Mbah Cipto, Pelukis Spatbor Becak Terakhir Di Jogja

Mbah Cipto, Pelukis Spatbor Becak Terakhir Di Jogja

woi.id
no comments. 647

Becak saat ini merupakan benda antik yang keberadaannya sudah hampir sirna. Becak mungkin bisa kamu temukan di tempat-tempat wisata atau perkampungan. Tapi kalau sudah masuk ke area perkotaan, maka Becak adalah barang langka yang bahkan kehadirannya dilarang undang-undang daerah. Zaman memang berjalan cepat, tapi sepertinya laju becak tak bisa secepat zaman. Fungsi dan keberadaan mereka tergerus oleh Ojek, Taksi, hingga Bus Kota. Maka tak jarang para penarik becak alih profesi karena kini becak bukan lagi sebagai moda transportasi, tapi hanya sebagai hiburan pengingat nostalgi.

            Keberadaan becak yang kian tergerus zaman juga mengancamnya, seorang pelukis Spatbor Becak terakhir di Jogja. Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk mewawancarai beliau dan mendengarkan kisahnya.

            Siang yang terik kala itu tak menghentikan saya untuk datang ke rumah salah satu “legenda” perbecakan Jogja, bahkan mungkin dunia. Wirobrajan gang Harjuno no. 32 adalah tujuan saya. Tempat itu merupakan tempat tinggal Mbah Cipto, seorang pelukis Spatbor becak legendaris di Jogja.

            Saat mendatangi area rumahnya, saya sempat terkecoh. Pasalnya rumah berwarna hijau itu nampak besar dan punya pekarangan luas. Sementara studio Mbah Cipto ada di samping gerbang dan nampak kecil dan agak sedikit kotor. Setelah memarkirkan motor saya menengok sejenak ke dalam studio kecil yang hanya ditutupi oleh beberapa kayu bekas dan karya-karyanya. Tak ada orang disana, mungkin beliau sedang makan di warung sebelah pikir saya. Kemudian saya pun mendatangi warung sebelah dan menanyakan apakah Mbah Cipto ada disana. Rupanya beliau tak ada di warung itu.

Mbah Cipto dan Karyanya

Mbah Cipto dan Karyanya

            “Ten lebet ketok e mas. Njenengan melbet mawon” ucap sang penjaga warung dalam bahasa Jawa Alus yang artinya “Di dalam mungkin mas, masuk saja”.

            Saya pun kemudian kembali ke pekarangan rumah Mbah Cipto dan melihat ada sesosok tua renta yang sedang berjalan menaruh pakaiannya di jemuran. Sosok tua itu nampak ringkih tapi sekaligus tangguh.Sosok tua itu adalah Mbah Cipto. Saya sempat terdiam mematung beberapa saat karena terpikir bahwa sosok itu sudah sangat tua. Mungkin kehadiran saya mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin sebaiknya saya menggagalkan keinginan saya mewawancarai beliau karena mungkin dia akan marah karena waktunya terganggu. Hal-hal itulah yang saya pikirkan ketika melihat Mbah Cipto. Ada sejuta rasa iba dan tak tega melihatnya. Tapi akhirnya saya memberanikan diri dengan berpikir bahwa saya paling tidak harus mencoba menyapanya. Mungkin jika ia tak mau di wawancara maka saya maklum dan akan segera meninggalkannya.

Karya Mbah Cipto On progress

Karya Mbah Cipto On progress

 

Karya Mbah Cipto

Karya Mbah Cipto

 

Karya Mbah Cipto

Karya Mbah Cipto

 

Mbah Cipto dan Karyanya

Mbah Cipto dan Karyanya

 

Karya Mbah Cipto

Karya Mbah Cipto

               Saya kemudian mendekat ke pintu depan rumah itu dan mengetuknya. Mbah Cipto langsung menoleh dan nampak pendengaran beliau masih sangat tajam. Dengan ramah beliau menyambut saya. Saya pun berusaha sebaik mungkin untuk meminta waktunya sebentar untuk wawancara. Apa yang saya kira di awal tadi bahwa beliau akan menolak dan memilih untuk beristirahat rupanya salah besar. Beliau justru dengan sangat ramah menyapa saya dan memberikan saya waktu untuk mewawancarai beliau.

Baca Berita Lainnya:  Bius Ampuh Festival Payung Solo

            Setelah jabat tangan yang hangat dari Mbah Cipto, kami berdua langsung pergi menuju studio kecil Mbah Cipto yang agak kotor dan berdebu. Kami lalu duduk di dalam studio dan memulai sesi wawancara tersebut.

            Pertanyaan pertama tentu tentang sejarah kenapa Mbah Cipto bisa sampai menjadi seorang pelukis becak. Dengan mata yang bagian sekitar pupilnya nampak abu-abu, Ia menceritakan sejarahnya sebagai pelukis Spatbor Becak. Ia memulai pekerjaannya sebagai pelukis spatbor di tahun 1960an. Beliau sendiri nampak kesulitan mengingat tepatnya tahun berapa beliau memulai melukis. Awalnya Mbah Cipto bukan bekerja sebagai tukang lukis spatbor, tapi sebagai tukang es di sebuah pabrik Es bernama Es Baru. Lalu pada tahun 60an, sang pemilik yang memiliki banyak becak menyuruh Mbah Cipto untuk memperbaiki becak-becak yang rusak dan melukis spatbor becak tersebut. Dari sanalah kemudian perjalanan Mbah Cipto sebagai seorang pelukis Spatbor dimulai.

Baca Berita Lainnya:  Pantai Watu Lawang Jogja

            Awalnya Mbah Cipto bekerja di bawah naungan juragannya di pabrik es tersebut. Tapi kemudian ia memutuskan untuk keluar dan memulai usahanya sendiri. Si Mbah yang tak memiliki pendidikan seni sama sekali dengan alamiah belajar melukis sendiri. Pada masa awal-awal dulu Mbah Cipto bisa menerima 10 becak perbulan. Dulu ia mematok harga 50 ribu rupiah setiap garapan spatbor becak. Saat ini Mbah Cipto terkadang hanya mendapat 3 pasang garpan spatbor dan memasang harga 250 ribu tiap spatbor.

            “Dulu ketika masih banyak becak, belum ada bis kota, taksi, ojek, rame mas. Sebulan bisa dapat 10 pesanan spatbor” katanya dalam bahasa Jawa Alus.

            Awalnya saya berpikir nasib lelaki dengan 7 anak, 18 cucu dan 10 cicit ini sangat bergantung pada keberadaan becak. Ternyata semangat dan daya kreatifitasnya tak membuatnya bergantung penuh pada becak. Ketika keberadaan becak tergerus zaman, Ia membuat karya seni lain mulai dari hiasan, plat nama, kotak amal sampai kuburan Cina pun ia lukis.

            Pria yang pernah mengikuti pameran di JNM ini mengatakan bahwa karya seninya tersebut sudah terjual sampai ke beberapa negara.

Sepeda, Teman Setia Mbah Cipto

Sepeda, Teman Setia Mbah Cipto

 

Keluarga Mbah Cipto

Keluarga Mbah Cipto

 

Piagam Mbah Cipto

Piagam Mbah Cipto

 

Piagam Mbah Cipto

Piagam Mbah Cipto

            “Sudah sampai Amerika, Jerman, Australia, Nederland. Dari Nederland kemarin ada yang beli profesor. Yang sering dari Australia, biasanya dipakai olahraga sama keluarga mereka, kan becak digenjot, bisa olahraga sama keluarga” katanya dengan senyum kecil penuh bangga.

Baca Berita Lainnya:  Ramahnya Mentari di Atas Awan Kediwung

            Selain melukis Mbah Cipto juga pernah menjadi juri sebuah acara yang diselenggarakan di salah satu kampus swasta di Jogja. Ia juga pernah bertemu dan memberikan cindera mata pada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono.

            “Mbah, tidak kepikiran untuk berhenti? Nggak capek?” tanya saya pada Mbah Cipto.

            Dengan tenang dan yakin mbah Cipto menjawab “Enggak mas, saya masih kuat”

            Mbah Cipto menjelaskan bahwa ia sampai sekarang masih berkeliling menggunakan sepeda untuk memperbaiki becak. Menurut penjelasannya beliau kebanyakan mendapatkan order memperbaiki atap becak dari pada spatbor becak. Selain masih kuat, Mbah Cipto juga mengatakan bahwa ia memilih untuk tetap menjalani pekerjaan ini dan tidak berhenti lalu tinggal dengan salah satu anaknya adalah karena ia tak ingin merepotkan siapapun dan ia sudah terbiasa bekerja.

            Setelah sesi wawancara itu saya pun meminta ijin untuk mengambil beberapa foto karya Mbah Cipto. Ia mempersilahkan dan mengantarkan saya untuk melihat semua karya-karyanya.

            “Kalau yang ini harganya 100 ribu, kemarin ada dari Bantul yang pesan ini” katanya sambil menunjuk salah satu karyanya.

            Mbah Cipto lalu mempersilahkan saya masuk ke dalam rumahnya. Jawaban atas pertanyaan rumah yang begitu besar dan ditinggali oleh Mbah Cipto sendiri pun muncul. Rupanya beliau hanya tinggal di sebuah rumah petak kecil berukuran kira-kira 8 meter persegi di pojok dalam area rumah besar tersebut. Di dalam rumah yang kecil terpampang foto istrinya yang meninggal 2 tahun lalu. Saat ditanya apakah beliau tak merasa kesepian? Mbah Cipto menjawab dengan pasti bahwa ia sudah terbiasa. Mbah Cipto juga menunjukkan sebuah spatbor yang sedang ia garap hari itu.

            Obrolan saya yang hangat dengan lelaki tua penuh semangat dan inspirasi itu berakhir. Senyum ramahnya mengantar kepulangan saya. Mbah Cipto adalah pelukis spatbor terakhir di Jogja.

            “Saya yang terakhir mas” katanya sambil melihat jauh ke belakang saya seolah-olah mengatakan bahwa pelukis spatbor akan punah seiring becak yang tergerus zaman.

No Comments

Leave a Reply