Hati-hati! Ada Buaya di Pelabuhan Pancur, Viennanya Kepulauan Riau

Hati-hati! Ada Buaya di Pelabuhan Pancur, Viennanya Kepulauan Riau

ulatgogok
no comments. 112

IMG-20170705-WA0046

Kalau orang berbangga hati bisa berfoto di dermaga Vienne Eropa. Aku juga bisa sedikit berbangga hati punya kampung mirip Vienne Eropa. Kalau mau singgah dari rumah ke rumah lain, atau sekedar membeli rokok ke kedai depan, cukup kayuhkan sampan lalu menyebrang. Asalkan tak ada buaya yang melipir pasti badan selamat sampai ke kedai. Memang sebegitunya, keselamatan seolah sekedar naluri yang membawanya. Tapi menurutku Dermaga Pancur ini adalah Vienna yang tak terawat. Meskipun indah dari jauh masih jernih terlihat gunung Sepincan dan gunung daik akur berdampingan dan dibawahnya mengalir sungai yang airnya mengalir hingga ke laut yang menghubungkan Daik dan Lingga semakin dekat lewat jalur air. Dermaga Pancur tua yang tak terawat ini menyimpan kenangan moyang-moyangku selama bertahun-tahun.

IMG-20170705-WA0045

Jauh sekali memang dari kenyataan. Papan-papannya sudah rapuh, bau kencing dimana-mana, belum lagi bau solar bahan bakar kapal serta bau gaharu China sembahyang yang turut mendeskripsikan masyarakatnya saat ini, bahkan buaya sudah tidak bebas mampir kesana karena airnya tercampur limbah kapal. Pancur, Lingga Kepulauan Riau    ibarat sebuah dongeng yang masih diingat nenekku kala itu yang merindukan Kakeknya.

“Atok ku, dulu hidup disini pelabuhan Pancur ini…” ujar nenek sambil memandangi langit senja

“Atok? Berarti buyutku dong.” Jawabku

“jauh daripada buyut. Dia itu moyangmu. Dia tinggal di pelabuhan Pancur ini. Kalau dia lapar dia akan mengibas-ngibaskan ekornya dan datang kebawah rumah untuk meminta susu…” kata Nenekku

“Ekor?” tanyaku

Aku sempat heran, apakah moyangku adalah sebangsa alien yang berekor atau memang dikutuk oleh ibu kandungnya seperti malin kundang. Nenek tertawa melihatku lalu melanjutkan ceritanya.

“dulu Kakekku punya kembaran, kakekku manusia, dan satunya lagi…buaya” jawab nenekku polos

“ah buaya? Ah nenek bercanda pasti…” kataku mengelak

“kenapa harus bercanda, nenek masih lihat dengan mata kepala nenek sendiri. Buaya yang diberi nama Sanggang Buang oleh buyutku dulu memang ada. Buaya putih moncongnya kuning. Di dermaga inilah dia dilepaskan.”

“berarti, kita masih saudara-an sama buaya dong, Nek?” tanyaku

“iya, buaya baik.”

“mana ada buaya baik, Nek! Semua buaya makan manusia…buaya itu karnivora!” tukasku mengelak

“tapi Sanggang Buang itu buaya yang baik, dia akan menyelamatkan anak cucunya yang terancam di tengah laut. Dulu ayah Nenek, buyutmu, Alm, Abdurrahman pernah hamper tenggelam ditengah laut sewaktu angin besar melanda perahunya, seketika itu buyutmu menyeru dan memanggil Sanggang Buang. Setelah itu tak berapa lama, datang buaya moncong kuning membantu menyeret perahunya menepi ke daratan menyelamatkan buyutmu yang juga Ayahku itu.” Kenang nenekku.

Cek Kabar: Misteri Air Terjun Berdarah, Air Terjun Resun

“nenek ngarang cerita nih. Mana ada. Nggak mungkin nggak mungkin!”

“terserahlah nak mau percaya atau tidak. Besok kalau kau ikut mancing sama ayahmu dilaut, kalau-kalau kapalmu sempat akan karam, berdoalah pada Tuhan semoga lindungan Nya menyertai lewat keberadaan moyangmu ditengah laut, Sanggang Buang…” kata nenek menasehatiku

“ah, buat apa? Syirik itu nek! Berdoa itu pada Tuhan. Jangan minta sama buaya dong.”

“syirik itu kalau kita minta sama setan. Toh, nenek bilang apa? Buaya juga ciptaan Tuhan. Minta sama Tuhan memang, tapi mungkin semoga saja Sanggang Buang masih hidup dan menolong kita, Nak.”

Aku hanya terdiam, aku bisa membayangkan kalau moyangku adalah makhluk alligator yang ditakuti manusia didunia ini. Tapi masih adakah dizaman ini untuk sekedar percaya pada dongeng-dongeng tua ini. Ya Tuhan, kalau saja aku bisa menyaksikan sendiri, aku takkan menyangsikan lagi.

Gunung Sepincan tampak dari pelabuhan Pancur

Senja sudah tiba, matahari sebentar lagi tenggelam. Toko-toko China ditepian dermaga ini sudah mulai tutup tapi nenekku masih menitikkan airmatanya melihat dermaga ini.

“mungkin Sanggang Buang sudah mati karena limbah kapal ini ya Nak?”

“baguslah nek! Kan bahaya kalau buaya hidup disini, bisa mengancam penduduk-penduduk yang hidup disini. Nenek kenapa tidak mengerti?”

“kamulah yang sebenarnya tidak mengerti, Nak”

entah apa yang ada diperasaan Nenekku, serta merta menuduhku tidak mengerti apa-apa. padahal jelas aku lebih berpendidikan dari Nenek, aku belajar IPA saat SMA, sementara nenek hanya karena perkara rindu pada atoknya yang keberadaan entah ada atau sekedar menakut-nakuti keturunannya saja.

“kamu memang berpendidikan, tapi tidak semua buaya itu jahat, Nak. asal kita tidak mengotori alam, atau mengganggu mereka, selagi itulah mereka pun bisa berbuat baik pada kita.”

aku tertunduk malu, ternyata Nenekku sangat bijaksana. beruntungnya aku bisa menjadi cucumu.

Matahari mulai bersembunyi dibalik gunung sepincan. Dermaga itu sudah hilang cerita indahnya. Bagiku inilah dermaga Vienna yang tak terawat dan bagi nenek dermaga inilah cerita yang belum selesai dengan penantian yang tak kunjung tiba kepada atoknya, Sanggang Buang

No Comments

Leave a Reply