Pendaki Pemula? Gunung Andong Jawabannya!

Pendaki Pemula? Gunung Andong Jawabannya!

Rizky
no comments. 800

Ini adalah perjalanan pertamaku naik gunung, dan aku memilih Gunung Andong. Banyak yang mengatakan naik gunung itu adalah sesuatu hal yang menyenangkan, menantang dan akan selalu berkesan. Siapa pun yang sudah merasakan keseruan naik gunung, maka ia akan tergoda untuk melakukannya lagi dan lagi.

Gunung Andong

Gunung Andong

Untuk memulainya, aku dan Septian yang sama-sama akan memulai petualangan naik gunung kami, memilih Gunung Andong, yang memang dikenal sebagai Gunung untuk para pemula, tingginya pun kurang lebih 1726mdpl, tidak terlalu tinggi memang.

Kami tiba di sebuah rumah yang biasanya digunakan singgah para pendaki pada pukul 12 dini hari. Di tempat itu sudah banyak orang yang memang sengaja datang lebih awal dan beristirahat sejenak, sebelum melakukan pendakian pada pukul 3 dini hari.

“Banyak yang naik ternyata ki,” kata Septian yang penuh dengan semangat.

Pemandangan dari aats gunung Andong

Pemandangan dari aats gunung Andong

Jantingku berdebar, ada sedikit pertanyan muncul dalam benak. Apakah aku mampu? Pertanyaan yang terus menghantuiku, yang membuatku sulit untuk memejamkan mata. Tetapi, apa pun yang harus terjadi, aku harus sudah siap, perjalanan 2 jam dari solo, tak mungkin terlewatkan begitu saja.

Baca Berita Lainnya:  Bakso Malang yang Menggoda Lidah

Waktu telah menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku dan septian pun berkemas dan bersiap menuju puncak yang sudah terlihat di depan mata. Bintang-bintang pun menyambut kami, yang menandakan akan ada sunrise cantik yang sedang menunggu kami diatas sana.

“Ini pengalaman pertamaku naik gunung, di Kalimantan tidak ada gunung ki, yang hanya ada perbukitan-perbukitan saja,” ceritanya yang masih bersemangat, walau dia tidak bisa tidur.

Saat jalan mulai menanjak, disinilah aku merasa tubuhku lemah. Nafasku menderu seiring detak jantung yang berdebar dengan sangat cepat. Aku selalu mengambil air minum yang menjadi titik kesalahanku. Yah, untuk saat ini aku kalah melawan rasa lelah yang semakin tak tertahankan.

Pemandangan Gunung Merbabu dan Merapi dari puncak alap-alap

Pemandangan Gunung Merbabu dan Merapi dari puncak alap-alap

Septian, masih setia menemaniku. Dia berusaha untuk sabar, walau raut mukanya menunjukkan rasa jengkel yang luar biasa. Mungkin, bukan seperti ini yang dia inginkan sejak awal perjalanan kami. Namun, apa adanya kekuatanku mungkin hanya sampai sekian, hingga aku memaksakan diri, dan akhirnya aku pun tumbang juga.

Baca Berita Lainnya:  Menikmati Alam Kulonprogo di 10 Tempat Wisata Ini

“Kamu duluan aja!” kataku yang duduk di sebuah gubug.

“Kenapa? Ayo tinggal sebentar lagi,” katanya yang cukup sabar.

“Nggak kuat bro, beneran kamu duluan aja! Nanti saya tunggu kamu disini,” kataku lagi,

Septian masih menungguku untuk beberapa menit. Tetapi, keadaanku tidak juga menunjukkan keadaan yang membaik. Nafasku semakin menderu dan jantungku berdebar kencang serasa mau copot. Inilah akhir perjalananku di Gunung Andong. Mengingat sunrise yang akan segera menyapa, Septian pun pergi dengan raut wajah yang kesal.

Cek Kabar: Bertengkar Di Kiskendo? Awas, Nanti..

Aku masih mencoba untuk menguasai diriku. Ya, sesak ini bertambah parah, seluruh badanku kaku dan sedikit bergemetar. Pikiranku sudah mulai kacau, banyak orang yang melintas dan selalu bertanya mengenai keadaanku. Dan, setiap pertanyaan itu selalu aku jawab dengan sebuah jawaban yang membuat mereka mengerti jika aku hanya butuh istirahat saja.

Sunrise yang tertutup awan mendung

Sunrise yang tertutup awan mendung

Aku pun berbaring, dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Hingga adzan shubuh berkumandang aku masih tetap berada ditempat. Tubuhku pun sudah mulai membaik, mungkin ini waktunya aku pergi ke atas, menyusul septian yang masih kesal melihatku yang kalah melawan diriku sendiri.

Puncak alap-alap

Puncak alap-alap salah satu puncak di Gunung Andong

Aku pun memulai perjalananku sendiri, menuju puncak atas. Walau tak mampu menyapa sunrise pagi. Setidaknya, aku masih mampu mengambil sebuah momen menarik diatas sana. Apalagi, perjalananku kali ini ditemani dengan sekelompok mahasiswa asal kebumen, yang sengaja datang untuk mendaki bersama.

Baca Berita Lainnya:  Lembah Ramma, Liburan Kelas Eropa di Pojok Sulawesi

 

 

 

No Comments

Leave a Reply