Jogja Garuk Sampah, Kelompok Inspiratif “Penjaga” Kebersihan Jogja

Jogja Garuk Sampah, Kelompok Inspiratif “Penjaga” Kebersihan Jogja

Indonesia Jernih
no comments. 349

Jogja merupakan salah satu kota wisata yang rutin dikunjungi wisatawan. Sebagai sebuah kota wisata, Jogja memiliki banyak masalah terutama soal kebersihan. Tapi beruntunglah Jogja memiliki orang-orang yang begitu peduli pada masalah ini. Bukan dari pihak pemerintah yang memang sudah tugasnya, melainkan dari sekelompok masyarakat yang berasal dari berbagai elemen yang menamakan diri mereka Jogja Garuk Sampah.

Siang itu saya berkesempatan untuk mewawancara 2 orang yang menjadi koordinator Jogja Garuk Sampah. Mereka adalah Bekti dan Dicky. Dua orang yang masih terbilang cukup muda ini merupakan salah satu motor dari Jogja Garuk Sampah.

Source: IG Jogja Garuk Sampah

Source: IG Jogja Garuk Sampah

Bekti mengatakan bahwa Jogja Garuk Sampah ini bukan komunitas meskipun memiliki struktur organisasi di dalamnya.

“Jogja Garuk Sampah sendiri mungkin orang taunya komunitas ya, tapi kita bukan komunitas. Tapi yang lebih kita tonjolkan itu adalah kegiatan kita yang ingin mengajak masyarakat lebih peduli pada lingkungan, dan ada keinginan untuk melestarikan dan mengimplementasikan kerja bakti dan gotong royong” jelas Bekti pada sesi awal wawancara.

Source: IG Jogja Garuk Sampah

Source: IG Jogja Garuk Sampah

Kelompok yang memulai kegiatannya dari tahun 2014 ini awalnya tidak bernama Jogja Garuk Sampah. Bekti menjelaskan bahwa kegiatan ini awalnya dilakukan bersama teman-teman komunitas sepeda dan berbicara tentang banyak hal yang menyangkut Jogja. Mulai dari isu pembangunan sampai isu sampah. Baru pada tahun 2014 sampah menjadi salah satu masalah yang mereka perhatikan.

Baca Berita Lainnya:  Mahakarya Syailendra, Borobudur yang Megah

Pemrakarsa kegiatan kelompok ini sendiri bernama Willy, seorang mahasiswa yang dulunya berkuliah di salah satu kampus swasta di Jogja. Selanjutnya pada tahun 2015 kelompok ini baru dinamai Garuk Sampah. Sebelumnya kegiatan mereka dinamai resik-resik kota yang kegiatannya terpusat di Nol Kilometer dan Malioboro. Ditahun yang sama JGS mulai membuat poster propaganda yang memprotes pemerintah kota Jogja. Lalu pada tahun 2016 JGS mulai memperhatikan sampah visual yang ada di kota Jogja.

“Dulu kita lebih ke arah protes ke pemerintah yang isinya adalah permintaan untuk penyediaan fasilitas publik. Isinya beragam, mulai dari ‘Ojo waton nyampah’ dan lain-lain”

“Kita pernah anarki juga, kita tempelin poster di depan balaikota yang memprotes pemerintah dan bahkan membuang sampah yang sudah kita kumpulkan di depan Balaikota” lanjut Bekti.

Source: IG Jogja Garuk Sampah

Source: IG Jogja Garuk Sampah

Bekti menjelaskan bahwa Garuk Sampah ini memiliki arti mengambil sampah dalam jumlah banyak.

Baca Berita Lainnya:  Perjalanan Mengarungi Waktu di Museum Sonobudoyo

“Kenapa dipilih nama Garuk Sampah, karena kan masyarakat Jogja akrab dengan kata Garuk atau Garukan, nah kita kemudian memutuskan untuk memberikan nama kelompok ini Garuk Sampah” jelas Bekti.

Jogja Garuk Sampah sendiri melakukan kegiatannya setiap hari Rabu. Dimana pada awal berdirinya kegiatan ini, hari penyelenggaraan kegiatannya acak sampai akhirnya diputuskan hari Rabu sebagai hari utama kegiatan Garuk Sampah.

“Rabu ini akronim dari Rawat Bumi” kata Bekti menjelaskan kenapa kemudian memilih hari Rabu.

JGS dihuni oleh banyak orang dari berbagai macam latar belakang. Banyak sekali mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini. Selain mahasiswa pun masyarakat umum juga terlibat dalam kegiatan JGS.

Baca Berita Lainnya:  Jungkir Balik di Upside Down World

“Musuh terbesar kami adalah mindset orang-orang yang sering menggampangkan permasalahan sampah” kata Bekti ketika ditanya mengenai tantangan terbesar JGS.

Untuk mengecek kegiatan JGS anda bisa mengunjungi website resminya di www.garuksampah.org atau mengecek akun instagram mereka di @Garuksampah.

No Comments

Leave a Reply