Candi Gedong Songo, Harta Karun di Lereng Gunung

Candi Gedong Songo, Harta Karun di Lereng Gunung

Rizky
no comments. 92

Udara dingin menyapaku dan kedua saudaraku yang hendak berpetualang ke Candi Gedong Songo yang berada di bawah lereng Gunung Ungaran. Dengan ketinggian 1200mdpl dan jalan yang menanjak, membuat perjalanan kali ini terasa begitu menantang. Maklumlah, kedua saudaraku adalah adalah anak mall yang jarang pergi ke alam.

“Serius pakai sandal seperti itu? Nanti kalau lepas gimana?” kataku kepada Isti yang memakai sandal japit harga 10 ribuan yang kemarin baru beli di pasar malam.

“Jangan menghinalah, sandal ini kuat yo, sekuat hatiku diduain mantan,” katanya yang sedikit bercerita.

Beristirahat sejenak

Beristirahat sejenak

Kami pun segera berangkat. Kami nggak ingin kalah sama matahari yang sudah menjelajah ke pelosok Nusantara. Apalagi, siang hari matahari kurang bersahabat karena teriknya yang membuatku pusing dan demam tinggi malam harinya. Terkadang, mereka berdua sering menertawakanku karena penyakit anehku itu.

Tetapi, ke Candi Gedong Songo memang disarankan untuk datang pagi. Pukul 2 siang, biasanya kabut akan turun dan mengganggu pemandangan. Apalagi, yang ingin foto-foto sangat disayangkan. Pemandangan alam di Candi ini cukup membuat mata tak mampu berkedip.

“Serius mau jalan sampai candi ke lima?” Tanyaku yang tampak ragu.

“Iya dong, kami ingin membuktikan kalau kami wonder women,” kata Isti yang seakan tidak terima aku remehkan.

Di kawasan Candi ini, juga menyediakan jasa penyewaan kuda. Para pengunjung yang lelah atau tidak kuat untuk berjalan kaki menyusuri setiap komplek candi yang hanya berjumlah 5 bisa memanfaatkannya. Seperti halnya di Candi Cetho, di sini juga bisa digunakan sebagai rute pendakian Gunung Ungaran yang tingginya 2050 mdpl.

Cek Kabar: The City Of History: Kotagede

Setelah melewati kompleks Candi Gedong Satu, jalanan mulai menanjak. Mereka berdua sempat berkomentar layaknya komentator bola yang rutenya diperpanjang kayak kereta api. Dahulu zaman masa penjajahan, rutenya begitu singkat dan tidak seperti saat ini yang jauh dan harus menanjak melewati warung-warung yang selalu ramah menyapa kami dan menawarkan aneka makanan.

“Masih kuat?” Tanyaku yang sudah jauh sepuluh langkah dari mereka.

Candi gedong IV

Candi gedong IV

Seperti pejuang kemerdekaan, mereka masih gigih berjuang untuk membuktikan bahwa mereka adalah wonder woman. Tetapi, ada satu hal yang membuat aku khawatir adalah sandal Isti yang mulai menunjukkan tanda-tamda tidak baik. Apakah sandal itu sudah melambaikan tangan? Atau dia mencoba berusaha bisa seperti pemiliknya?

Disini, ada juga tempat pemandian belerang yang konon mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ada juga bekas belerang yang sudah tidak ada lagi, dan hanya menyisakan kenang-kenangan manis masa lalu. Sungguh bau belerang yang begitu menyengat.

Akhirnya, kita sampai juga di Komplek Candi Gedong lima yang merupakan puncak dari area Candi Gedong Songo. Dengan muka sombongnya, Isti dan Riris menunjukkan betapa tangguhnya mereka mampu sampai di puncak tertinggi. Setelah ini masalah pun di mulai.

Kawah belerang

Kawah belerang

Jalanan mulai menurun dengan pemandangan layaknya kelok Sembilan yang berada di kawasan Sumatra Barat yang menjadi ikon. Firasatku sudah menunjukkan tanda-tanda yang kurang baik, mengingat sandal Isti yang sedari tadi sudah berusaha sekuat tenaga.

Alhasil, sandal itu pun lepas. Istri pun sempat panik, karena dia tidak mungkin tidak memakai sandal. Sedangkan, jalanan kotor dengan kotoran kuda yang hampir ada di ruas jalan. Isti pun tetap dengan kekuatan wonder womannya melanjutkan perjalanan tanpa mau naik kuda dan tanpa mau memakai sandalku.

Jalanan Candi Gedong Songo yang cukup sempit membuat kami harus minggir sebentar ketika kuda sedang lewat. Disaat Isti sedang melihat seorang cowok naik kuda, disaat itulah tanpa sengaja ia menginjak kotoran kuda yang mungkin masih bisa dibilang baru.

Isti pun menangis dan merengek layaknya anak kecil dan akhirnya dia pun pingsan. Semua orang yang berada di tempat itu pun sempat panik. Salah seorang pemandu pun dengan baik hati membawa Isti dengan kudanya pergi ke pos untuk mendapatkan perawatan. Sedikit kecewa karena pemandangan setelah ini begitu menakjubkan. Tetapi, setidaknya mereka telah menunjukkan tekad yang kuat untuk sampai di kompleks Candi Gedong Lima, dengan balasan pemandangan yang cukup membuat kami  terhindar dari penat rutinitas pekerjaan.

 

No Comments

Leave a Reply