Kapal Lingga Permai Tak Profesional! Hati-hati…

Kapal Lingga Permai Tak Profesional! Hati-hati…

ulatgogok
no comments. 126

20170704_174934

Sebenarnya ini cerita lama. tepatnya sepuluh harinya lebaran. Tapi masih membekas dalam ingatanku. Aku menyangka perjalanan pulang ku ke kota Tanjung Pinang dengan Kapal Lingga Permai bisa membuat aku permai untuk tidur nyenyak selama kurang lebih 4 jam di kapal sembari mendengarkan lagu country di headphone ku. Aku menyangka kenikmatan alam tiada tara yang disuguhkan oleh alam lautan Daik Lingga ini membuat aku bisa bernafas lebih segar jika berdiri di teras deck belakang kapal ini. Aku fikir aku bisa duduk di jendela sambil makan sisa-sisa kue lebaran di toples yang kubawa. Tapi semua itu justru hanya perkiraanku saja. Alam raya dan lautan Daik memang masih menyuguhkan ku pemandangan yang permai. Tapi akibat ulah kecurangan awak kapal yang menjual tiket yang sama sebanyak dua kali membuat aku harus menerima kenyataan bahwa di kapal ternyata seperti bis kota yang penuh dan sesak dengan bau-bau orang dan kaus kakinya. Ku kira peristiwa seperti ini hanya bisa terjadi di bus saja. Ternyata, kapal dengan system penjualan tiketnya resmi lewat agen yang resmi pun keadaannya seperti ini.

20170708_145238

 

20170704_174314

 

 

Kami sekeluarga berangkat pukul delapan pagi dari rumah menuju pelabuhan Tanjung Buton, dengan segala ekspektasi yang ada aku telah merencanakan untuk membawa bantal dan headphone agar ponakan-ponakan ku tidak mengusili dan menggangguku. Sampai dipelabuhan Tanjung Buton, aku bisa merasakan hawa segar nan sejuk.dibawa dari gunung menuju pelabuhan dengan panjang dermaga sekitar 500 meter menuju kapal. Gunung daik dan perbukitannya tampak seperti lukisan yang nyata. Alam ini sungguh seperti dibentangkan Tuhan untuk selalu dijaga dan di nikmati lalu dihayati.

“Pak, ini tiket nomor tempat duduknya 88, 89, 90, 91, 92 dan 93 ya?” kata ajudan Bapakku.

Bapakku bekerja sebagai staff ahli di kantor Walikota Daik, maka Bapakku pun tampaknya berhak mendapatkan pelayanan dari ajudannya dari membeli tiket sampai mencarikan kursi dikapal.

“ya sudah kalau begitu, nanti bantu taruh koper-koper di deck kapal atas ya?” perintah Bapakku dengan lembut.

Aku memimpin nenekku yang sudah tua, sementara ponakan-ponakan ku berdampingan dengan ibu dan abangku turun menuju kapal. Ternyata penumpang sangat ramai dan berdesak-desakan. Ibuku mulai mengambil alih sebagai pelayan yang sangat baik untuk keluarganya. Sampai di Kapal Lingga Permai ibuku mencocokkan nomor dan tiket sementara aku menjaga ponakanku sembari memimpin nenekku. Ternyata nomor kursi yang ada di tiket dan dikapal sudah diisi dengan orang lain. Betapa marahnya ibuku lalu ibuku melihat keadaan tersebut. Ibu berdebat dengan awak kapal cukup mencuri perhatian dan memalukan. Tapi begitulah ibu, apapun keadaannya, ibu memang seperti aktor Bollywood yang dendam nya selalu terbalaskan.

“kenapa nomor kursi saya sudah ada yang mengisi? Saya beli tiket ini di agen resmi. Bagaimana ibu saya bisa duduk? Beliau sudah tua. Mana ada penumpang yang mau mengalah 4 jam diatas laut ini? Tolong kondisikan lah Pak. Kan sudah ada aturannya.”

“makanya Bu, datangnya awal-awal…”

“saya datang tepat waktu loh Pak. Bahkan sebelum kapal ini datang saya sudah standby disini! Tidak usah mengarang cerita. Wong, saya masuk ke kapal sudah ada penumpang lain yang duduk di kursi saya. Tau gitu saya nggak akan beli tiket.”

“sudahlah Bu. Tidak usah ngomel! Penumpang makin ramai ini. Duduk aja dimana ibu bisa duduk!” kata salah satu petugas kapal membentak ibuku.

20170709_102658

ibuku tambah emosi pada petugas Kapal Lingga Permai, lantaran penumpang juga semakin banyak yang berdesak-desakan. ibu mencari akal sementara kami semua berinisiatif dan rela duduk masing-masing ditempat yang bisa diduduki bahkan dilantai pun aku juga sanggup. Akhirnya aku duduk diatas koperku sendiri, disebelahku nenekku berdiri dipegangan pelampung. Keadaan semakin risih ketika penumpang tambah membludak. Bau kaus kaki, bau ikan, bau mulut bahkan bau ketiak bercampur aduk, sampai kapal sedikit oleng karena keberatan penumpang. Dengan tidak segan-segan ibu menegur orang-orang yang sudah duduk dikursi yang seharusnya menjadi kursi keluarga kami.

Cek Kabar: Jangan Sakit Di Desa Pancur Lingga, Kepri, Soalnya…

“maaf ya Dek, Pak dan Ibu. Tiketnya nomor kursinya berapa? Kalau saya 88, 89, 90 dan seterusnya. Saya boleh tau nomor tiket kalian?” Tanya ibuku

“kami nomor 55,56,57 bu…”

“oh, ya maaf. Ibu tau ini nomor 88,89,90 ya? Nomor tiket ibu, bapak dan adek itu di deck depan. Ini, kursi saya, ibu dan anak saya. Tolong pindah ya Bu!”

“tapi didepan penuh Bu…” kata seorang Bapak

“ya sudah bilang saja ke mereka yang ngisi kursi Bapak supaya tidak duduk disana. Kok gitu aja repot. Kalau Bapak takut sini saya temenin!” kata ibuku memaksa Bapak tersebut

Dengan langkah keberatan dan wajah yang tidak senang, tiga orang yang mengisi bangku kami itu pun keluar pergi ke depan, dengan begitu nenek, ayah dan ponakanku bisa duduk tenang. Ibuku masih menyelamatkan 4 nomor lagi yang diduduki oleh seorang kakek-kakek tua serta beberapa anak muda.

“sudahlah Bu. Bapak dan Lukman duduk di teras luar aja sambil merokok. Kursi bapak, buat ibu saja. Kakek-kakek itu biarkan saja Bu. Kasihan sudah tua kalau disuruh berdiri.” Bisik Bapakku.

4 jam perjalanan dengan kapal Lingga Permai ini benar-benar tidak ada pelayanan yang maksimal, tidak ada pengecekan tiket, tidak ada pemeriksaan nomor bangku, tidak ada orang-orang yang menjajagakan minuman dan makanan ringan. bau mesin, bau solar, bau ketiak, bau mulut, bau-bau yang tidak mengenakkan perasaan bercampur seperti racun dalam ruangan Kapal Lingga Permai yang diendap banyak orang ini. Aku hampir oleng sembari memeluk ponakanku. Gelombangnya kuat sekali. kulihat nomor tiketku, lalu kurobek sendiri. Tapi aku tidak boleh menyesali pelayaran ini karena semua orang memang adanya begini. Menderita.

No Comments

Leave a Reply