Hutan Pinus dan Kisah Cintanya

Hutan Pinus dan Kisah Cintanya

ulatgogok
no comments. 48

Boleh jadi hari ini hari tersedih untuk Elvi, hari ulangtahunnya, hari wisudanya namun pacarnya tidak ikut bersamanya saat kami sekeluarga bertamasya ke hutan pinus imogiri yogyakarta Elvi, Kakak kandungku yang menganggap dirinya obat nyamuk diantara kami semua, sementara aku sangat hafal saat-saat PMS nya yang menyebalkan, di hari yang spesial Elvi justru hanya merasa hanya menjadi obat nyamuk diantara kayu-kayu pinus yang tinggi menjadi latar keluarga kami berfoto-foto. ibu berfoto dengan Bapak, aku berfoto dengan pacarku, nenek berfoto dengan cucu kesayangannya sementara Elvi membatu menjadi tukang foto hari itu.

20170908_081339

Cek Kabar: Rawa Pening, The Hill of Love

Latar yang sangat cantik dan dramatis disajikan oleh hutan pinus yang romantis. aku dan pacar ku bergandengan tangan, ibu dan bapak juga berangkulan bahu sembari memandang dan sesekali menunjuk kearah atas menikmati tingginya pohon-pohon pinus, nenekku yang sudah tua juga bermain ayunan bersama cucu terkecil nya melewati pepohonan ini. Elvi berjalan sendiri. membayangkan pacarnya berada bersamanya, berada dalam dekapannya dan segera melamarnya di hutan pinus ini. ada kehangatan yang dia cari dalam fikirannya dan aku bisa dengan mudah membacanya.

“Elvi, fotoin aku lagi ya?” aku meminta Kakakku untuk memotret aku dan pacarku disebuah latar yang sangat cantik bertuliskan Yogyakarta diatas bebatuan-bebatuan kecil. latar itulah yang semakin membuatnya semakin cemburu.

Elvi mendengus dan mengeluh seolah tak bisa menerima kenyataan. setelah wisuda barangkali Elvi akan pulang ke kampung halaman dan takkan pernah ke Yogyakarta lagi, apalagi hutan pinus ini. ikatan dinas beasiswa telah mengikatnya untuk pulang kedaerah. pacarnya, malah tidak datang. sekali lagi, Elvi tak bisa menyembunyikan kesedihan dan keegoisaanya. hari ulangtahunnya, hari wisudanya. hari bahagianya.

20170908_081227

Hutan pinus ini memenjarakan langkahku untuk menyakiti Elvi lebih dalam lagi. aku pun menggantikan posisi nenekku, lalu menjaga ponakanku di ayunan, sementara nenekku duduk sendiri dibawah pohon pinus membuka MP3 dari handphone nya sayup sayup ada suara Bing slamet menyanyikan lagu Terimalah Lagu ku. lagu yang pernah populer tahun 1950an. sesaat nenekku memejamkan mata menikmati lagu lawas itu.

“enak ya Dek, kalau ada yang menyanyikan aku lagu Payung Teduh – Akad, di hutan pinus ini ya?” kata Elvi sayu

“sudah kebelet nikah?” tanyaku

“calonnya tak datang. padahal ini momen yang pas…”

aku tersenyum sedikit, aku tak begitu tertarik membahas harapan dan kerinduan Elvi pada pacarnya. sejenak aku disadarkan oleh Nenek. Nenek yang tengah bersandar di kayu-kayu pinus yang kokoh berdiri dengan lagu Bing Slamet yang didengarnya berulang-ulang. nenek pernah bercerita lagu itu lagu kesukaan almarhum Kakek. menurut cerita nenek masa masa ditahun 1956 Kakek selalu menyanyikan lagu itu dengan gitarnya menggoda nenekku di sebuah ayunan taman. aku bisa merasakan, nenek merindukan Kakek, rindu yang telah terkubur selama 10 tahun yang lalu semenjak Kakek meninggal. rindu yang membakar, rindu yang membara namun apinya selalu beliau sembunyikan dalam dalam. sehingga tak ada satupun orang tau bahwa Nenek terkenang.

aku menelan ludah, lalu aku menepuk bahu Elvi.

“sudahlah Kak, rindumu itu tak ada apa-apanya dengan hutan pinus ini, kau harus tau, semakin tinggi sebuah pohon semakin besar pula angin yang akan datang menghancurkannya. begitu juga hubunganmu dan pacarmu. belum ada apa-apa nya dengan usia pohon pinus yang tinggi ini…”

Elvi tersenyum sumringah, tiba-tiba dari kejuahan pacarnya datang bersama ayah dan ibuku membawa kue ulangtahunnya membuat surprise yang sebenarnya juga tak kuketahui.

20170908_081009

bukan main gembiranya Elvi, bahagia bercampur sedih. boleh jadi hari ini hari paling bahagia untuk Elvi, hari ulangtahunnya, hari wisudanya pacarnya datang tiba-tiba untuk bertamasya ke hutan pinus imogiri yogyakarta bersama keluarga kami.

sementara nenekku masih menikmati kerinduannya sendiri, bersandar dipohon pinus. nenekku pun merasa kakekku juga datang tiba-tiba menghampirinya. Di hutan pinus ini membawakan bunga kecil untuknya.

airmataku menetes.

 

 

No Comments

Leave a Reply