Jangan Sakit di Desa Pancur Lingga, Kepri, Soalnya…

Jangan Sakit di Desa Pancur Lingga, Kepri, Soalnya…

ulatgogok
no comments. 70

20170704_142114

Desa Pancur Lingga Kepulauan Riau seakan tak memancarkan lagi pancuran keindahannya, desa-desa permai masih penuh dengan mitos-mitos dan hutan belukar yang dipenuhi monyet-monyet kecil bergelantungan ini seakan mengabarkan ku bahwa seharusnya desa ini harus dapat perhatian dari pemerintah provinsi Kepulauan Riau karena ada satu wanita yang tersiksa hidupnya bertahun-tahun dirumah sendiri bersama Kakak kandungnya karena penyakit diabetes yang diidapnya bertahun-tahun, usianya yang tua dan renta tanpa anak dan suami membuatnya menjalani hidup menjadi perawan tua yang sakit keras di desa Pancur itu, tidak ada pelayanan kesehatan apalagi rumah sakit yang memadai untuk menyembuhkan penyakitnya yang kronis ini, kecuali belas kasihan serta doa dari saudara-saudara yang menjenguknya. Dan wanita itu adalah Mak Wo.

Lebaran tahun ini masih saja menyisakan baunya. Ada satu rumah saudaraku yang belum ku kunjungi di desaku Pancur nan indah ini. Meskipun sekarang bukan lagi waktunya lebaran, aku harap ini belum terlambat Saudaraku itu namanya Aryati, beliau baik sekali, dan masakannya sangat aku rindukan. Sejak kecil aku selalu mengejeknya dengan pelesetan lagu Rinto Harahap.

Aryati

Gula darahmu tinggi sekali,

Aryati,

Sebentar lagi kau akan mati…

Tapi Mak Wo tak pernah marah, meskipun diabetes mellitus membuat kakinya menjadi busuk dan akhirnya harus diamputasi dia selalu menanyakan kabarku. Sekarang usiaku sudah 23 tahun, aku sudah sarjana muda dan akan menjadi mahasiswa pascasarjana pula, bertambah rindulah Mak Wo padaku. padahal beliau adik sepupu dari nenekku. beliau seharusnya kupanggil Nek Cik, atau dalam bahasa indonesianya Nenek Kecik yang berarti nenek kecil. Kata Ibuku Beliau rindu nyanyi-nyanyianku sejak aku berumur 7 tahun yang mengejek penyakitnya itu. Tapi sekarang rasanya aku tak tega menyanyikan itu lagi.

Untuk menuju ke desa pancur dari kota Daik harus melewati jalanan rata sampai jalanan berbatu-batu yang jauh hingga harus menyebrangi sungai dengan pompong kecil barulah sampai kerumah Mak Wo. Itupun jika angin tidak kuat menghempas gelombang. Semisal angin sedang tidak berpihak pada pompong alamat pompong akan terbalik dan tenggelam. Sungguh masih pedesaan yang permai dan sepi dengan teknologi. Aku memang berharap seperti ini saja. Tapi mendengar penderitaan Mak Wo ku yang jauh dari fasilitas kesehatan, aku rasanya ingin membuat jembatan antara Batam ke pulau Lingga agar fasilitas kesehatan dapat mudah tersalurkan.

Mobilku tiba didepan rumah Mak Wo, aku bersama Ayah, Ibu, Paman, Sepupu, Nenek serta ponakan-ponakanku menjadi sorotan-sorotan tetangga yang melihat. Namanya juga Desa, jarang-jarang mobil bisa berkunjung dan parkir disini. Setelah selesai bersalaman dan bertanya kabar, ponakanku mulai sibuk membeli eskrim di toko-toko China, sementara Paman, Ayah dan sepupuku sibuk mencari objek foto. Kegamangan dan kebimbangan hanya ada di wajah nenek dan ibuku, mereka berdua menangisi Mak Wo.

Tubuh Mak Wo membusuk, terkelupas, berdarah dan bernanah. Mak wo telanjang tanpa mengenakan baju. Beliau hanya bersarungkan kain batik duduk didapur ber jam jam tanpa kegiatan apapun. Seluruh tubuhnya, mengeriput. Mak Wo tampak menahan sakit namun tetap tersenyum dan menyalami kami semua walau matanya sudah buta akibat diabetes ini.

Aku tak yakin Mak Wo sadar kehadiranku disitu. Tapi Mak Wo memanggilku berulang-ulang. Aku tak sanggup menjawabnya. Kupegang tangannya meskipun seluruh tubuhnya membusuk karena gula darahnya yang teramat tinggi.

“nyanyi lagi, Nak..” kata Mak Wo

Aku menangis. Tapi tak bersuara. Andai Mak Wo tidak buta, dia akan melihat airmataku mengalir.

Aku berusaha menyanyikan lagu Aryati. Namun kali ini tidak kupelesetkan.

 

Aryati, dikau mawar asuhan rembulan

Aryati, dikau gemilang seri pujaan

Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan

Ujung jarimu kucium mesra tadi malam

tak sanggup aku melanjutkan. Aku pun memulai canda pada Mak Wo ku.

“nanti ya Mak, kubuatkan jembatan dari Batam ke Pancur. Biar bisa berobat dan cepat Mak Wo sembuhnya. Sabar ya Mak Wo…hehehe” kataku mengusap airmata

Aku langsung pergi keruang tamu lalu keluar lagi karena tak tahan melihat wajah Mak Wo. Aku berlari menuju pelabuhan pancur. Ditengah keramaian pelabuhan, aku bertanya pada seorang Ibu-ibu di sebuah toko China disamping jembatan.

Gunung Sepincan tampak dari pelabuhan Pancur

“Bu, rumah sakit tidak ada ya disini? Atau perawat perawat yang biasa mengurusi dan membersihkan luka orang sakit?”tanyaku dengan lembut pada seorang ibu-ibu yang tak ku kenal.

Ketika mendengar pertanyaanku, Ibu itu hanya mengisyaratkan wajah yang marah padaku

“kalau ada dari dulu, suami saya tak meninggal, emak saya selamat, Pak Cik saya sembuh dan hidup!” tukas ibu tersebut, seolah memaksaku untuk turut menyesali betapa tertinggalnya pulau ini.

“maaf ya Bu. Saya hanya numpang bertanya, manalah tau, sekiranya mungkin Ibu tau sebagai warga asli sini….”

“kalau mau berobat, paling jauh pergi ke Rumah Sakit Daik, tapi rumah sakit itupun masih tak bisa diharapkan,  jalanan menuju kesana juga masih bebatuan, bisa-bisa orang mati dijalan.”

            Aku tak meneruskan pertanyaanku, kuakhiri saja dengan senyum. Ibu itu langsung pergi dan meninggalkanku dipelabuhan ini sendiri. Dari jauh aku terkenang, betapa pentingnya rumah sakit disini. Betapa penting anak-anak rantau pulang ke kampungnya untuk memajukan desanya apalagi dibidang kesehatan.

“ya Allah… hanya mukjizat-Mu yang tersisa sekarang. Sembuhkanlah Mak Wo , Ya Allah, ringankan penderitaannya.” Bisikku pada Tuhan.

            Disenja ini, pelabuhan Pancur tampak mengernyitkan pancuran yang tiada bermakna lagi. Entah apa yang kurasakan, desaku cukup ketinggalan dari segi apapun. Aku hanya berharap pintu langit diatas terbuka dan mengaminkan doaku untuk sampai pada Nya. Yang Maha Menyembuhkan.

 

No Comments

Leave a Reply