Gedung Agung yang “Jarang Dikunjungi Wisatawan”

Gedung Agung yang “Jarang Dikunjungi Wisatawan”

woi.id
no comments. 661

            Siapa disini yang tak tahu tentang Istana Kepresidenan yang ada di Yogyakarta? Istana Kepresidenan atau yang disebut juga dengan nama Gedung Agung ini merupakan salah satu situs bersejarah bagi bangsa Indonesia. Seperti yang kamu tahu, gedung ini sampai sekarang masih dipakai oleh Presiden dan jajarannya ketika mereka berkunjung ke Yogyakarta.

            Kali ini kita akan membahas beberapa hal yang mungkin jarang kamu tahu tentang Gedung Agung.

 

GEDUNG AGUNG YANG SEKARANG BUKAN YANG “ASLI”

            Bangunan yang terletak di pusat kota Yogakarta ini memiliki luas lahan 43.585 meter persegi. Tempat Bersejarah ini menghadap ke timur dan berseberangan langsung dengan Museum Benteng Vredeburg. Kenapa Istana Kepresidenan diberi nama Gedung Agung? Hal tersebut karena fungsi gedung ini yakni menerima tamu-tamu agung.

            Sekarang kita akan membahas sejarah dari tiap gedung yang ada di komplek Gedung Agung. Pertama yang kita bahas adalah gedung utama. Gedung utama dalam kompleks ini dibangun pada Mei 1824 dan diprakarsai oleh Anthonie Hendrik Smissaert, Residen Yogyakarta ke-18 yang memerintah pada tahun 1823-1825. Ia menghendaki adanya sebuah istana yang berwibawa bagi residen-residen Belanda. Arsitek yang membangun Gedung Utama ini adalah A Payen yang ditunjuk oleh gubernur-jenderal Hindia Belanda pada masa itu.

Source: google.co.id

Source: google.co.id

 

Gedung Agung 1930an Source: google.co.id

Gedung Agung 1930an
Source: google.co.id

            Selanjutnya pada tahun 1825 pembangunan gedung tersebut tertunda karena perang Diponegoro yang terjadi tahun 1825-1830. Pembangunan akhirnya diteruskan setelah perang dan selesai 2 tahun kemudian yakni pada tahun 1832. Gedung Agung sempat ambruk karena diterjang 2 kali gempa bumi yang terjadi pada 10 Juni 1867. Akhirnya bangunan baru didirikan lagi dan selesai pada tahun 1869. Apakah pembangunan gedung pertama dan kedua sama persis?

            Pada 19 Desember 1927 status administratis Yogyakarta diitingkatkan, dari residen menjadi gubernur. Karena hal tersebut gedung Agung kemudian menjadi kediaman Gubernur Belanda di Yogyakarta sampai masuknya Jepang. Lalu pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi Koochi Zimmukyoku Tyookan, yakni penguasa Jepang di Yogyakarta.

GEDUNG AGUNG SETELAH KEMERDEKAAN.

Semenjak kemerdekaan dan berpindahnya pemerintahan Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta, Gedung Agung menjadi saksi banyak peristiwa bersejarah kenegearaan. Mulai dari pelantikan Jendral Soedirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947 sampai pembentukan kabinet di usia Republik yang masih muda pun terjadi di tempat ini.

Source: google.co.id

Source: google.co.id

            Setelah kemerdekaan Gedung Agung sempat kembali direbut oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 dan para pemangku pemerintahan diasingkan di luar pulau Jawa. Lalu pada 6 Juli 1949 Gedung Agung kembali berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden. Tapi sejak 29 Desember 1949 ketika presiden kembali ke Jakarta, istana ini tak lagi menjadi tempat tinggal sehari-hari Presiden.

Baca Berita Lainnya:  Kiskendo dan Mitos Di Sekitarnya

GEDUNG AGUNG SANG PENERIMA TAMU AGUNG.

            Gedung Agung ini memiliki fungsi lain seperti kebanyakan Istana Negara. Tempat ini memiliki fungsi sebagai kantor dan kediaman resmi presiden RI. Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa nama dari Gedung Agung ini berasal dari salah satu fungsinya sebagai tempat penerimaan Tamu Agung. Beberapa Tamu Agung yang pernah berkunjung ke tempat ini antara lain: Presiden Rejendra Prasad dari India (1958), Raja Bhumibol Adulyadej dari Muangthai (1960), Ratu Elizabeth II dari Inggris (1974), Yang Dipertuan Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam (1984), Sri Paus Paulus Johanner II (1989) hingga Kaisar Akihito dari Jepang (1991).

            Ada lebih dari 65 kepala negara, kepala pemerintahan dan tamu-tamu agung yang pernah berkunjung ke tempat ini atau bahkan menginap di Gedung Agung.

HANYA 2 GEDUNG YANG “BERSEJARAH”.

            Gedung Agung ini memiliki luas 4 hektar dan terdiri dari beberapa bangunan utama. Mulai dari Gedung Agung, 5 wisma, dan Museum Seni Sono. 5 Wisma tersebut bernama Negara, Indraphrasta, Sawojajar, Bumiretawu, dan Saptapratala. Wisma Sawojajar disediakan untuk petugas dan rombongan staf Presiden atau tamu negara. Bumiretawu disediakan untuk ajudan dan dokter pribadi Presiden atau Ajudan dan dokter pribadi tamu Presiden. Saptrapratala disediakan untuk petugas-petugas dan rombongan presiden atau tamu negara.

            Dalam gedung utama ada beberapa ruangan yang perlu kamu ketahui. For your information, gedung ini tak berubah bentuk dari pembangunan terakhirnya setelah gempa pada tahun 1869. Dalam gedung utama terdapat beberapa ruangan. Mulai dari ruang utama yang disebut Ruang Garuda dan memiliki fungsi sebagai ruangan resmi menyambut tamu negara atau tamu agung yang lain. Di dinding ruangan ini tergantung gambar-gambar pahlawan nasional mulai dari Pangeran Diponegoro, R.A Kartini, dan Tengku Cik Di Tiro.

Baca Berita Lainnya:  'Harga' Benteng Vredeburg Lebih Murah Dari Harga Parkirnya

"<yoastmark

"<yoastmark

"<yoastmark

            Di sebelah selatan gedung utama adalah kamar tidur Presiden dan keluarga. Kalau kamu berkunjung kesini, kamu tak akan diberikan akses untuk melewati tempat ini. Satu-satunya akses yang boleh kamu lewati adalah ruangan wakil presiden yang berada di sebalah utara Ruang Garuda.

            Lalu pada sayap kanan Gedung Utama ada ruang Soedirman. Ruang ini dinamai begitu untuk mengenang perjuangan panglima Besar Jenderal Soedirman. Di ruangan ini Jenderal Soedirman memohon diri pada Presiden Soekarno untuk meninggalkan kota dalam rangka memimpin perang gerilya melawan Belanda. Di dalam ruangan ini dipajang patung dan lukisan Jendral Soedirman.

            Lalu pada sayap kiri Gedung Utama ada ruang Diponegoro untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro. Di ruangan ini juga ada lukisan Pangeran Diponegoro.

            Pada bagian belakang Ruang Garuda terdapat Ruang Makan VVIP yang menjadi lokasi jamuan makan bagi tamu negara atau tamu agung. Bersebelahan dengan tempat tersebut ada Ruang Kesenian yang biasa dipakai untuk menggelar pertunjukan seni Tradisional sesuai permintaan Presiden.

              Gedung yang terakhir bergabung di kompleks Gedung ini adalah Gedung Seni Sono. Gedung ini dibangun pada tahun 1915. Sebelum diakuisisi oleh Istana Kepresidenan, Gedung Seni Sono ini adalah jantung kesenian Yogyakarta. Semua kegiatan kesenian di Jogja antara tahun 1970-an sampai 1980-an berpusat di tempat ini. Lalu pada tahun 1995 gedung ini dipugar oleh rezim orba dan dijadikan bagian dari Istana Kepresidenan.

            Fakta menarik dari komplek Gedung Agun ini adalah bahwa dari beberapa Gedung yang ada di kompleks ini hanya ada 2 gedung yang dibangun pada masa Kolonial, yakni gedung utama dan gedung Seni Sono.

            Tahun 2014 Presiden SBY meresmikan museum Istana Kepresidenan Yogyakarta. Museum ini menyimpan banyak koleksi bersejarah, mulai dari lukisan, keramik, patung, sampai cindera mata kepresidenan. Museum ini bisa dikunjungi oleh umum (kalau petugasnya sedang semangat membukakan pintu, kalau tidak, maka simpan jauh-jauh keinginan untuk mengunjungi Museum ini)

Baca Berita Lainnya:  Timlo Solo yang Mengalihkan Perhatian

BANGUNAN TERKENAL YANG JARANG DIKUNJUNGI?

            Hampir semua orang di Jogja tahu tempat ini. Bahkan para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini pun mungkin juga tahu tentang Gedung Agung. Tapi sebuah pertanyaan besar menghinggapi. Kenapa Gedung sebesar dan sebersejarah ini sangat jarang dikunjungi? Apakah kurang populer atau wisatawan terlalu takut berkunjung ke tempat ini karena mengira tempat ini eksklusif hanya untuk Presiden?

            Mungkin tidak dan mungkin juga iya. Tapi saya, ketika berkunjung ke tempat ini memang harus mengumpulkan keberanian karena “takut” jika ditolak berkunjung. Tapi pada kenyataannya gedung ini bebas untuk kamu kunjungi! Bahkan kamu tak perlu membayar sepeser pun untuk mengunjungi gedung ini. Kamu hanya perlu datang, mengisi buku tamu, diperiksa seperti memasuki Istana Presiden, semua harus steril, dan kamu akan bisa menikmati Gedung Agung ini. Kamu akan ditemani oleh ajudan yang akan menjelaskan tentang bagian-bagian gedung. Selain itu kamu juga akan mendapatkan sebuah buku tentang sejarah Istana Kepresidenan.

Gedung Agung (11)

Gedung Agung (14)

            Tapi ada peraturan yang harus kamu taati ketika di tempat ini. Pertama, kamu hanya boleh masuk ruangan yang diizinkan. Kamu tak boleh memasuki ruangan kamar tidur presiden, ruang Garuda, dan beberapa ruangan yang lain. Kedua, kamu tak boleh mengambil foto di bagian dalam gedung. Ini yang mungkin agak membuat kamu tak nyaman. Tapi percayalah, bahwa menikmati tempat ini tanpa mengambil foto adalah kenikmatan tersendiri.

            Jika ingin berkunjung ke tempat ini datanglah di hari Senin sampai Jumat jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Jangan lebih dari jam tersebut. Tapi ingat, karena tempat ini masih digunakan sebagai gedung pemerintahan, maka jika ada suatu hal yang mendadak, maka mungkin di hari-hari itu kamu tak bisa berkunjung.

            Itu tadi sedikit info tentang Gedung Agung. Semoga bermanfaat.

No Comments

Leave a Reply