Malam Pertama di Bus Tingkat

Malam Pertama di Bus Tingkat

Rizky
no comments. 76

Entah mengapa sejak dahulu, aku paling tidak suka dengan naik bus apalagi Bus Tingkat. Mungkin, karena lebih suka dengan naik kereta api jadi, jika ada seseorang mengajak naik bus langsung aku tolak mentah-mentah tanpa mau tahu alasannya. Ya, seperti itulah aku dahulu.

Saat ini sebenarnya hampir sama tetapi, yang jadi pembeda adalah sebuah bus tingkat yang cukup mencuri perhatianku. Setahuku, di Indonesia hanya ada satu bus tingkat yaitu, werkudara yang dimiliki oleh kota solo. Itu pun tidak setiap hari berangkat. Hanya waktu-waktu tertentu seperti halnya kereta api kuno yang harus di sewa dengan harga puluhan juta rupiah untuk bisa menikmatnya.

“Serius nyaman?”

“Nyaman,”

“Nanti kalau saya mabuk gimana?”

“Gag bakalan,”

“Dijamin ya?”

“Pasti, aku yang tanggung jawab kalau sampai kamu mabuk,”

Video On Demand yang cukup menghibur

Video On Demand yang cukup menghibur

Itulah sedikit perdebatanku dengan Fajar yang sejak kecil paling hobi naik bis. Sejujurnya, aku masih enggan untuk naik Bus Tingkat apalagi tujuan kami adalah kota Jakarta. Kemacetan jalanan dan keadaan yang tidak diinginkan sudah terekam dan menjadi sebuah hantu yang selalu menghantuiku dalam setiap mimpi-mimpi yang terjadi setiap malam.

Waktunya pun telah tiba, kami berdua menunggu bus itu di sebuah agen. Cukup lama kami menunggu, karena memang kami datang terlalu awal. Biasalah Fajar, tidak ingin melewatkan sedikit pun momen dengan bus-bus yang sedang berjajar mengantri waktu tepat pemberangkatan dan peluit tanda keberangkatan.

Hingga waktu pun menunjukkan pukul 12.30, di mana bus kami sudah datang dan dengan sangat ramah memberikan kami pintu dengan tangga naik keatas. Kami duduk di bagian atas dan paling depan. Dimana kami bagaikan seorang sopir yang siap membawa penumpang ke tempat tujuan mereka.

Interior Bus Tingkat ini cukup bagus. Di sana sudah ada VOD yang merupakan salah satu hiburan paling favorit selama perjalanan. Film dan musiknya pun cukup kekinian. Dan saat bus berjalan, suasananya pun menjadi berbeda.

“kalau sampai Jakarta terlambat gimana?” kata ku yang masih mencoba untuk berkompromi.

“Sudah lah, nggak usah rewel, mending sekarang pakai selimutnya dan tidur aja sana!” kata Fajar yang masih melihat pemadangan kota yang cukup elok karena hujan yang turun.

Naik bus dikala hujan adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi seorang pecinta bus. Mereka selalu menginginkan momen ini. Bagi mereka situasi dingin udara yang berpadu dengan dinginnya ruangan membuat suasana menjadi aduhai nikmat sekali. Tetapi, menurut tetap sama saka dan sejujurnya aku adlaah orang yang membenci dingin.

Pemandangan gunung di tol salatiga sore hari

Pemandangan gunung di tol salatiga sore hari

Cek Kabar: Rawa Pening: The Hill Of Love

Bus ini melewati tol salatiga yang memang dikenal dengan pemandangan gunung merapi yang spektakuler. Decak kagum pun turut menyertai perjalanan kami di tol ini. Pemandangan merapi yang begitu gagah menjulang tinggi tersaji dengan sempurna. Tidak hanya itu saja, gunung ungaran pun tak kalah megahnya menjulang tepat dihadapan kami. Pemandangan yang tidak kalah bagusnya saat aku naik kereta api tujuan bandung, apalagi, sinar senja telah meredup secara perlahan. Sungguh indah nian cipataan Tuhan.

Salah satu hal yang paling ditunggu adalah servis makan yang cukup nikmat, karena mungkin  efek lapar yang sudah menyerang sejak tadi. Dengan segelas teh hangat, rasanya cukup menjadi penawar lelah dan siap kembali melanjutkan perjalanan.

Malam pertama ini memang cukup menyenangkan dengan selimut, bantal, tempat duduk yang nyaman serta legrest yang oke pula. Terasa seperti berada di rumah dengan iringan melodi-melodi merdu. Sesaat, seperti tidak berada dalam suasana bus seperti dalam mimpi-mimpi yang selalu menghantuiku.

Ternyata apa yang aku takutkan pun terjadi. Jalanan tol macet sepanjang 12 km, yang membuat laju bis kami tidak bisa secepat tadi. Aku yang sudah ditelpon oleh temanku bingung harus berbicara apa. Maklum saja, aku sudah berjanji untuk datang tepat waktu di acara syukuran wisuda yang di adakan pada pukul 8 pagi.

Merapi yang megah

Merapi yang megah

Sementara, pukul 8 pagi bis ini masih belum beranjak dari tol  hingga pada akhirnya, temanku marah dan tidak lagi menjawab teleponku. Sampai dijakarta kami pukul 2 siang, temanku masih saja tidak mau menjewab teleponku, dia tampak begitu kecewa dengan alasanku yang terkena macet di tol. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk kembali. Dengan pemandangan gunung yang kembali mengobati hati.

No Comments

Leave a Reply