yang datang tidak mematahkan hati kami, sehingga kami harus basah-basahan.

Sayangnya, takdir berkata lain. Ombak yang dahsyat datang dan menerjang kapal kami. Kapal kami pun terbalik, seluruh badan kami pun basah terkena air. Saat itu pula seluruh impian kami untuk melihat sunset romantis pun luntur seketika.

Dea sudah berada dalam mode marah. Sebentar lagi pasti aku akan jadi sasaran amukannya yang maha dahsyat itu. Aku sungguh kecewa dengan keputusan ini. Aku pun berdoa dalam hati, agar Tuhan seketika merubah suasana hati dan paras Dea seketika.

Dea terdiam untuk waktu yang cukup lama kemudian, tertawa terbahak-bahak. Aku pun juga ikut tertawa, hingga akhirnya kami meneruskannya dengan bermain air. Aku pun lega dengan cairnya suasana ini. Kemudian, kembali dengan keadaan basah kuyup. Dan yang paling menarik adalah kami sama-sama tidak membawa uang lebih untuk membeli baju ganti. Dan kami pun basah-basahan kembali ke rumah.

No Comments

Leave a Reply