Hujan di Kebun Raya Bogor

Hujan di Kebun Raya Bogor

Rizky
no comments. 184

Pagi ini, langit kota Bogor tampak begitu cerah menyambut kedatanganku dari Yogyakarta yang memang berharap kota ini akan bersahabat kepadaku. Di Stasiun Bogor, aku sudah di tunggu oleh sahabatku bernama Eko. Dia asli Bogor dan seringnya memakai bahasa Sunda yang sulit aku mengerti. Untuk perjalanaku kali ini, aku sudah memintanya untuk berbahasa Indonesia. Perjalanan kali ini aku akan ke Kebun Raya Bogor.

Aku ingin sekali melihat Kebun Raya Bogor yang namanya sudah terkenal itu. Kebun Raya Bogor yang memiliki Luas 87 hektare itu menjadi salah satu kawasan yang sering dikunjungi saat berada di kota Bogor. Konon katanya, Kebun Raya Bogor ini memiliki mitos pemutus cinta tetapi, masih banyak pula yang datang kesini untuk menikmati udara sejuk dan tanaman-tanaman yang membuat takjub mata.

Tanaman Anggrek

Tanaman Anggrek

Dari Stasiun Bogor ke Kebun Raya Bogor tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menitan saja. Eko tampak begitu antusias. Eko sudah beberapa kali mengunjungi kebun raya ini. Dia mengaku tidak pernah bosan, karena suasananya begitu sangat menyenangkan.

“Nanti kita sepedaan ya?” kata Eko.

“Ada sepeda disana?”

“Ada,”

Angan-angan ku sudah pergi jauh ke tempat itu. Dengan sepeda kami akan menikmati 15.000 tanaman yang tersebar di sepanjang Kebun Raya Bogor. Sungguh menakjubkan  memang. Satu hal yang ingin aku lihat disana, adalah istana kepresidenan yang katanya bisa terlihat dari kebun raya.

Kami pun telah sampai di Kebun Raya Bogor. Udara sejuk dan pepohonan yang menjulang tinggi menyapa kami di depan pintu masuk. Matahari yang menyengat seakan tidak diizinkan untuk masuk ke dalam area ini. Suasana yang benar-benar mendukung seseorang untuk datang ke tempat ini di segala suasana hati.

“Pantas kau betah di sini,” kata ku.

“Ya seperti inilah, terlebih lagi kalau saat galau, kesini adalah hal yang paling wajib,” kata Eko.

Kami pun menyewa sepeda untuk berkeliling Kebun Raya Bogor. Rasanya seperti berada di sebuah resort mewah dengan taman yang begitu luas. Menyusuri jalan kebun raya dan sesekali berhenti melihat indahnya bunga-bunga yang tumbuh bermekaran, dan tempat yang cukup bersih.

Entah mengapa ada perasaan tak enak yang kini menghantuiku. Awan mendung yang terlihat tertawa membuatku merasa tak nyaman. Aku berharap ia akan sedikit berbaik hati dengan tidak menurunkan hujan karena, aku tidak membawa pakaian ganti jika nanti benar-benar turun hujan.

Tanaman kaktus

Tanaman kaktus

“Kalau hujan gimana?”

“Hujan-hujan,”

“Sini nggak ada tempat untuk berteduh?”

“Ya, warung makan dekat tempat peminjaman sepeda ini saja,”

Berita buruk yang baru saja aku dengar yang seakan menjadi sebuah bom yang meledak tepat didepanku. Aku hanya bisa berdoa dan berharap hujan tidak akan datang secara mendadak seperti biasanya.

Cek Kabar: The City Of History: Kotagede

Disini juga tersedia jasa angkutan bagi wisatawan yang ingin mengelilingi kebun raya tanpa perlu capek berjalan atau mengayuh sepeda. Ada juga tempat duduk yang bisa digunakan untuk bersantai sejenak.

Awan mendung semakin tertawa kepadaku, dia seakan menghinaku dan mencoba bermain-main dengan angin yang berhembus agak kencang, Hingga akhirnya, hujan pun turun dengan sangat deras. Kami mengayuh sepeda kami mencari tempat berteduh, sayang tidak ada satu pun tempat yang bisa untuk berteduh, hingga kami memutuskan untuk kembali ke tempat awal.

Aku pun basah kuyup, sementara Eko pun juga sudah basah kuyup. Udara dingin mulai menyelinap di balik tubuh kami. Eko sangat terlihat sekali wajahnya pucat pasi. Tubuhnya gemetar kedinginan. Aku pun segera membeli teh panas untuk menghangatkan tubuhnya.

Tetapi, itu tidak mampu membuat tubuhnya hangat, hingga ia terlihat sangat lemas. Akhirnya, aku putuskan untuk mengakhiri perjalananku disini. Mengantar Eko pulang ke rumah yang tidak jauh dari sini. Setidaknya, aku sudah menemukan momen yang pas, foto yang menakjubkan untuk ku bawa pulang ke rumah nanti.

No Comments

Leave a Reply