Kapurung, Makanan Khas Sulawesi

Kapurung, Makanan Khas Sulawesi

Rizky
no comments. 100

Masih di Kota Makassar yang hari ini tampak begitu cerah dengan sedikit awan mendung yang seakan membuat matahari terkesan manja. Udara sejuk kota Makassar juga ikut andil dalam membentuk rasa hati yang mulai tumbuh dengan kobaran api, membakar semangat untuk membawa hari menjadi lebih baik lagi.

Setelah puas berolahraga pagi, menguras keringat untuk membunuh lemak-lemak jahat. Ada sebuah warung makan yang dikerumuni banyak orang, layaknya semut-semut yang berjajar dan bergotong royong untuk membawa sebutir gula yang terjatuh.

“Itu warung apa?” tanyaku kepada Nia.

“Warung makan, enak lho itu makanannya,” Jawab Nia yang seakan menunjukkan rasa keinginannya untuk makan ditempat itu.

“Makanan apa sih?” Tanyaku yang sedikit penasaran.

“Kapurung, makanan khas Makassar, yuk!” Ajak Nia yang menggenggam tanganku dan memaksa untuk mengikutinya.

Sumber : google.com

Sumber : google.com

Kapurung adalah makanan khas tradisional Sulawesi Utara khusunya masyarakat daerah Luwu, Kota Palopo. Makanan ini terbuat dari sari atau tepung sagu. Kapurung di masak dengan campuran daging atau ikan dan tak ketinggalan pula dengan aneka macam sayuran. Dahulu makanan ini hanya akan dijumpai di rumah-ruamah warga saja. Tetapi, sekarang makanan ini telah banyak dijumpai di restoran-restoran karena cita rasanya yang membuat orang selalu ingin nagih.

Memasak Kapurung haruslah memakai sagu asli yang masih segar yang biasanya di dapat langsung dari pohonnya agar rasa yang akan dihasilkan sesuai dengan rasa aslinya. Tetapi, biasanya masyarakat Sulawesi menggantinya dengan sagu tani yang dibeli di supermarket karena sulit menemukan pohon sagu asli. Walaupun, rasa yang akan dihasilkan akan berbeda.

Cek Kabar: Karstubing Sedayu: The River Of Adventure

Ditengah-tengah kami asyik mengantri dan mencium bau sedapnya yang semakin membuat perut keroncongan. Seorang Ibu-ibu dengan badannya yang sedikit melebar itu tiba-tiba masuk kedalam antrian terdepan dan memesan kapurung tanpa peduli orang lain yang sudah antri.

Ibu itu bagaikan seorang ratu yang harus segera dilayani dan tidak peduli bagaimana yang lainnya dengan sabar mengantri seperti ular sejak tadi. Beberapa orang hanya berbisik-bisik dan seakan ikhlas dengan perbuatan Ibu itu.

Tidak bagi Nia, dia pun menghampiri Ibu itu dan menyuruhnya untuk antri. Darah jawa yang masih terasa sangat kental membuatnya terkesan sangat ramah dan halus. Tetapi, Ibu itu tidak peduli dan seakan acuh, menganggap Nia tidak ada serta omongannya adalah Angin lalu.

“Bu, kau bisa antri? Liat kami yang sedari tadi mengantri, kau tak tahu norma kesopanan bukan?” kata Nia dengan nada tingginya.

Aku tahu benar jika kesabarannya sudah habis. Nia bagaikan singa yang terbangun karena lapar dan siap menerka siapa saja yang ada dihadapannya. Teriakan Nia itu membuat semua pelanggan termasuk pemilik warung kaget. Terlebih lagi Nia tidak hanya satu kali berteriak melainkan, berkali-kali hingga Ibu itu menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan dengan pergi begitu saja meninggalkan pesanananya yang sudah dibuat.

Sumber : gogle.com

Sumber : gogle.com

Aku pun segera membawanya duduk dan menyuruhnya meminum es teh manis yang dingin agar dirinya ikut dingin. Tak lama kemudian, kapurung pesanan kami pun datang. Satu suapan saja membuatku terbang tinggi melayang hingga ke angkasa raya. Cita rasa Nusantara yang khas yang muncul dari aroma remapah-rempah dan rasa asam dari manga muda bersatu di mulut. Memberikan efek ledakan luar biasa.

“Enak banget,” kataku dengan ekspresi lucu yang membuat Nia sedikit tersenyum.

Selain menggunkan sagu, resep makanan ini juga menggunakan Asam Patikalla yaitu kecombrang yang termasuk dalam rempah andalan yang memberikan rasa asam dan gurih. Selain rasanya yang asam dan gurih rempah yang satu ini ternyata memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Entah bagaimana mengungkapkannya, sebuah rasa yang berbeda dari Kapurung yang wajib di coba.

No Comments

Leave a Reply