Misteri Air Terjun Berdarah, Air Terjun Resun

Misteri Air Terjun Berdarah, Air Terjun Resun

ulatgogok
no comments. 189

Bukan main beraninya anak-anak kampung. Adrenalin seakan membara di kepala mereka. Beda dengan anak kota sepertiku terlalu banyak fikir dalam bertindak. Untuk terjun dari kolam berenang saja aku takut, inikan pula, air terjun resun yang tinggi yang di bawahnya palung dalam berlapis batu batu besar. Fantasiku sudah kemana-mana. Takut orang-orang Bunian marah padaku karena aku tak percaya akan keberadaan mereka lalu mereka menjatuhkan aku ke bawah dan kepalaku menghantam batu licin kemudian menyucur darah, lalu air terjun Resun ini mendadak menjadi merah seperti laut merah yang dibelah oleh Nabi Musa. Tapi syukur itu tidak terjadi.

 

Aku hanya duduk manis selfie didepan air terjun sambil main air di kaki. Selfie menjadi sebuah pencitraan yang wajib bagiku, karena dari foto itulah orang dapat melacak keberadaanku dan orang akan kagum padaku. Terlalu banyak bermain gadget di sini malah membuat kepalaku pusing. Nenek tak mau ikut padahal tadi aku sudah mengajaknya pergi ke air terjun bersama sama.

“Dulu nenek waktu SMP terakhir kali kesana, sekarang sudah tidak kuat.”

 

Baca Cerita yang Lain disini: Dilarang Mandi di Pemandian Lubuk Papan

 

Bayangkan SMP, bukan waktu yang sebentar untuk melangkah mundur menghitung ke belakang, tahun 1965, sekitar 52 tahun yang lalu. Nenek bilang dulu tidak ada jalan untuk menuju kesana. Harus lewat hutan dan harus beriringan dengan pawang hutan dan dihutan tidak jarang banyak suara suara binatang buas yang mengerikan, seperti ular-ular yang bergelantungan di atas pohon pohon tua yang tinggi. Tapi begitulah kataku, adrenalin anak-anak kampung lebih tinggi daripada orang orang kota.

Aku sebenarnya ingin sekali mengajak nenekku turut serta ke air terjun itu. Sebab, meskipun usianya sudah 78 tahun beliau sangat lincah dan tau banyak hal.

“Dulu nenek pergi dengan kawan kawan, berenang terjun dari atas menyusur kebawah, seperti atlet renang.”

“Nabrak batu, nggak nek?”

“Nggaklah, kan airnya dalam sekitar 3 meter. Batu-batunya yang besar kan cuma ada di tepian. Dulu nenek perawan desa yang paling jago. Kalau sekarang….”

“Sudah tidak perawan lagi ya Nek?” tanyaku

“sudah tidak jago lagi lah! Ya… Juga sudah tidak perawan lagi juga, hahaha…” nenek ketawa geli. Nenek memang satu jenis denganku kalau bercanda. Aku tidak perlu memikirkan kata-kata yang sopan karena nenekku dari dulu memang ceplas ceplos mulutnya. Beda spesies dengan ibuku yang ningrat dan santun. Ibuku seperti bidadari yang lembut sementara nenekku pendekar wanita yang sangat ksatria.

“Pergilah kesana. Nenek nggak kuat mau manjat-manjat batu lagi, kalau berenang masih kuat lah. Tapi jangan disuruh manjat-manjat. Tulang pun dah keropos…”

“Masih lewat hutan ya Nek?”

“Nggak kok. Sudah ada jalan sekarang. Ada gerbang dan pintu tiketnya juga. Pergilah sana bawa dan jaga keponakanmu ini sekalian.”

Sebagai gantinya, aku membawa dan menjaga ponakan-ponakan ku pergi ke air terjun. Aku menjadi tukang foto mereka. Ternyata adrenalin anak-anak berumur 7 tahun juga tinggi. Kalah aku yang sudah berumur 23 tahun ini.

Menyusuri jalan dari Daik menuju Resun bukanlah dekat. Dengan menunggangi motor aku membawa ponakan-ponakanku yang nakal, Nana dan Elsa. Sepanjang jalan yang sejuk ini, aku melihat gunung Daik masih setia mengiringi jalanku seperti bulan yang selalu mengikuti kemana kita berjalan. Pohon-pohon rindang menyejukkan tubuh hingga kedalam hati. Wajar desa ini belum bisa terdeteksi oleh apilkasi Google Maps. Sampah-sampah plastik juga tidak terdeteksi di jalan-jalan ini. Benar-benar asri dan suci.

Sampai di gerbang wisata air terjun resun. Pelayanan disini tidak berbasis pelayanan profesional. Maklum masih di pelosok. Penjaga tiket tidak ada di gerbang. Sampai aku harus menunggu mereka. Aku harus membayar tiket masuk seharga 20 ribu untuk 3 orang. Sementara aku melihat banyak anak-anak yang langsung cebur ke lubuk di bawah jembatan yang airnya juga berasal dari air terjun resun. Seharusnya mereka juga dikenakan uang tiket, pikirku.

Menuju gerbang masuk. Aku dapat mendegar suara air terjun deras sekali. Sejuk yang menenangkan perasaan. Air terjun yang dikelilingi pohon-pohon nan tinggi ini juga tidak boleh sembarangan kalau berbicara. Ibu bilang disini banyak Bunian-Bunian yang mengendap. Tapi yang kulihat hanya manusia-manusia yang mandi disana. Kebanyakan anak-anak muda. Berpacaran dan memadu kasih.

Baca Cerita yang Lain disini:Hati-Hati Kepincut Dengan Wanita Saat Berwisata Ke Lima Daerah Ini!

“Ayo Tante, berenang!” ajak keponakanku yang bernama Nana.

“Tante nggak bisa berenang,” jawabku.

“Ayo tante, kita nyelam!” ajak ponakanku yang bernama Elsa.

“Tante lagi mens…” jawabku menentang

Aku tau aku berbohong. Aku baru saja selesai mens sejak 3 hari yang lalu. Untung saja mereka tidak mengerti.

“Tante kok mens terus sih?” celetuk Nana.

“Hmmm….tante kalau mens memang panjang harinya Dek…” jawabku tersenyum.

“Tante kalau mens disini orang–orang bunian suka deket loh!” kata Elsa menakuti.

Bulu kuduk ku langsung berdiri antara percaya tak percaya. Tapi aku mencoba sok tegar didepan mereka. Aku tak memasang wajah bimbang sedikitpun.

“Nggak ada kok orang Bunian disini…”

“Ada loh Tante…”

“Nggak ada!” kataku teriak

Aku membiarkan mereka berenang menyusuri air terjun Resun tersebut. Sementara aku menepi melewati batu-batu menuju tepian. Tiba-tiba aku terpeleset dan kakiku terluka, tulang keringku menghantam batu yang tajam. Alhasil berdarah dan darahnya mengalir mencampuri beningnya air dibawah kakiku.

Alam bawah sadarku mengatakan, orang bunian itu memang benar-benar ada dan mereka ingin sekali berkenalan denganku dengan cara menjatuhkan ku. Setiap kali alam bawah sadarku mengatakan itu. Aku selalu mengendali otak ku dengan berfikiran yang masuk akal.

Tapi luka ini sakit sekali…

“Oh, sakit…”

“Kenapa Tante?” tanya Nana

“Jatuh tadi.”

“Tuh kan, masih nggak percaya, orang Bunian itu ada loh Tante,” kata Nana meyakinkanku.

“Nggak ada! Tante jatuh sendiri. Batunya licin terus tante terpeleset. Ya wajar aja,” jawabku

“Itu loh, dibelakang tante. Banyak orang berbaju kuning keemasan….” jelas Nana.

Bulu kudukku merinding, aku berharap Nana bercanda.

“Tante lihat, itu mereka main diatas pohon…melihat tante…”

Aku melihat pohon itu dan sekejap saja ada rantingpun jatuh didekatku, seakan memberi petanda bahwa alam ini adalah bagian dari alam mereka juga. Aku juga lupa ternyata Nana punya kemampuan bisa melihat makhluk gaib.

Sementara kakiku terus berdarah mengeluarkan darah kotornya berwarna hitam menuju ke air. Air terjun yang mengalir di bawah kakiku seakan ikut menakut-nakutiku dan menertawakanku.

Tapi aku tetap tak percaya.

No Comments

Leave a Reply