Memacu Adrenalin di Umbul Sidomukti Ungaran

Memacu Adrenalin di Umbul Sidomukti Ungaran

Rizky
no comments. 162

Ada rasa penasaran yang membuat aku dan kedua saudaraku berkunjung ke Umbul Sidomukti Ungaran yang terletak di daerah Bandungan. Kata semua orang yang pernah ke sana pemandangan di tempat itu sungguh bagus dan menakjubkan. Apalagi, bila dilakukan sembari renang sungguh surga dunia yang turun seketika.

Kami tiba pada pukul 3 sore. Banyak orang yang sudah datang dan menikmati Umbul Sidomukti Ungaran. Mereka berlalu-lalang, silih berganti datang dan pergi. Tujuan pertama orang-orang ini adalah sebuah kolam renang, seakan menjadi kiblat yang wajib untuk dilakukan. Konon, ada yang bilang bila tidak berenang disini maka orang tersebut belum kesini.

Kolam renang setinggi 160 meter ini langsung di serbu oleh banyak orang, seakan kolam ini adalah tempat yang menjanjikan kebahagiaan. Seperti pula Anang, yang tanpa berpikir panjang langsung membuka seluruh baju dan masuk kedalam air yang cukup dingin menurutnya.

“kamu nggak ikut sekalian?” tanya Riris

Sebenarnya aku pun ingin ikut masuk kedalam air tersebut. Sepertinya, air itu melambaikan tangan dan dengan ramah mencoba membujukku untuk masuk kedalam, menikmati surga dunia yang berasal dari alam. Tetapi, ada rasa malu yang mengahantuiku. Yah, aku memang tidak bisa berenang, aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Atau, semua orang tahu bila aku tidak bisa berenang.

“Ayo, nggak terlalu tinggi kok!” kata Anang yang mencoba menjadi setan untuk mempengaruhi imanku.

Pinggiran kolam renang Umbul sido mukti

Pinggiran kolam renang Umbul Sidomukti Ungaran

“Enggaklah,” aku mencoba untuk tetap pada pendirianku.

Aku berdiri di samping kolam renang, memandang setiap orang yang melakukan aksinya. Lompatan mereka begitu indah semacam atlet yang sudah menjuarai berbagai macam kejuaraan.

Di Umbul Sidomukti Ungaran tidak hanya ada kolam renang tetapi, juga ada wisata adrenalin seperti flying fox, jembatan gantung, sepeda diatas tali, dan masih banyak lagi. Mungkin, memacu adrenalin akan menjadi salah satu cara untuk menutupi rasa maluku kepada kedua saudaraku itu.

“Jembatan gantung dan Flying fox aja deh,” kata ku.

“Boleh,” jawab Anang dengan tegas.

“Serius kamu berani?” tanya Riris.

“Berani lah, melompat dari ketinggian aja berani, masak kayak gini nggak berani?” jawabku yang sedikit sombong.

Kami berdua harus menyeberang ke sisi lain dengan kecepatan tinggi yang membuat jantung berdetak seperti genderang. Sejujurnya, ujung kaki hingga ujung kepalaku kaku. Dalam hati aku memanjatkan sebuah doa, karena jurang yang menganga kebawah begitu dalam. Dibutuhkan sebuah konsentrasi tinggi untuk melewati dua rintangan yang menghadang di depan.

Cek Video: Kulonprogo: The Nature Heaven Of Suroloyo

Anang berada di depan, dengan membawa handphonenya ia mencoba untuk mengalihkan rasa paniknya dengan selfie. Sedangkan aku masih mencoba membuat badanku yang tegang dan kaku menjadi rileks. Tali pengaman memang kuat tetapi, pikiran burukku terus saja mengahantuiku yang pada dasarnya takut akan ketinggian.

Angin berhembus dengan sangat kencang, membuat keseimbangan goyah. Jantung semakin berdebar dengan kencang. Aku harus benar-benar berhati-hati. Ditambah lagi, jembatan ini mulai bergoyang dengan cukup kencang. Hingga akhirnya, kaki terperosok kebawah untung saja tali pengaman ini mampu menahanku dari benturan jurang.

Pemandangan alam Umbul Sido Mukti

Pemandangan alam Umbul Sido Mukti

Semua orang tampak panik. Ada yang menjerit yang memacu semua orang untuk menjadikanku sebuah tontonan. Anang yang sudah jauh berada di depan harus kembali untuk menolongku. Petugas pun juga dengan sigap menolongku. Kepalaku sedikit pusing, berkeliling seperti bintang-bintang, berputar-putar tak tentu. Aku pun menyerah dan dibawa kembali ke titik awal.

Jantungku masih berdebar, aku diberi segelas air putih untuk menenangkan diri. Semua orang masih berempati denganku. Walaupun, aku gagal. Namun, setidaknya wisata kali ini sedikit menghiburku dan mampu  melepas penat yang menjadi beban karena rutinitas dan tuntutan pekerjaan. Mungkin, di kemudian hari aku akan mampu menaklukan jembatan ini.

No Comments

Leave a Reply