Dulu namanya “Simpang Benteng”

Dulu namanya “Simpang Benteng”

mdputra25
one comment. 44

JAS MERAH

“jangan sekali-kali melupakan sejarah”

: Bung Karno

Sejarah adalah asal mula terbentuknya apa yang kita nikmati saat ini. Sebagai generasi muda tentunya sangat penting untuk mengetahui sejarah. Tujuannya agar kita tidak semena-mena dalam menata masa depan. Tetap terus menghargai usaha, kerja keras, dan perjuangan orang-orang zaman dahulu yang telah menciptakan sejarah. Kota Jambi juga memiliki sejarah. Tidak serta merta langsung jadi seperti apa yang kita nikmati saat ini.

Apa ada yang tahu dimana letak “Simpang Benteng” di Kota Jambi?

Sebutan “Simpang Benteng” karena dulu ada namanya Benteng Kota Praja “1928” peninggalan zaman penjajahan Belanda. Disekitarnya berjejer pohon-pohon beringin dan di dekatnya ada gudang getah dan masjid. Juga terdapat lapangan besar yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan pada zamannya. Setiap pagi, siang, sore banyak muda mudi melakukan kegiatan senam, bermain bola, bermain layangan, bermain sepeda, dll. Di lapangan ini juga sering berlangsung atraksi sirkus, start awal mula pawai-pawai. Lapangan ini pun juga dikenal dengan sebutan Lapangan Benteng. Saat malam hari suasana disekitar lapangan bernuansa mistis dikarenakan banyak kuburan-kuburan batu. Inilah sekilas bayangan disekitaran simpang benteng pada kisaran tahun 1980-an.

Jadi dimanakah letak “Simpang Benteng” di Kota Jambi?

Benteng Kota Praja “1928” sudah beralih fungsi menjadi menara air di bawah naungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mayang. Pohon-pohon beringin kini hanya ada di beberapa sudut. Gudang getah sudah menjadi Komplek Kotamadya dan Masjid kian berdiri dengan megah yang kita kenal dengan nama Masjid Agung Al-Falah atau sering dijuluki Masjid Seribu Tiang. Sementara itu di Lapangan Benteng dibangun sebuah museum dengan sebuah pesawat di depannya. Museum tersebut bernama Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Simpang pertemuan dari semuanya inilah yang dulu disebut “Simpang Benteng”.

Menara Air

Menara Air PDAM Tirta Mayang

 

Masjid Agung Al-Falah

Masjid Agung Al-Falah – Masjid Seribu Tiang

 

Museum Perjuangan

Museum Perjuangan Rakyat Jambi

Berada di pusat kota, kini Simpang Benteng menjadi jalur utama aktivitas masyarakat Jambi. Dari telanaipura mau ke pasar lewat simpang benteng, dari simpang kawat mau ke pasar lewat simpang benteng, dari sipin mau ke pasar juga lewat simpang benteng, walaupun masih banyak jalur-jalur alternatif lainnya. Banyak yang menyebut Simpang Benteng sekarang menjadi: simpang PDAM, simpang museum, atau juga simpang SD. Sebutan Simpang Benteng sepertinya berakhir di generasi milenium. Anak-anak kelahiran tahun 2000-an sudah merasakan indah dan rapinya penataan ruang di Kota Jambi khususnya diseputar wilayah Simpang Benteng. Akan tetapi setiap generasi seharusnya tahu mengenai sejarah disekitarnya.

Cek Kabar: The City Of History: Kotagede

Tempat itu kini ada dalam ingatan muda mudi pada zamannya. Tidak ada lagi yang bermain bola, bermain layangan, bermain sepeda karena semua sudah berubah menjadi gedung-gedung dan jalan raya. Tidak ada lagi nuansa mistis di malam hari karena seluruh kuburan batu sudah ditata dan lahan-lahan berubah menjadi rumah warga.

Sebutan itu jika tidak terus diceritakan secara turun temurun maka kelak tidak akan ada yang mengingat bahkan tahu apa dan dimana itu Simpang Benteng. Kemudian akan muncul sebutan baru lagi mengikuti perkembangan zamannya. Sejarah tidak lepas dari cerita. Sejarah juga tidak akan ada tanpa rasa ingin tahu yang tinggi. Teknologi zaman dahulu tidak secanggih saat ini. Arsip sejarah bertebaran dimana-mana. Bukti gambar yang nyata tidak semua orang yang punya. Maka kita yang muda bertugas mengumpulkan sejarah agar terus terjaga sampai akhir masa. Meskipun hanya meneruskan cerita dari satu manusia ke manusia lainnya.

Comment (1)

Leave a Reply