Dilarang Mandi di Pemandian Lubuk Papan! Kalau nekat…

Dilarang Mandi di Pemandian Lubuk Papan! Kalau nekat…

ulatgogok
no comments. 409

Aku tak pernah percaya apa yang Ayahku selalu ceritakan tentang orang Bunian yang bermukim di Gunung Daik, apalagi yang berada di Pemandian Lubuk Papan. Bagiku itu terlalu mengada-ada. Zaman sudah tidak mengungguli orang-orang Bunian tersebut untuk hidup. Biar saja mereka hidup di film-film P. Ramlee atau cerita-cerita nenek yang berumur panjang dan hidup hingga sekarang. Ibuku juga begitu, dari aku masih kecil ibu selalu kesurupan. Bahkan kalau ibu bertengkar besar dengan Ayah, ibu tak jarang merajuk lalu tubuhnya dimasuki hantu orang Bunian yang juga benci pada ayahku. Lalu ibuku pun dengan ketidaksadarannya pergi menyendiri ke gunung Daik untungnya orang-orang Bunian yang tinggal di Gunung Daik tidak menculik ibuku ke dunia mereka. Hingga ibuku sampai sekarang masih hidup di dunia manusia. Kononnya begitu.

Pemandian Lubuk Papan

Asri dan Segar

Tapi aku tak percaya.

Lebaran kali ini aku sudah sarjana, aku dibawa keluargaku Pulau Daik yang terletak di selatan Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Dan untuk kesekian kali setelah 5 tahun aku tak pernah mengunjungi pulau ini. Pulau ini sama sekali tak berubah. Gunung Daik bercabang tiga patah satu tinggal dua. Begitulah sampiran pantun pantun orang tua zaman dulu. Spontan sudah imajinasiku bertanya.
“Cabang gunung satunya ke mana, Nek?” tanyaku pada Nenek
“Cabang satunya sudah menjadi pulau Pandan, Nak,” kata nenekku. Sekejap saja kutanya, keluar sudah pantun-pantun lama dari mulutnya.

Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau angsa dua
Hancur Badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua

Gunung Daik bercabang tiga
Cabang yang satu dililit daun
Budi baik dikenang jua
Jadi kenangan beribu tahun

Cek Artikel Menarik Lainnya: Hati-Hati Kepincut Dengan Wanita Saat Berwisata Ke Lima Daerah Ini!

Memang, Gunung Daik itu unik. Aku berharap 20-30 tahun ke depan tidak akan ada pembangunan yang terlalu maju di desaku ini. Alamnya masih sejuk, rimbun, segar, bahkan keberadaannya tidak terdeteksi dengan aplikasi Google Maps secara lengkap. Alam Daik selalu menginspirasi banyaknya lagu-lagu melayu yang diciptakan orang zaman dahulu begitu juga dengan pantunnya. Sayangnya, orang-orang di luar sana tak pernah mengenal pantun secara sempurna ketika aku merantau. Mereka selalu teracuni oleh pantun pantun kilat dan asyiknya ala ala Facebookers. Pantun-pantun melayu dinilai terlalu serius dan rumit. Padahal kerumitan itulah nilai mahalnya. Nenekku selalu bisa berpantun spontan dengan melihat alam sekelilingnya untuk dijadikan sampiran ditambah lagi kalau anak anak cucu menanyakannya tentang jampi-jampi alam.

Pemandian Lubuk Papan

Pemandian Lubuk Papan di Kepulauan Riau

“Nenek ini perempuan melayu terakhir!” kataku

“Sembarangan! Melayu itu diwariskan, Tuah Sakti Hamba Nengeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh, Hilang berganti, Takkan melayu hilang dibumi,” sekali lagi nenekku berpantun.

Kali ini aku menyerah, aku tak mau lagi memancingnya untuk berpantun. Bisa-bisa 24 SKS habis hanya untuk berpantun. Tapi itulah ciri khas orang di sini. Mereka akan selalu berbasa-basi dengan pantun yang nyaris sempurna. Alam selalu jadi inspirasi untuk menjadi karya sastra yang mahal harganya.

“Nek, Yati bosan duduk dirumah terus. Yati nak berenang ke Pemandian Lubuk Papan,” kataku.
“Heh! Jangan sembarang nak mandi-mandi di Pemandian Lubuk Papan. Banyak orang Bunian mandi disana!” tukas Ibuku melarang.

Pemandian Lubuk Papan

Suasana Sunset Lubuk Papan

Bunian lagi. Kenapa Bunian ini seolah olah memaksaku untuk takut mengeksplorasi alam yang indah ini? Lagipula aku tak punya niat jahat. Aku cuma mau berenang saja menyegarkan badan. Air di sana sejuk. Mengalir dari Gunung Daik ke Air Terjun Resun lalu alirannya mengendap ke Pemandian Lubuk Papan.

“ Ya udah, mandi sama sama orang Bunian kan tidak masalah Bu!” kataku.

“Hey, mulut celupah. Kelak nanti kalau ada orang Bunian yang mau sama kau, kau dibawa lari, kau kawin sama orang Bunian, kau mau? Mulut tak dijage… Istighfar 77 kali!” ibuku semakin gusar.

Aku sudah hafal, setelah ini kalau aku terus memaksakan diri, ibuku akan marah besar, maka aku akan mencri celah lain untuk membujuknya. Tapi meskipun otakku berpikir begitu, hatiku tak bisa menurutinya.

“Untuk apa mereka pasang spanduk wisata, Wisata Pemandian Lubuk Papan, toh orang orang juga dilarang mandi disana, Bu?”
Nenek mencubit pahaku, sebagai kode untuk berhenti bertanya dan patuh saja pada Ibu.

Astaghfirullahalazzim, memang anak zaman sekarang. Diberitahu orang tua bukan pernah percaya. Ibu bisa lihat sendiri di sana ada buaya putih besar ditengah tengah lubuk itu. Buaya itu terconggok semacam pulau. Buaya tu jahat. Nauzubillahimindzalik… Janganlah!” ibuku mengusap dadanya.

“Berarti orang bunian itu ada kemasan buayanya ya, Bu?” tanya ku lagi.

Pemandian Lubuk Papan

Indahnya Lubuk Papan

Cek Artikel Seru Lainnya: Ini Foto Lengkap Wajah Bahagia Obama Saat Berwisata Di Jogja!

Nenekku menahan tertawa geli. Ibuku masih marah dan tak mau menegurku. Sementara nenekku membawaku ke kamarnya sambil cekikikan. “Ibumu itu matanya bukan seperti kita, Nak. Kita tak bisa tengok benda-benda itu. Ibu bisa. Sudahlah, tak usah tanya yang aneh-aneh. Ini Daik. Orang Bunian lebih hidup daripada kita!” kata nenekku menasehati.

Aku menguap saja. Aku berharap suatu hari aku bertemu orang Bunian itu. Tapi setiap kali aku mengatakannya nenek dan Ibu selalu terkesan seperti mengucapkan “Amit-amit jabang bayi!

Aku tidak percaya.

No Comments

Leave a Reply