Kuliner Khas Tasikmalaya, Nasi Tutug Oncom Bandung

Kuliner Khas Tasikmalaya, Nasi Tutug Oncom Bandung

Rizky
no comments. 146

Cuaca kota Bandung kali ini cukup panas menyengat, mungkin suhunya sudah mencapai 30 derajat celcius, mungkin juga bisa lebih. Beginilah kalau bumi sudah semakin tua, dan polusi udara semakin bertambah. Mungkin, beberapa tahun lagi suhu kota Bandung yang dikenal dingin akan menjadi 40 derajat celcius layaknya padang pasir Arab Saudi.

Menghindari dari rasa panas yang begitu tega dan tanpa ampun ini. Akhirnya aku dan Faizal memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah restoran yang cukup megah. Maklumlah, niat kami hanya ingin mendapatkan kesejukan AC, agar otak dan hati kami bisa menjadi lebih dingin. Sekaligus, memberi makan cacing-cacing kami yang sudah sejak tadi berjajar demo menuntut makanan.

Restoran ini menyediakan menu tradisional Bandung. Banyak yang aku tidak tahu, dan juga yang asing ditelingaku. Ada satu hal yang sebenarnya ingin aku pesan yaitu Nasi Tutug Oncom Bandung. Tetapi, aku batal memesannya lantaran harga yang selangit dan juga aku tidak tahu menahu bentuk serta rasanya. Aku takut tidak sepadan dengan harga yang harus aku bayar. Terpaksa aku memilih Nasi Timbel yang memang sejak dahulu aku sudah mengenalnya.

Baru lima menit aku memesan, pesanan makananku sudah datang. Aku sedikit curiga, restoran disini sangat ramai. Mana mungkin, ada restoran dengan pelayanan secepat ini. Tetapi, aku mencoba untuk berpikiran positif dan mencoba memakannya.

Sumber : Sumber.com

Sumber : Sumber.com

“Kamu beneran pesen itu?” tanya Faizal,

“Kenapa memang?”

“Itu bukannya Nasi Tutug Oncom Bandung?” kata Faizal

Belum sempat aku beragumen menjawab pertanyaan Rizal, aku sudah memakan nasi itu. Ada rasa gurih yang menyebar luas di mulutku. Rasa yang tidak akan pernah bisa diungkapkan dengan berbagai macam kata. Cukup nikmat dan sangat lezat untuk suapan pertama. Sampai-sampai aku terbayang-bayang dan tidak menghiraukan perkataan lanjutan Faizal.

Ada yang tidak menyenangkan saat aku mencoba untuk suapan kedua, yaitu pelanggan disebelahku yang mulai marah-marah karena pesanannya belum juga datang. Sudah hampir setengah jam ia menunggu. Pelanggan itu sampai-sampai menggebrak meja dan memaki pelayan yang datang menghampirinya dan mencoba menenangkannya.

“Maaf kak, saya tadi salah antar, harusnya ini bukan pesanan kakak,” kata seorang pelayan yang masih memakai seragam putih hitam.

“Yah, terlanjur sudah dua suap?”

“Waduh gimana ini?”

“Saya nggak mau bayar, kan yang salah antar kamu bukan saya yang salah makan,”

“Iya, tapi…..” kata pelayan itu yang mulai gelisah.

Pelanggan disebelahku masih saja ribut bagaikan angin topan yang memporak-porandakan seluruh isi restoran. Ia pun tidak malu menjadi bahan tontonan gratis para pengunjung lainnya. Dia memaki semua pelayan termasuk supervisor yang harus juga turun tangan.

Pelayan yang menghampiriku tadi masih mencoba untuk membujukku agar mau membayar makanan itu. Dia bercerta panjang lebar hingga menitihkan air mata. Ia pun juga meminta maaf atas kesalahannya. Tetap saja aku tidak mempedulikannya dan membiarkan dia pergi dengan sebuah raut wajah kesedihan yang tampak mendalam.

Pelanggan disebelahku pun akhirnya pergi, dia pun juga tidak mau membayar apa yang sudah ia pesan. Sebenarnya, Supervisor itu sudah mampu membujuknya untuk membayar setengah harga, entah mengapa mereka berubah pikiran dan langsung pergi begitu saja. Kemudia, aku sempat  dengar pelayan yang datang kepadaku dimarahi dan suruh mengganti semua kerugian yang ada.

Cek Kabar: Kulonprogo: The Nature Heaven Of Suroloyo

Aku pun masih tidak peduli, aku mencoba menikmati sajian makanan yang ada didepanku. Nasi Tutug Oncom Bandung yang berasal dari Tasikmalaya yang konon dahulu adalah makanan untuk orang menengah kebawah, karena restoran mewah seperti ini tidak ada yang mau untuk menjualnya.

Nasi Tutug Oncom Bandung adalah perpaduan nasi dengan oncom. Oncom adalah sejenis tempe yang sama-sama berbahan dasar kedelai. Makanan ini hanya bisa dinikmati saat hangat. Jika dingin, rasa akan berubah drastis dan membuat cita rasa yang muncul menjadi tidak enak.

Sumber : coba-coba-isna.blogspot.com

Sumber : coba-coba-isna.blogspot.com

Rasa yang hadir dalam nasi ini adalah Gurih, Asin, dan pulen dari nasi serta pedas dari sambal yang menjadi partner sejati yang tidak akan pernah mati. Orang sunda menyebut sambal ini dengan nama “Goang”.

“Proses pembuatannya lama lho,” kata Faizal

“Serius?’

“Iya, jadi oncom yang awalnya berbetuk balok seperti tempe dihancurkan menjadi buliran, lalu dijemur dibawah sinar matahari. Setelah selesei dijemur, diberi bumbu dijemur lagi,”

“Dijemur lagi?”

“Nanti oncom yang dijemur akan berwarna kecoklatan lalu digoreng tanpa minyak, sampai muncul bau khas oncomnya, pembuatan Nasi Tutug Oncom ini harus dadakan soalnya Oncom nggak bisa tahan lama, paling sehari, kalau terlalu lama takut jadi racun,”

Memang kuliner khas Sunda ini nggak ada matinya. Akhirnya, aku yang merasa iba membayar nasi ini dan juga apa yang sudah aku pesan tadi. Nasi yang enak dan bercita rasa Nusantara yang tinggi membuat harga yang harus ku bayar menjadi sepadan.

 

No Comments

Leave a Reply