Ayam Bulu Terbalik, Penunggu Asli Gunung Merapi

Ayam Bulu Terbalik, Penunggu Asli Gunung Merapi

Uncle
no comments. 1159

Pagi yang berkabut di gunung Merapi, hujan disini tanpa diawali mendung. Meski kelopak mata ini sesekali masih bergandengan seperti sepasang sejoli yang sedang berpacaran. Kami sudah melakukan perjalanan menuju puncak merapi dengan bekal keberanian.
New Selo menjadi jalur pendakian saya dan teman saya yg bernama Deri. Ditemani oleh aroma musik yang memekak telinga, cukup menghibur perjalanan yang harus kami tempuh selama kurang lebih 5 jam. Yaaa, kali ini kami tak lagi dimanja dengan derita yg harus menopang tenda atau perlengkapan out door. Hanya makanan ringan dan beberapa botol mineral yang tak terlalu berat.

Benar saja, pagi itu kami begitu semangat! Dengan wajah sumringah kami begitu mantap menata langkah kaki ini. Namun semakin tinggi kita melangkah, nafas yg tersedat-sedat membuat kedua kaki ini berjalan melambat. Hingga di tengah perjalanan Deri mengeluh

“Ndraa, kamu ngerasa sesak nafas gak, sih?”

“Iya, nihh”

“Mungkin karna kita gak pemanasan dulu tadi!”

“Gue sesak nafas bukan karna itu. Nih, liat si mantan posting di instagaram sama cowok barunya”

“@_@??!”

Deri langsung mempercepat langkah meningalkanku, tapi jangkah kaki dia tak seberapa dengan jangkah kakiku yg melebihi lompatan kangguru ini.

IMG_0389-01-01

Badan Deri itu bisa dibilang kurus makanya selama perjalanan sesekali dia terlihat menggigil kedinginan.
Sampailah kita, di pos pertama. Tapi kita tak melakukan istirahat seperti orang lain lakukan, kedua kaki ini terus kami pacu untuk melangkah lebih jauh. Biar mereka tau! Meski badan kita kecil dan pendek tapi darah kita tinggi… Ehh! Maksudku semangat kita tinggi.

Baca Berita Lainnya:  Little Venice di Bogor! Nggak Percaya?

Cek kabar: Naik Kereta Api Tak Selamanya Menyenangkan

Di ketinggian lebih dari 1450mdpl itu. Kedua mata ini aku biarkan liar menatap pemandangan gunung merbabu yang mulai terlihat meski sedikit tertutup oleh mendung.
Semakin manja percakapanku dengan Deri, membuat kami harus terjebak dalam jalan yang buntu. Memang tak begitu jauh namun bibir ini terus saja berceloteh mengeluh dan rangkaian kata “kalo saja” itu terus jadi perbincangan kita saat itu.

IMG_0426-01

Selo Kopo! Adalah nama pos 2, pendakian merapi via selo. Disanalah kami melakukan isirahat

” Kita isirahat di pojokan gelap itu yuk! ” Ujar deri sambil nyengir

Jangan berpikir buruk dulu, dia ngajakin di tempat yg agak tersembunyi karna dia mau minum obat dulu.
“Srruwwttt” suara sleting tas yang aku tarik begitu kencang dan betapa terkejutnya tak ku lihat sedikitpun makanan atau bahkan minuman. Sementara aku masih heran tiba-tiba Deri menyodorkan sekotak bika ambon yg baunya macam parfum si mantan. Barulah aku ingat bahwasanya Deri yang membawa semua makanan itu.

Baca Berita Lainnya:  Tiket Terbatas, Ke Museum Kereta Api Harus Pagi

Setelah dirasa istirahat kita sudah cukup si Deri begitu on fire

Buruan ndra kita gasss..!”

“Ayokkk!”

“Magerr nih!”

“Kepriben toh kowe ki??” (Gimana sih lo itu?)

Karna puncak merapi sudah terlihat, hati ini sudah tak sabar untuk memeluknya.
Tajamnya bebatuan dan licinnya batu kerikil sudah kita arungi, butiran tanda lelah sudah menetes tak tertolong yang pada akhirnya kita sampai di Pasar Bubrah
Dimana Pasar Bubrah ini menjadi ujung pendakian Merapi. Area yang begitu luas menjadi tempat para pendaki mempersatukan tubuhnya dengan bumi.
Kabut putih yg tebal itu menyelimuti lingkungan sekitar, hingga jarak pandang pun menjadi terbatas. Suasana mencengangkan mulai meraba sukma. Sosok putih berwujud aneh itu mendekati aku dan Deri.

IMG-20170815-WA0012

IMG-20170815-WA0011

Aku masih melongo dengan pikiran hampa! Tak ku sangka aku bertemu dengan penunggu asli di gunung Merapi. Sepasang ayam putih dengan bulu terbalik (Orang jawa bilang Pitik walik) hidup romantis di ketinggian 2700mdpl. Kedua ayam tesebut menjadi penunggu di lokasi pasar bubrah itu, namun tak pasti siapa yg meletakan kedua ayam disitu. Sungguh pemandangan yang tak biasa menurutku, hingga menimbulkan banyak pertanyaan di benakku. Aku coba melempar sepotong roti dan mendarat dengan cantiknya tepat di depan kedua ayam tersebut. Benar dugaanku kedua ayam tersebut memakannya dengan lahap, karna mungkin mereka terbiasa makan sisa-sisa para pendaki yg mendirikan tenda di sekitarnya.

Baca Berita Lainnya:  Era Baru Wisata Jogja, wonderfulisland.id Punggawanya

Kabut pun mulai beranjak pergi kawah merapi sudah terlihat. Meski batas pendakian hanya sampai Pasar Bubrah namum tetap saja banyak pendaki yg nekat memanjat kawah Merapi, ya termasuk kita.
Coba tulisan “Batas pendakian hanya sampai disini” diganti dengan “batas suci, dilarang masuk” mungkin tak ada lagi pendaki yg nekat.

DCIM100MEDIA

Untuk memanjat kawah gunung Merapi itu tak mudah karna. 5 langkah naik, 2 langkah turun, Area berpasir itu membuat pendakian menjadi perjuangan yg berat belum ditambah cuaca yg begitu menyengat. Di atas kawah itu, kita di suguhkan oleh aroma belerang yg menyengat bagaikan bau telur busuk. Tapi kita begitu puas dan menikmatinya hingga pada ahirnya kita tertidur selama 45menit di kawah yg begitu panas itu. Yaaa lumayan untuk mengumpulkan tenaga yang akan digunakan menuruni gunung Merapi.

No Comments

Leave a Reply