Alun Alun Malang, Dulu Memprihatinkan, Sekarang Malah Lebih…

Alun Alun Malang, Dulu Memprihatinkan, Sekarang Malah Lebih…

M
no comments. 74

Entah kenapa aku merasa dari tahun ke tahun semakin sedikit saja orang yang pulang kampung atau silaturahim antar tetangga kala Idul Fitri tiba? Apakah karena kemudahan teknologi yang membuat kita bisa berkomunikasi kapanpun dan di manapun sehingga membuat kita merasa tidak terlalu perlu untuk benar-benar menghadirkan diri di kampung halaman dan bercengkrama dengan keluarga? Ataukah karena memang banyak keperluan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan demi beranjangsana dengan handai tolan dan sanak family? Entahlah.

Apalah arti pulang kampung kalau hanya berdiam diri di rumah? Itu yang terbersit di pikiranku. Ya sudah, daripada mendekam di rumah tanpa aktivitas yang berarti karena tak ada tetangga yang menyambangi, aku keluarkan saja motorku dari garasi dan melajukannya ke pusat kota Malang—meski aku masih belum tahu ke mana aku harus melaju. Yang penting tidak berdiam di rumah saja dan membatu.

Harus aku akui, tidak banyak tempat wisata yang bisa dijelajahi jika kita bertandang ke kota Malang, kebanyakan warga Malang sendiri jika ingin piknik akan memilih wisata alam ke daerah Kabupaten Malang atau mentok-mentok ke Kota Batu. Kota Malang sendiri sudah merangkak menjadi kota “mini” Metropolitan dengan gedung-gedung modern yang mulai berkecambah macam puluhan café, restoran, hotel, warnet, hingga swalayan waralaba yang berjumlah ratusan itu. Meski demikian masih ada juga bangunan-bangunan tua peninggalan era kolonial yang masih bisa dinikmati kemegahan seni arsitekturnya macam gereja tua dan rumah-rumah penduduk di daerah jalan Ijen, gedung balai kota Malang yang ditingkahi tugu bertaman warna-warni, hingga stasiun Kota Baru yang masih tampak klasik.

Alun Alun Merdeka Malang

Alun Alun Merdeka Malang

Karena waktu ashar sudah menjelang, aku yang kebetulan dekat dengan pusat perkotaan itu memutuskan untuk mampir sholat di Masjid Agung Jami’ yang terletak di Jalan Merdeka Malang. Masjid ini selalu menjadi tempat favoritku untuk “mengasingkan” diri. Arsitekturnya yang tampak sederhana dari luar tapi klasik dan sejuk di dalam itu selalu menjadi destinasi wajibku setiap kali aku pulang kampung. Selepas “menghadap Yang Kuasa”, aku berdiam diri sejenak di teras masjid sembari menikmati suasana alun-alun Merdeka yang terbentang dengan jumawa di depan masjid.

Aku ingat banyak sekali kenangan yang bisa aku tuai dari taman kota ini. Semasa kecil aku sering diajak ibu berjalan-jalan di tempat ini sekedar menikmati suasana taman yang “agak” menenangkan di tengah hingar-bingarnya lalu lintas kota, meski kami tidak bisa benar-benar menikmati ketenangan taman karena bejibunnya pedagang asongan bergentayangan kala itu. Di tempat ini pulalah aku pernah mengungkapkan perasaanku ke seorang gadis beberapa puluh tahun lampau. Di tempat ini pulalah aku menandai tumbuhnya Kota Malang dari kota kecil nan sejuk menjadi kota yang semakin modern dan panas karena beranak-pinaknya gedung-gedung baru di kota yang terkenal dengan apel hijaunya ini.

Aku juga ingat sekali kalau tempat ini dulunya terkenal kumuh dan agak sumpek akibat begitu banyaknya pedagang asongan dan warung kaki lima “mewarnai” tempat ini. Alih-alih menikmati hijaunya rerumputan dan warna-warninya bunga, kami disodori “rerumputan” sampah dan “bunga-bunga” mainan, makanan ringan, dan perkakas dapur dan dijajakan para pedagang asongan di sini. Taman ini lebih layak untuk disebut dengan taman manusia ketimbang taman kota apalagi taman bunga.

Alun Alun Malang yang sudah bersih dari pedagang asongan

Alun Alun Malang yang sudah bersih dari pedagang asongan

Tapi sebelum mantan walikota Peni Suparto menyerahkan tampuk kepemimpinannya pada walikota Malang saat ini, Mochamad Anton (Abah Anton) beberapa tahun lalu, beliau merombak besar-besaran taman kota ini menjadi taman kota dengan sebenar-benarnya taman kota. Setelah merelokasi para pedagang yang biasa menjajakan dagangan mereka di sana (yang aku sendiri tidak tahu direlokasi ke mana) dan memberikan peraturan larangan bagi pedagang apapun untuk berjualan di area taman tersebut, renovasi dilakukan secara besar-besaran. Sampah-sampah dibersihkan dan sudut-sudut kumuh di alun-alun Merdeka Malang ini disulap menjadi taman yang indah. Taman yang memiliki definisi sebenar-benarnya taman.

Anak-anak memperhatikan tingkah polah burung merpati yang bermain air di kolam

Anak-anak memperhatikan tingkah polah burung merpati yang bermain air di kolam

Pasca renovasi, tempat ini benar-benar layak untuk dijadikan persinggahan di tengah hingar-bingarnya lalu lintas kota Malang yang semakin padat. Pepohonan yang beragam na sejuk, kursi-kursi taman yang bertebaran di beberapa sudut taman, air mancur yang dimainkan di jam-jam tertentu, taman bermain untuk anak-anak, alat olahraga gratis, spot bermain papan seluncur, hingga spot untuk selfie adalah beberapa yang ditawarkan oleh Alun Alun Merdeka Malang ini.

Mungkin karena benar-benar kembali menemukan definisi sejatinya itulah yang kemudian memikatku dari teras masjid Jami’ untuk menghampiri Alun Alun Merdeka ini untuk aku jelajahi. Seperti laiknya Alun Alun di Indonesia pada umumnya, Alun Alun Merdeka ini dikelilingi tiga area (gedung) tertentu: gedung pusat perbelanjaan, pusat pemerintahan, dan pusat kegiatan keagamaan. Untuk pusat perbelanjaan sendiri, sekurang-kurangnya ada lima mal yang berada di sekitar tempat ini: Sarinah Plaza, Ramayana, Mitra, Gajahmada, hingga Malang Plaza! Berbeda dengan kota-kota lain yang pada umumnya memiliki mal yang tersebar di beberapa sudut kota, di kota yang terletak di selatan Surabaya ini, sebagian besar mal-malnya terpusat di tengah kota. Walau memang ada juga mal yang terletak agak jauh dari pusat perkotaan seperti Mall Olympic Garden (MOG) yang terletak di dekat stadion Gajayana Malang, Malang Town Square (Matos) di Jalan Veteran, hingga Dieng Plaza yang terletak di daerah Jl Raya Langsep.

kereta hias yang siap mengantarkan pengunjung berkeliling sekitar alun-alun

kereta hias yang siap mengantarkan pengunjung berkeliling sekitar alun-alun

Tak hanya kerumunan mal yang melingkari Alun Alun Merdeka Malang ini, kantor pemerintahannya pun agak “ganjil”. Alih-alih kantor pemerintahan Kota Malang yang ada di sini, kantor pemerintahan Kabupaten lah yang berdiri dengan tegapnya di timur taman kota ini. Meski baru beberapa tahun belakangan ini kantor pemerintahan Kabupatan Malang akhirnya dipindah ke daerah Kepanjen, Kabupaten Malang.

Selanjutnya yang tak kalah “unik” adalah letak pusat kegiatan keagamaannya, Masjid Jami’ Agung Kota Malang terletak berdekatan dengan Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel. Kedua tempat ibadah beda keyakinan ini hanya dipisahkan oleh sebuah gedung—kalau tidak salah gedung milik lembaga asuransi. Meski terletak berdekatan selayak swalayan Ind***ret dan Alf***rt itu, kedua tempat ibadah ini mampu hidup berdampingan dengan damai tanpa ada pertikaian sedikitpun. Tidak seperti kehidupan umat beragama di Indonesia saat ini yang tengah dirongrong oleh pertikaian yang semakin tajam. Agaknya kita perlu berkaca dari dua tempat peribadatan yang pernah dijadikan alm. Gus Dur untuk menjadi teladan bagi umat beragama di Indonesia ini tentang bagaimana sepatutnya memahami kemanusiaan di tengah perbedaan keyakinan.

Masjid Jami' Malang yang berdampingan dengan GPIB Immanuel (tertutup pepohonan)

Masjid Jami’ Malang yang berdampingan dengan GPIB Immanuel (tertutup pepohonan)

Mungkin karena “kegilaan-kegilaan” inilah yang membuat lambang grup sepak bola kota ini tidak cukup sekedar hewan “konvensional”, hewan itu sendiri haruslah “dibuat” gila juga. Tidak cukup hanya singa, singanya harus dibuat gila. Jadilah lambang kebanggaan kota Malang: Singo Edan (singa gila).

 

No Comments

Leave a Reply