Bius Ampuh Festival Payung Solo

Bius Ampuh Festival Payung Solo

Rizky
no comments. 64

Raut wajah bahagia telah terpancar dari paras kami. Liburan yang dinanti sebentar lagi akan segera tiba. Pengajuan cuti yang disetujui sesuai dengan keinginan membuat kami antusias menatap liburan di kota Solo. Festival Payung Solo yang menjadi alasan kami mengajukan cuti pun sudah menjadi agenda Aku dan Rizal. Tinggal menunggu waktu dan menikmati semuanya.

Rizal mulai menyombongkan diri. Dimana saat kami mengajukan cuti, pekerjaan menumpuk dan berbagai macam agenda meeting pun sudah disiapkan. Kami terbebas dari rutinitas yang menyebalkan dan juga memberi semangat tersendiri. Semua teman-teman mulai menunjukkan sikap iri mereka, maklum saja cuti yang kami terima adalah buah dari hasil kerja keras kami berdua dalam sebuah event besar yang membuat perusahaan untung banyak.

Festival Payung Solo untuk tahun ini adalah gelaran yang ke empat yang diikuti oleh berbagai negara. Hal yang menarik untuk dilihat dan untuk dibanggakan. Jika tiga tahun sebelumnya diadakan di taman balekambang. Tahun ini Festival Payung Solo ini diadakan di Pura mangkunegaran yang berdekatan dengan pasar antik Ngaarsopuro dengan nuansa tempo dulu yang sangat kental bila malam tiba.

Sumber : Travel.kompas.com

Sumber : Travel.kompas.com

Tidak ada pertunujukan dan pergelaran payung saja, festival ini juga akan diisi dengan penampilan para maestro seni yang sudah melenggang di pentas seni nasional maupun internasional. Workshop-workshop tak lupa diadakan untuk memeriahkan acara yang akan diselenggara selama 3 hari.

Festival Payung Solo ini diselenggarakan sebagai upaya untuk menumbuhkan industri kerajinan payung yang mulai lesu. Pemerintah mempunyai harapan besar dengan diadakannya festival ini, industri kreatif berupa kerajinan payung akan kembali bergairah dan menjadi pemasukan tersendiri bagi pemerintah.

Cek Kabar: Karstubing Sedayu: The River Of Adventure

Tahun ini banyak negara yang mencoba untuk mengikuti Festival Payung Solo ini. Disertai dengan payung berbagai daerah yang juga tak boleh dilewatkan sedikit pun. terlebih lagi Pura Mangkunegaran memiliki bangunan yang sarat akan sejarah. Pasti Festival payung kali ini akan meriah dan sukses.

Di depan gapura, kami disambut dengan berbagai macam payung yang sudah berada diudara. Seakan memberikan rasa hormat dan sambutan selamat datang kepada pengunjung yang datang. Payung yang berwarna-warni di sertai dengan aneka macam bambu, membuat suasan disini sungguh sangat berbeda.

Banyak orang yang mengabadikan momen tersebut, hampir setiap payung menjadi spot favorit yang harus rela untuk antri. Apalagi ada payung yang berasala dari Thailand yang cukup unik yang selalu diserbu oleh para pengunjung. Tak kalah payung-payung dari Indonesia pun juga diserbu untuk mengambil momen foto/

Dari sini, sungguh terasa betul keberagaman Indonesia yang tersaji dari Festival Payung Solo. Begitu banyak daerah-derah yang ikut ambil bagian dengan berbagai macam corak yang membuat siapa pun akan bangga menjadi Indonesia.

Sumber : Solo-news.com

Sumber : Solo-news.com

“Kamera tidak lupa kan?” tanya ku kepada Rizal,

“Tenang, aman pokoknya, kita buat mereka semakin iri dan semakin emosi dengan foto-foto kita disini,” kata Rizal yang memang ingin balas dendam.

“Mana kameranya?” tanya ku yang ingin berfoto di payung yang berasal dari jepang.

Rizal pun mencari kameranya di dalam tas. Ia mencari cukup lama hingga wajahnya mulai menunjukkan rasa gelisah. Hampir 30 menit ia mencari-cari kameranya di dalam tas. Tetap juga tidak ada.

“Kameranya nggak ada,” kata Rizal.

“Dimana?” tanyaku.

“Apa mungkin tertinggal?” kata Rizal yang mencoba mengingat.

“Handphone juga lobet,”

Kami pun bergegas pergi ke stasiun untuk menanyakan keberadaan kamera kami yang mungkin tertinggal di dalam kereta. Tetapi, pihak stasiun tidak menemukannya. Rizal mencoba untuk mengambil nafas panjang dan menenangkan dirinya. Mungkinkah kamera mahalnya itu hilang atau memang lupa dibawa.

Agar tidak larut dalam kesedihan, kami pun kembali menikmati festival payung yang sungguh menkajubkan. Merekamnya dalam memori kami, dan siap-siap untuk menanggung malu yang luar biasa kepada teman-teman sepulang kerja. Tetapi, keindahan Festival payung ini cukup membuat kami lupa jika kami datang tanpa membawa senjata wajib kami berupa kamera.

No Comments

Leave a Reply