Curug Benowo Memang Indah, Tapi Sayangnya…

Curug Benowo Memang Indah, Tapi Sayangnya…

Rizky
no comments. 242

Senja sore memang selalu menghadirkan sebuah cerita yang berbeda. Tidak hanya sebuah cerita saja, melainkan sebuah maha karya langit yang akan selalu tampak cantik bila dipadukan dengan situasi alam yang romantis, suasana yang tenang, dan suara arus air yang meneduhkan. Aku tak sabar menyambut Curug Benowo yang dikenal dengan rute para petualang.

Jalan setapak menuju curug, dari area parkir

Jalan setapak menuju curug, dari area parkir

Sejak memasuki kawasan wisata, Chandra sudah menunjukkan raut wajah yang tidak menyenangkan. Aku dan Nanang pun hanya bisa berdiam, sembari menerka-nerka apa yang membuatnya tak bersemangat, bukan seperti Chandra yang kami kenal.

Mungkin, karena teguran yang kami dapat sewaktu kami berhenti di area perkebunan, untuk mengambil spot jalan yang berkelok, dengan pemandangan Gunung Ungaran. Padahal, tak jauh dari tempat kami berhenti, ada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan, dibawah pohon besar tempat kami memakirkan mobil. Entah apa yang membuat petugas itu melarang kami. Sedikit kecewa memang, karena spot jalan itu cukup membuat mata kami mengucap syukur atas keindahan alam yang diberikan Tuhan.

“Kenapa Chan?” tanya Nanang.

Chandra hanya terdiam, sembari melihat lingkungan sekitar yang memang sangat asri dan bersih. Hampir tidak ada sampah sedikit pun. Dan, banyak tempat-tempat sampah yang tersedia, kemungkinan adanya sampah yang sembarangan sangat kecil. Pohon-pohon cemara pun seakan menyapa untuk mempersilahkan kami mengambil beberapa foto.

“Tempat ini bersih kan?” tanya ku yang mencoba mencari tahu.

“Iya,” jawabnya singkat.

Bisa dibilang curug ini adalah surga bagi anak-anak muda yang sedang di mabuk cinta. Suasananya yang sejuk, dan juga sepi, mendukung mereka untuk datang ke tempat ini. Duduk berduaan layaknya dunia milik mereka sendiri. Hampir sepanjang jalan, kami menemui pemandangan seperti ini. Mereka seakan tidak malu dengan keberadaan kami. Mereka tetap saja bercanda tawa, berdekatan, dan berpelukan.

Warung-warung yang kosong, seperti memberikan tempat bagi mereka untuk memilih kawasan wisata ini sebagai tempat yang romantis. Apalagi, dengan spot jembatan romatis yang hanya bisa dilalui 15 orang. Aku pun sempat berpikir apa yang ada di pikiran mereka?

Chandra memutuskan untuk pulang, ia sudah tidak tahan rasanya melihat pemandangan yang indah itu dikotori dengan pemadangan yang memang tak seharusnya. Aku mencoba untuk menahannya, tetapi diamnya tetap menyiratkan hal yang sama jika ia tidak ingin melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal 400 meter.

Jarak yang harus ditempuh

Jarak yang harus ditempuh

“Sudahlah, kita hampir sampai, kau tahan sebentar,” kata ku.

“Ini tempat wisata, bukan tempat untuk pacaran, seharusnya mereka bisa berfikir,” kata Chandra yang mulai bernada tinggi.

“Sudahlah, mereka kan juga punya hak untuk menikmati kawasan wisata ini dengan cara mereka,” kata Nanang.

pemandangan batu dan air yang akan menemani sepanjang perjalanan

pemandangan batu dan air yang akan menemani sepanjang perjalanan

“Seharusnya, kita bisa lebih mengeksplore tempat seindah ini, untuk dipromosikan lebih baik lagi, bukan promosi sebagai tempat pacaran, lagipula apa mereka tidak diajarkan tentang agama,” kata Chandra yang mulai mengikuti kami kembali.

 

“Ya, mungkin kita harus mulai memikirkan bagaimana mempromosikan curug ini, karena berbanding terbalik dengan curug yang sudah mempunyai nama, pemandangan seperti ini tidak akan terlihat,” kata ku.

Cek Kabar: Sikunir Mengecewakan, Sunrise Itu Hanya Mimpi Belaka

Rasa lelah memang sangat terasa di tempat ini, apalagi jalanan dilalui dengan tanjakan dan bebatuan yang cukup menguras tenaga. Pantas saja curug ini sepi, karena kebanyakan orang akan memilih tempat yang mudah untuk dijangkau dengan pemadangan yang sama bagusnya pula. Hanya saja pengalaman seperti ini tidak akan terjadi ditempat lain. Seperti halnya sandal Chandra yang menjadi korban yang membuatnya harus meninggalkan sandal terbeut di sebuah pohon yang menjulang yang isinya sandal-sandal yang terlepas akibat medan yang sulit.

Setibanya di Curug Benowo, pemandangan yang kami lihat dibawah tadi tidak ada sama sekali. Mungkin, karena area bebas, dimana semua orang akan dapat melihat dengan seksama. Mungkin pula, medan yang berat jika harus sampai ke Curug Benowo, yang membuat mereka enggan dan memilih warung-warung dibawah itu sebagai tempat yang pas.

No Comments

Leave a Reply