Keindahan Dua Sisi Kawah Bromo Malang

Keindahan Dua Sisi Kawah Bromo Malang

Rizky
no comments. 62

Mentari telah menunjukkan sinarnya. Rasa takjub yang sedari tadi tercipta membuat pemadangan Kawah Bromo Malang menjadi sebuah ucapan rasa syukur karena Tuhan telah memberikan negeri ini sebuah keindahan yang luar biasa. Keindahan yang diakui oleh seluruh dunia yang sayangnya, masih belum banyak orang Indonesia mengakuinya. Seperti halnya Kawah Bromo Malang yang ceritanya telah mencapai ke seluruh penjuru dunia.

Banyak wisatawan asing yang berdatangan ke Kawah ini untuk melihat betapa Tuhan telah memberi sebagian kecil dari surganya di kawasan ini. Terlebih lagi dengan cerita rakyat yang selalu menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung dan menikmati setiap sisi pesona yang ditawarkan Kawah Bromo Malang.

Naik Kuda

Naik Kuda

Aku dan Melia pun masih begitu takjub dengan Kawah yang satu ini. Setelah melihat pemandangan cantik matahari terbit. Saatnya untuk melihat Kawah Bromo Malang yang bersanding denga Gunung Batok yang terkadang sering kali orang salah mengira jika Gunung Batok adalah Gunung Bromo.

Dari parkiran mobil jeep kita akan berjalan sejauh 3,5km dengan badai pasir yang gersang. Jarak yang cukup jauh bagi Melia yang seorang kantoran dan jarang berolah raga. Jarak itu baginya setara dengan 35km. Tetapi, bagiku jarak itu tidak terlalu jauh karena memang alam adalah tempatku berpijak.

“Naik kuda aja yuk!” ajak Melia.

“Kenapa harus naik kuda? Jalan kaki aja kan sampai,” kata ku.

“Bapaknya tadi kan bilang kalau kita harus cepat-cepat disini, lagipula matahari udah mulai jahat lho, udah mulai panas,”

Beberapa orang pun datang untuk menawarkan jasa kudanya kepada kami. Mereka mematok harga 150rb pulang-pergi. Tetapi, Melia yang seorang marketing sekaligus pedagang pasar yang mempunyai lidah seperti ular yang berbisa langsung menawarnya. Hingga disepakati harga 50ribu untuk satu kuda hanya pergi saja.

Pemadangan di bibir kawah Bromo

Pemadangan di bibir kawah Bromo

Ada sensasi tersendiri naik kuda. Sensasi yang terasa begitu menyenangkan dan juga menakutkan. Karena dibutuhkan keseimbangan dan badan yang harus benar-benar rileks. Pemandu kami pun dengan handal menenangkan kuda yang dan dengan sabar ikut berjalan di tengah hamparan pasir yang luas.

Saat jalan menanjak, saat itulah aku merasakan seperti naik roller coster saat tanjakan naik. Tubuhku agak sedikit tidak seimbang sehingga badanku agak sedikit miring ke bawah. Yang aku takutkan adalah jika aku terjatuh kebawah, betapa sakitnya badanku, karena pasir ini tidak cukup empuk untuk sebuah pendaratan darurat.

Cek Kabar: Karstubing Sedayu: The River Of Adventure

Kuda ini berhenti beberapa meter dari anak tangga. Banyak orang yang sudah mengantri naik tangga yang mirip dengan anak tangga candi Borobudur. Mereka seakan bersabar untuk mendapatkan giliran naik anak tangga yang menjadi jalan menuju kawah bromo.

Sesampainya di bibir kawah, suara bergemuruh terdengar begitu sangat keras. Sungguh menakutkan, seperti gambaran sebuah neraka yang bergemuruh seakan-akan ingin memuntahkan apa yang ada dalam isi perutnya. Tak lama kami berada disana, kami pun memutuskan untuk turun.

Ada pemandangan yang berbeda saat kami turun. Wisatawan Asing yang tidak sabar menunggu, memilih mendaki di sebelah tangga dengan semangat 45 berkobar dalam pundaknya. Sungguh pecinta alam yang luar biasa yang patut dijadikan sebuah pelajaran.

wisatawan asing yang memilih jalur berbeda dari yang lain

wisatawan asing yang memilih jalur berbeda dari yang lain

Jantungku kembali berdebar saat kami kembali naik kuda. Jalanan turun membuat aku terasa mau jatuh, dengan keseimbangan yang kurang begitu baik. Aku benar-benar merasakan takut yang luar biasa, sementara debu-debu bertebangan kesana kemari membentuk kumpulan asap tebal.

Melia yang terus bersin-bersin tanpa sengaja menggerakkan badan yang membuat kuda itu kaget dan berlari. Melia pun mengagis ketakutan dan meminta tolong, sememntara badannya hampir saja jatuh. Untung pemilik kuda dengan sigap mampi mengejar kudanya dan menolong Melia. Ia pun tampak menangis ketakutan.

Sensasi ini memang tidak akan pernah terasa dimana pun. Sensasi naik kuda untuk pertama kalinya. Begitu menyenangkan tetapi, juga begitu menakutkan. Mungkin, jika berkunjung kesini lagi, aku akan kembali naik kuda menuju Kawah Bromo lagi

No Comments

Leave a Reply