Abdi Dalem Tak Hanya Sebatas Profesi, Tapi Pilihan Hidup

Abdi Dalem Tak Hanya Sebatas Profesi, Tapi Pilihan Hidup

Indonesia Jernih
no comments. 364

Jika mendengar judul tersebut anda pasti berpikir bahwa semua pekerjaan membutuhkan dedikasi tinggi. Tapi jika anda berniat menjadi Abdi Dalem, apakah anda akan siap menjadi bagian dari Abdi Dalem dan menjalani semua kewajibannya?

            Abdi Dalem merupakan sebuah profesi yang mungkin saat ini sangat jauh dari pikiran anak-anak muda untuk memilih menjatuhkan karir di tempat ini. Mungkin kebanyakan orang akan menganggap bahwa menjadi Abdi Dalem tidak akan bisa hidup nyaman karena gaji yang di dapatkan hanya sedikit. Hal itu yang membuat saya tergerak untuk datang ke salah satu tempat bersejarah di Jogja yang dipelihara oleh beberapa Abdi Dalem untuk tahu bagaimana sebenarnya kehidupan sebagai Abdi Dalem. Kenapa mereka memilih menjadi Abdi Dalem, dan hal lain yang patut diungkap untuk membuat banyak orang tahu apa, kenapa, bagaimana, dan siapa Abdi Dalem itu.

            Siang yang terik setelah sholat Dhuhur saya sampai di Komplek Makam Raja-Raja Mataram Kuno yang berada di Kotagede. Setelah bertanya pada beberapa orang yang ada di dekat tempat parkir mengenai “kantor” para Abdi Dalem penjaga makam, saya bergegas menuju tempat itu. Kantor yang tak nampak seperti pemahaman kantor secara umum itu terletak tepat di depan pintu gerbang masuk ke dalam makam. Di sana beberapa Abdi dengan perawakan paruh baya sedang duduk di salah satu “balai” di depan gerbang makam. Dengan sapaan yang hangat saya mencoba mendekati 3 orang untuk meminta waktu salah satu dari mereka untuk wawancara. Ketiga lelaki itu menyapa dengan sangat ramah dan setelah bertanya saya dari mana dan ada perlu apa, dengan sigap salah satu dari mereka segera mempersilahkan saya untuk mewawancarainya.

Credits: Good News From Indonesia

Credits: Good News From Indonesia

            Pak Slamet namanya, lelaki yang sudah lebih dari 19 tahun mengabdi kepada Kraton ini lah yang kemudian menjadi “objek” wawancara saya untuk tahu seluk beluk kehidupan Abdi Dalem. Ia lalu memperkenalkan namanya dan juga nama pemberian dari Kraton yakni Raden Tumenggung Pujodipuro. Ketika ditanya kenapa memilih profesi sebagai Abdi Dalem, lelaki 56 tahun itu mengatakan bahwa ia merasa terpanggil untuk menjadi “pelayan” di Kraton karena saat ini, katanya, masyarakat sudah kurang peduli pada warisan budaya.

Baca Berita Lainnya:  Lembah Ramma, Liburan Kelas Eropa di Pojok Sulawesi

            Lelaki yang ayahnya juga merupakan seorang Abdi Dalem ini mengatakan bahwa Abdi Dalem di Komplek Makam Raja-Raja Mataram Kuno ini memiliki beberapa tugas inti yakni merawat makam, menjaga makam, dan mendoakan.

            “Setiap Senin, Kamis, dan Jumat selalu ada tahlil sebelum Makam dibuka untuk umum, Mas” katanya menjelaskan.

            Pak Slamet lalu melanjutkan ceritanya tentang syarat-syarat menjadi Abdi Dalem. Dalam ceritanya Pak Slamet mengatakan bahwa dalam pekerjaannya ada semacam sistem “magang” dimana anda harus mendaftar terlebih dahulu ke Kraton. Jika kemudian pendaftaran anda diterima, maka anda tidak akan langsung diterima, tapi anda akan “magang” terlebih dahulu sebelum nantinya mendapatkan pangkat Jajar Sepuh, atau pangkat setelah “magang”.

Credits: Inovasee

Credits: Inovasee

            “Jumlah Abdi Dalem di komplek makam ini tetap sama mas, dari Kraton Solo akan terus ada 20 orang, tidak kurang tidak lebih, dan Jogja ada 34 orang, tidak lebih tidak kurang” katanya menjelaskan soal berapa banyak orang yang bekerja di komplek Makam tersebut.

Baca Berita Lainnya:  Jatim Park 1 yang Super Lengkap

Menurut Pak Slamet, tidak ada istilah pensiun dalam dunia yang digelutinya ini. Siapapun yang dirasa usianya terlalu tua untuk mengabdi, maka oleh “atasannya” akan diistirahatkan.

Ada beberapa pangkat dalam Abdi Dalem. Menurut penjelasan pak Slamet dalam Kraton Solo ada beberapa jabatan, mulai dari yang paling rendah yakni Jajar Sepuh, lalu Lurah Nom, berlanjut ke Lurah Sepuh, Mantri, Bupati Anom, KRT, dan Bupati Sentono.

“Untuk Bupati Sentono itu hanya boleh keturunan Raja yang menjadi Bupati Sentono. Yang tidak punya darah raja tidak bisa menjadi Bupati Sentono” katanya menjelaskan.

Ketika memilih pekerjaan ini anda pasti berpikir, berapa gajinya? Pasti kecil kan? Banyak cerita yang mengatakan kalau gaji Abdi Dalem itu kecil! Berdasarkan penjelasan Pak Slamet, para Abdi Dalem tidak menyebut uang yang diberikan kepada mereka sebagai gaji. Tapi Belonjo atau Kucah.

“Paling 10 ribu, macem-macem. Tapi buat saya bukan nominal yang dicari ketika saya menjadi Abdi Dalem tapi ketenangan”

“Kalau mau jadi Abdi Dalem itu harus ikhlas mas. Kita tidak memikirkan berapa banyak uang yang akan kita dapat, apakah bisa hidup dengan uang segitu. Karena kita sebenarnya mengabdi. Kan kita ini Abdi Dalem” lanjutnya.

“Dan untuk Ikhlas itu susah mas” katanya melengkapi.

Baca Berita Lainnya:  Blue Lake, Telaga Biru Semin Yang Bikin Kamu Takjub

Meskipun selama 4 tahun belakangan mereka mendapatkan uang tambahan dari Danais sebesar 300 ribu perbulan, Pak Slamet tetap tidak mengeluh dengan pilihannya tersebut.

“Nggak pernah ngeluh mas, kan saya yang milih” katanya sambil tersenyum.

Baginya menjadi Abdi Dalem membuatnya lebih nyaman dan tenang. Ia sama sekali tak khawatir apakah akan mampu membiayai hidupnya dengan istri dan 2 anaknya. Pak Slamet tak pernah merasa menjadi Budak. Ia justru bangga karena tak semua orang bisa menjadi atau bahkan mau memilih jalan hidup seperti dia. Katanya sebagian besar orang yang mendaftar itu berumur 40-45 tahun. Itu Artinya membutuhkan sebuah “kedewasaan” dalam hati dan pikiran ketika memilih untuk menjadi Abdi Dalem.

Memang hampir semua Abdi Dalem selalu memiliki penghasilan sampingan. Tapi pekerjaan utama mereka adalah Abdi Dalem. Pak Slamet bahkan bercerita bahwa ada temannya yang punya anak 7 dan semua anaknya lulus Sarjana padahal sang Ayah hanya bekerja sebagai petani yang menggarap lahan orang selain bekerja sebagai Abdi Dalem.

“Nggak bisa dilogika mas yang kayak gitu” katanya.

Sesi wawancara yang menginspirasi itu pun berakhir. Sebelum pamit, Pak Slamet memberikan pesan pada masyarakat bahwa mereka harus ikut menjaga dan melestarikan sekecil apapun kebudayaan nenek moyang.

“Kalau orang berbudaya itu pasti baik” Katanya tepat sebelum kami mengakhiri sesi wawancara tersebut.

Menjadi Abdi Dalem bukan hanya sebatas “profesi” dan tak bisa dihitung dengan nominal. Dibutuhkan dedikasi tinggi, keikhlasan, dan kedewasaan untuk berani memilih jalan hidup sebagai seorang Abdi Dalem.

Semoga menginspirasi.

No Comments

Leave a Reply