Obrolan Singkat Penjual Jamu Di Malioboro; Pilih Mana? Ramah Wisatawan atau Pedagang?

Obrolan Singkat Penjual Jamu Di Malioboro; Pilih Mana? Ramah Wisatawan atau Pedagang?

Indonesia Jernih
no comments. 430

Siang yang terik itu kulangkahkan kaki di sekitar jalan Malioboro yang kini menjadi lebih bersih dan lebih ramah wisatawan. Tujuan sebenarnya adalah mencari seseorang yang bisa di wawancara dan diambil sisi menarik dari orang tersebut. Tapi sayang, apa yang dicari tak kunjung datang. Dari ujung jalan Malioboro di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret hingga ke depan hotel bersejarah yang berdiri kokoh, Inna Garuda, tak ada seorang pun yang mencuri perhatian untuk di wawancara.

Credits: nmnnews.com

Credits: nmnnews.com

            Hampir putus asa dan rasa-rasanya di tempat ini tak ada lagi yang bisa diulik kehidupannya kuputuskan untuk kembali saja ke tempat parkir dan pulang. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, seorang ibu-ibu paruh baya berjalan dengan menuntun sepeda dan membawa sekeranjang jamu. Karena siang yang terik itu, kupikir minum jamu pasti menyegarkan. Akhirnya kudekati ibu-ibu penjual jamu tersebut.

Baca Berita Lainnya:  Pallubasa yang lebih menggoda

            “Bu, jamunya 1” kataku padanya.

            Ibu-ibu tukang jamu itu kemudian berhenti dan mencarikan tempat duduk untukku menikmati jamunya.

            “Enggeh mas, mau Jamu yang apa?” katanya menawarkan padaku.

            “Beras Kencur aja” kataku memilih jamu yang paling umum dan biasa diminum siapa saja.

Credits: Gitugini.com

Credits: Gitugini.com

            Ia pun segera menyiapkan jamu yang kupesan. Ketika ia menyiapkan jamu tersebut, terpikir olehku untuk menjadikannya objek wawancara. Tanpa berlama-lama aku memintanya, apakah ia mau kujadikan objek wawancara. Tapi Ibu tersebut hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia tak bisa lama berada di jalan Malioboro ini.

            “Aduh mas, tapi nggak bisa lama” katanya.

            “Lha kenapa bu? Wawancara di sini aja. Kan sekalian saja minum jamu ibu ini”

Baca Berita Lainnya:  5 Jembatan Cantik di Jogja Yang Bisa Jadi Tempat Wisata

            Ibu yang tak mau disebutkan namanya itu akhirnya menerima ajakanku untuk wawancara.

            Seperti biasa, pertanyaan pertama yang aku ajukan padanya adalah sudah berapa lama ia menjadi penjual jamu begini. Ia pun menjawab dengan pandangan mata yang seolah takut akan sesuatu.

            “Sudah nggak kehitung mas, dari tahun 90an” jawabnya sambil melihat kiri dan kanan seolah-olah ada yang sedang memburunya.

Credits: Iwantantomi.com

Credits: Iwantantomi.com

            Aku pun mempersilahkan ibu itu duduk tapi ia tak mau. Ia terlihat semakin gelisah. Tak selang berapa lama, setelah jamu yang kupesan sudah jadi, seorang lelaki, berpakaian dinas yang ternyata petugas UPT Malioboro mendekati kami dan meminta ibu itu untuk segera pergi. Aku terkejut dengan kondisi tersebut dan langsung menanyakan hal tersebut pada sang ibu penjual jamu.

Baca Berita Lainnya:  Konser Musik Elektronik di Festival Kesenian Yogyakarta

            “Iya mas, sekarang kita nggak boleh jualan disini sebenernya. Jadi saya harus terus jalan dan nggak boleh berhenti. Ngelayanin masnya ini aja sebenarnya nggak boleh” kata ibu itu sambil dengan cekatan menerima uang yang kuberikan dan membereskan gelas yang tadi kupakai.

            Ibu penjual jamu itu kemudian langsung pergi dan meminta maaf karena tak memiliki banyak waktu untuk berbincang denganku. Dalam hati aku berkata bahwa kesempatan sekejap itu membuka cakrawala yang lebih luas untukku.

            Malioboro saat ini memang tempat yang sangat ramah untuk para wisatawan. Tapi tak kusangka, Malioboro menjadi tempat yang menyeramkan untuk para penjual seperti ibu tersebut. Rasa-rasanya seperti berjualan di tengah medan perang yang sewaktu-waktu bisa ditembak sniper dari jarak jauh. Pilihannya hanya dua, mati, atau menyingkir dan mencari penghidupan lain.

No Comments

Leave a Reply