Belajar Sejarah di Sam Poo Kong

Belajar Sejarah di Sam Poo Kong

TriPuspitasari
no comments. 45

Perjalanan Jogja-Semarang cukup jauh dan memakan waktu memang. Ya, kurang lebih empat jam, lah. Rugi banget kalau cuma bisa main di satu objek wisata saja. Maka di sinilah kelanjutan trip kami. Sam Poo Kong atau yang biasa dikenal dengan sebutan Gedong Batu jadi destinasi kedua muda-mudi karang taruna dusun saya.

 

Setelah berwisata candi yang menurut saya lebih ke alam (hahaha), saatnya kami berwisata sejarah. Kalau sebelumnya di Candi Gedong Songo jalannya nanjak-nanjak nggak santé, kali ini jalannya datar-datar saja dan lokasi nggak begitu luas (bila dibandingkan dengan Candi Gedong Songo). Jadi di sini ibaratkan bisa buat beristirahat sembari memandangi pemandangan yang didominasi warna merah. Kalau saya, sambil lihatin orang-orang yang antusias foto dengan berbagai gaya (haha, yakin deh nanti yang di-upload cuma satu, tapi kok fotonya berkali-kali).

 

Tapi coba saat piknik jangan hanya foto-foto dan punya cerita kalau sudah sampai di suatu tempat saja! Jangan-jangan sudah sampai tempat itu, punya foto bagus, diposting di instagram dengan caption keren, tapi sama sekali nggak tahu-menahu tentang sejarah objek wisata tersebut. Cobalah untuk mempelajari sejarah tempat itu. Sudahkah kamu tahu tentang sejarah Sam Poo Kong?

 

Objek wisata yang beralamat lengkap di Sam Poo Kong, Bongsari, Semarang Barta, Kota Semarang ini merupakan bekas tempat pendaratan dan persinggahan laksamana asal Tiongkok. Adapun laksamana tersebut beragama Islam. Diketahu beragama Islam karena dalam peninggalan bekas petilasan tersebut ditemukan tulisan berbunyi, “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Quran,”.

 

Adalah Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang saat itu tengah berlayar melewati Laut Jawa. Namun, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit sehingga membuatnya harus membuang banyak sauh hingga akhirnya melakukan pendaratan. Mendaratkah mereka di pantai utara Semarang dan mendirikan masjid yang saat ini dikenal dengan Klenteng Sam Poo Kong. Yap, meskipun seorang laksamana dari Tiongkok, Laksamana Cheng Ho menganut agama Islam. Dan melalui pendaratan ini beliau mengajarkan toleransi antar umat beragama.

Di belakang saya ini patung Laksamana Cheng Ho

Di belakang saya ini patung Laksamana Cheng Ho

Sam Poo Kong yang kita kenal saat ini tentu sangat berbeda dengan Sam Poo Kong sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, telah terjadi banyak perubahan. Akhirnya, Sam Poo Kong yang seperti sekaranglah yang kita kenal, alias nggak terkesan seperti sebuah masjid. Oh ya, di Sam Poo Kong juga terdapat masjid khusus untuk wisatawan. Menurut saya masjidnya cukup bersih dan nyaman untuk beribadah, meski harus bersabar dengan antriannya, hehe.

Cek Kabar: Karstubing Sedayu: The River Of Adventure

Banyak lampion menghiasi area Sam Poo Kong. Rasanya seperti berada di China. Akhirnya saya pun mengambil kamera dalam saku.

Berasa di China

Berasa di China

Dan bagi kami sendiri, tempat ini jadi rest area pasca lelah memutari Gedong Songo, hehe. Jadilah di sini kami lebih banyak duduk dan beristirahat. Untungnya ada bangunan klenteng yang bebas digunakan wisatawan untuk selonjoran di lantai.

Kami yang mukanya sudah lelah

Kami yang mukanya sudah lelah

Oh ya, saat sampai di sini saya juga dapat tamu spesial. Saya memiliki adik angkatan kuliah yang tinggal di Semarang, Heny namanya. Saat tahu saya sedang piknik di Semarang, dia pun menyempatkan diri untuk mengunjungi saya di Sam Poo Kong. Berhubung sudah ketemu, kami pun berkeliling dan berfoto bersama.

Disamperin adik angkatan

Disamperin adik angkatan

Oh ya, For Your Information, Klenteng Sam Poo Kong ini rutin mengadakan perayaan setiap tahunnya, salah satunya adalah peringatan kedatangan Laksamana  Cheng Ho yang biasanya dilaksanakan antara Bulan Juli-Agustus. So, buat kamu menginginkan pengalaman lebih, datanglah di bulan tersebut.

 

No Comments

Leave a Reply